Siswa Dilecehkan Guru Gorontalo
Kronologi Lengkap 4 Siswa di Gorontalo Diduga Dilecehkan Wakasek
Kasus dugaan pelecehan terhadap empat siswi di salah satu sekolah di Kabupaten Gorontalo mulai.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-Pelecehan-vnb.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Kasus dugaan pelecehan terhadap empat siswi di salah satu sekolah di Kabupaten Gorontalo mulai.
Dugaan kasus ini terkuak setelah dua orang tua murid melaporkan kejadian tersebut ke Polda Gorontalo pada Minggu, 30 November 2025.
Berdasarkan keterangan para orang tua, peristiwa yang diduga melibatkan oknum Wakil Kepala Sekolah itu telah berlangsung sejak Juni 2025.
Dugaan pelecehan tersebut terjadi di ruang laboratorium saat jam istirahat.
Baca juga: 122 Honorer Kota Gorontalo Belum Terakomodir PPPK, Adhan Dambea Lapor ke Kepala BKN
Para siswi berada di ruangan itu karena tidak memungkinkan untuk mengikuti salat berjamaah di masjid sekolah.
Saat itu, para korban diketahui tengah berbaring sambil menggunakan telepon genggam dan mencari informasi di internet sebelum oknum guru tersebut datang ke ruangan.
Menurut keterangan orang tua korban berinisial P, kasus ini pertama kali terungkap setelah anaknya tiba-tiba meminta izin untuk bertemu dengan seorang teman.
Kecurigaan muncul ketika P terus menanyakan alasan di balik permintaan tersebut.
Dari situlah anaknya akhirnya mengaku bahwa temannya mengalami pelecehan, dan ia sendiri juga menjadi korban.
Hal serupa dialami korban lainnya. Orang tua berinisial L mengungkapkan bahwa anaknya tidak langsung bercerita kepada orang tua, melainkan lebih dulu menyampaikan kepada kakaknya.
Dari keterangan anaknya, tindakan yang dialami bukan hanya terjadi sekali, melainkan berulang hingga tiga kali.
Hal inilah yang mendorong orang tua untuk mencari kejelasan dan melaporkannya ke pihak berwenang.
Baca juga: Bupati Bone Bolango Gorontalo Cari Solusi Atasi Tambang Ilegal, 11 Blok WPR Segera Dapat Izin
Seiring berjalannya waktu, jumlah korban yang teridentifikasi bertambah menjadi empat orang.
Dua di antaranya merupakan anak dari P dan L, sementara dua siswi lainnya belum berani melapor secara resmi karena ketakutan dan rasa malu.
P pun menduga masih ada korban lain yang memilih untuk diam.