Human Interest Story
Penghasilan Sopir Bentor Gorontalo Hanya Rp30–60 Ribu, Padahal Mangkal sejak Subuh hingga Malam
Keramaian Pasar Mingguan Andalas di Kota Gorontalo pada Jumat (29/11/2025) rupanya tidak berbanding lurus dengan meningkatnya pendapatan
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KELUH-BENTOR-GORONTALO-Potret-Bentor-di-Pasar-Mingguan-Andalas.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Keramaian Pasar Mingguan Andalas di Kota Gorontalo pada Jumat (29/11/2025) rupanya tidak berbanding lurus dengan meningkatnya pendapatan para pengendara becak motor (bentor).
Pantauan TribunGorontalo.com, sejak pagi arus bentor tampak silih berganti menurunkan penumpang yang membawa tas belanja dan keranjang plastik.
Namun, para sopir mengaku kondisi ekonomi mereka tetap stagnan meski aktivitas pasar lebih padat dari hari biasa.
Hamza Mooduto (50), pengendara bentor yang ditemui saat beristirahat, mengungkapkan pendapatannya masih berada di kisaran Rp30 ribu hingga Rp60 ribu per hari.
Jumlah itu sama seperti hari biasa, meski pasar terlihat penuh sesak pembeli.
“Sehari saya hanya bisa meraup Rp30 ribu sampai Rp60 ribu, sama seperti hari biasa,” ujarnya.
Hamza mengaku bekerja sejak pukul 06.00 Wita hingga 22.00 Wita. Meski turun sejak subuh dan baru pulang larut malam, ia mengatakan penghasilannya tetap tidak berubah.
“Saya turun dari pukul 06.00 sampai 22.00, tapi pendapatan tetap segitu,” tambahnya.
Menurut Hamza, ketatnya persaingan menjadi salah satu sebab turunnya pendapatan.
Selain bentor konvensional, kehadiran bentor online membuat sopir lebih sulit mendapatkan penumpang.
“Sekarang banyak yang pilih bentor online. Jadi meski pasar ramai, kami tetap sulit dapat penumpang lebih banyak. Kadang satu penumpang saja rebutan,” katanya.
Hamza biasanya mengambil rute sekolah dan kawasan perumahan.
Tarifnya pun disesuaikan dengan kondisi penumpang.
“Kalau anak sekolah Rp3 ribu. Untuk masyarakat umum tergantung jarak, biasanya Rp5 ribu sampai Rp15 ribu,” jelasnya.
Meski pendapatan tak sebanding dengan durasi kerja, Hamza tetap bertahan karena tidak memiliki pilihan lain.
Ia mengaku lelah hampir setiap hari, namun tetap bekerja demi keluarga.
“Kadang lelah, tapi lihat penumpang senang, hati ikut lega,” ucapnya.
Ia juga berharap pemerintah memberi perhatian pada nasib sopir bentor konvensional yang makin terpinggirkan oleh layanan transportasi online.
“Kami ingin regulasi yang bisa membuat kami tetap aman bekerja dan dapat penghasilan layak. Jangan sampai kami hanya jadi alat transportasi murah tapi tidak dihargai,” harapnya.
Sementara itu, dua pengemudi lain, Aldi Abas dan Fikran Adam, menyampaikan kondisi serupa.
Meski bentor memadati area pasar, pendapatan mereka tidak ikut meningkat.
Aldi mengatakan Pasar Andalas memang selalu ramai, tetapi banyak pembeli memilih datang dengan kendaraan pribadi atau memesan jasa transportasi online.
“Pasar ramai, tapi tidak dengan kantong kami para sopir bentor,” ujarnya.
Ia menyebut sejak pagi buta hingga siang pasar tetap padat, tetapi penumpang yang mereka layani hanya pelanggan tetap yang sudah memesan dari rumah.
“Banyak yang pilih bentor online dan kendaraan sendiri, jadi kami harus bersaing,” katanya.
Fikran Adam menuturkan penurunan pendapatan sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
“Sudah beberapa tahun begini. Pendapatan menurun, bukan hanya saya tapi teman-teman lain juga sama,” tegasnya.
Menurut Fikran, para sopir juga kesulitan beralih pekerjaan karena tidak memiliki ijazah.
Mereka juga tak bisa mendaftar sebagai pengemudi bentor online sebab surat-surat kendaraan tidak lengkap.
Hingga kini, mereka mengaku belum melihat adanya langkah konkret dari pemerintah untuk membantu bentor konvensional.
“Tidak tahu harus mengadu ke siapa. Belum ada langkah nyata untuk kami,” ujarnya.
(*/ Jefri)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.