Pohon Tumbang di Gorontalo
Cerita 2 Siswa SMPN 1 Tilango Gorontalo Selamat dari Insiden Pohon Tumbang
Suasana belajar di SMP Negeri 1 Tilango, Kabupaten Gorontalo, berubah mencekam pada Senin (1/9/2025) ketika sebuah pohon besar tumbang
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Nurain-Hasan-dan-Alya-Mahajani.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Suasana belajar di SMP Negeri 1 Tilango, Kabupaten Gorontalo, berubah mencekam pada Senin (1/9/2025) ketika sebuah pohon besar tiba-tiba tumbang dan menimpa dua ruang kelas.
Di balik insiden yang menimpa sejumlah siswa dan seorang guru ini, dua siswi kelas VII berbagi cerita mencekam tentang bagaimana mereka selamat.
Nurain Hasan, siswi kelas VII-3, masih menyimpan trauma. Ia menceritakan saat kejadian, pelajaran Matematika sedang berlangsung ketika angin kencang datang.
"Setelah diberi tugas menulis tiba-tiba ada angin puting beliung, dan beberapa menit kemudian pohon tumbang," kenangnya dengan wajah pucat.
Dalam kepanikan, Nurain dan teman-temannya memilih untuk berlindung di bawah meja. Keputusan itu datang begitu saja, tanpa instruksi dari guru.
Nurain mengaku ia dan teman-temannya hanya ingin melindungi diri jika ada reruntuhan susulan.
Setelah kondisi mereda, mereka keluar dari kelas dengan cara merunduk. "Tidak tahu mau ke mana, teman-teman lain sembunyi di bawah meja," ujar Nurain lirih. Akibat insiden itu, ia sempat mengalami bengkak di kepala karena tertimpa plafon.
Cerita serupa datang dari Alya Mahajani, siswi kelas VII-2. Ia mengaku masih trauma meskipun tidak mengalami luka parah.
Alya berhasil selamat setelah lari sesaat sebelum tembok beton di ruang kelasnya runtuh.
"Pas saya sudah lari itu, baru jatuh," ungkapnya lega.
Meskipun hanya terkena percikan reruntuhan, Alya teringat jelas bagaimana dirinya nyaris tertimpa beton. Baginya, detik-detik mengerikan itu terasa begitu cepat.
Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Tilango, Sutirman Kaharu, memastikan seluruh siswa yang terdampak sudah mendapatkan penanganan.
Dua ruang kelas yang rusak kini dipindahkan ke ruang cadangan dan laboratorium komputer agar kegiatan belajar tetap berjalan.
Sutirman menambahkan, tenaga medis dan psikolog dari Pemerintah Daerah juga telah disiapkan untuk membantu mengatasi trauma anak-anak.
Dari 12 siswa yang sempat dibawa ke puskesmas, tujuh sudah kembali bersekolah, sementara lima lainnya masih dalam pemantauan.