Human Interest Story
Tangis Haru Ibu Maryam Rudin, Sang Anak Sukses Raih Toga
Aula Universitas Negeri Gorontalo (UNG) hari ini dipenuhi toga hitam dan senyum bahagia.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-foto-Maryam-Rudin-bersama-keluarga.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Aula Universitas Negeri Gorontalo (UNG) hari ini dipenuhi toga hitam dan senyum bahagia.
Di antara ribuan wisudawan, ada satu sosok yang kisahnya begitu mengharukan: Maryam Rudin.
Mahasiswi Angkatan 2021 yang resmi diwisuda pada tahun 2025 ini berhasil meraih gelar Sarjana Administrasi Publik.
Maryam lahir di Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, pada 23 Februari 2003. Ia adalah anak bungsu dari enam bersaudara, buah hati dari pasangan almarhum Iwan Rudin dan Sarlin Pakaya.
Sejak ayahnya meninggal dunia pada tahun 2015, Maryam dan saudara-saudaranya hanya bergantung pada perjuangan sang ibu yang gigih.
“Ibu bukan pegawai negeri, bukan karyawan bergaji tetap, hanya jualan kue dan makanan kecil setiap hari. Dari situlah biaya kami kuliah,” kata Maryam dengan suara bergetar, Rabu (24/9/2025).
Dari enam bersaudara, empat di antaranya berhasil menempuh pendidikan tinggi, dan Maryam adalah salah satunya.
Namun, biaya pendidikan yang tidak sedikit membuatnya tidak tega hanya mengandalkan sang ibu. Ia pun memilih untuk ikut berjuang.
Setiap libur semester, Maryam merantau ke Manado. Ia bekerja apa saja, mulai dari pekerjaan kasar hingga serabutan, demi mengumpulkan uang untuk melunasi SPP, biaya ujian proposal, penelitian, hingga skripsi.
“Kalau libur, saya tidak pulang lama-lama di rumah. Saya merantau ke Manado untuk kerja. Hasilnya saya tabung buat bayar kuliah. Bahkan kemarin, untuk biaya ujian skripsi, saya juga hasilkan dari merantau,” kenang Maryam.
Hari ini, semua jerih payah itu terbayar. Di hadapan ribuan wisudawan dan orang tua, Maryam dengan mantap melangkah ke panggung menerima ijazah.
Tangannya bergetar saat meraih map wisuda, namun hatinya dipenuhi rasa syukur.
Baca juga: Banyak Mobil Rusak Terparkir di Kantor Bupati Gorontalo, DPRD: Kenapa Tidak Dijual Saja
Di barisan kursi undangan, Sarlin Pakaya tak mampu menahan tangis.
Dengan pakaian sederhana, ia duduk menyaksikan anak bungsunya mengenakan toga dan menyandang gelar sarjana. Air matanya jatuh deras, bukan karena sedih, tetapi karena lega dan bangga.
“Saya hanya bisa jualan kue, tidak ada pekerjaan lain. Tapi Alhamdulillah doa saya dijawab Allah. Anak saya bisa sampai di titik ini,” ucap Sarlin dengan suara parau.