Human Interest Story
Penghasilan Sopir Bentor Gorontalo Hanya Rp30–60 Ribu, Padahal Mangkal sejak Subuh hingga Malam
Keramaian Pasar Mingguan Andalas di Kota Gorontalo pada Jumat (29/11/2025) rupanya tidak berbanding lurus dengan meningkatnya pendapatan
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KELUH-BENTOR-GORONTALO-Potret-Bentor-di-Pasar-Mingguan-Andalas.jpg)
Ia mengaku lelah hampir setiap hari, namun tetap bekerja demi keluarga.
“Kadang lelah, tapi lihat penumpang senang, hati ikut lega,” ucapnya.
Ia juga berharap pemerintah memberi perhatian pada nasib sopir bentor konvensional yang makin terpinggirkan oleh layanan transportasi online.
“Kami ingin regulasi yang bisa membuat kami tetap aman bekerja dan dapat penghasilan layak. Jangan sampai kami hanya jadi alat transportasi murah tapi tidak dihargai,” harapnya.
Sementara itu, dua pengemudi lain, Aldi Abas dan Fikran Adam, menyampaikan kondisi serupa.
Meski bentor memadati area pasar, pendapatan mereka tidak ikut meningkat.
Aldi mengatakan Pasar Andalas memang selalu ramai, tetapi banyak pembeli memilih datang dengan kendaraan pribadi atau memesan jasa transportasi online.
“Pasar ramai, tapi tidak dengan kantong kami para sopir bentor,” ujarnya.
Ia menyebut sejak pagi buta hingga siang pasar tetap padat, tetapi penumpang yang mereka layani hanya pelanggan tetap yang sudah memesan dari rumah.
“Banyak yang pilih bentor online dan kendaraan sendiri, jadi kami harus bersaing,” katanya.
Fikran Adam menuturkan penurunan pendapatan sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
“Sudah beberapa tahun begini. Pendapatan menurun, bukan hanya saya tapi teman-teman lain juga sama,” tegasnya.
Menurut Fikran, para sopir juga kesulitan beralih pekerjaan karena tidak memiliki ijazah.
Mereka juga tak bisa mendaftar sebagai pengemudi bentor online sebab surat-surat kendaraan tidak lengkap.
Hingga kini, mereka mengaku belum melihat adanya langkah konkret dari pemerintah untuk membantu bentor konvensional.
“Tidak tahu harus mengadu ke siapa. Belum ada langkah nyata untuk kami,” ujarnya.
(*/ Jefri)