Senior Editors Program
Murid Australia Dilarang Akses Medsos, Cari Pacar Kutu Buku dan HP Jadul
Kedutaan Besar Australia mengadakan kegiatan bertajuk Australia-Indonesia Senior Editors Program, selama sepekan
Penulis: Domu Damiannus Ambarita | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Delegasi-wartawan-Indonesia-berdiskusi-tentang-isu-isu-Asia-vffff.jpg)
Undang-Undang Amandemen Keamanan Dalam Jaringan/Daring atau Online Safety Amendment (Social Media Minimum Age) Act 2024, merupakan amandemen terhadap Undang-Undang Keamanan Daring 2021. Undang-undang ini meliputi batasan usia, melarang anak di bawah usia 16 tahun untuk membuat atau memiliki akun di platform media sosial yang dibatasi usia.
Undang-undang juga menempatkan tanggung jawab pada perusahaan teknologi dan platform media social, seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan X, untuk mencegah anak di bawah usia 16 tahun mengakses layanan mereka, daripada menghukum anak-anak atau orang tua mereka. Platform yang gagal mematuhi akan menghadapi sanksi perdata yang ketat, dikenai sanksi denda hingga 49,5 juta dolar Australia, setara dengan Rp 613 miliar.
Mencari Pacar Kutu Buku
Dr Nasya Bahfen, dosen Departmen of Politics Media and Philosophy, La Trobe University, Melbourne, Victoria, Autralia, mengatakan telah terjadi fenomena pada remaja dan mahasiswa meninggalkan ketagihan menggunakan telepon seluler pintar (smart phone), serta media sosial.
Bila sebelumnya, kerap menjumpai orang-orang sibuk memelototi layar ponsel, atau jari-jemari memainkan layar sambil sambil berjalan di kaki-lima maupun kampus, saat ini, gejala tersebut mulai hilang.
Mahasiswa di kampus, atau di tempat tongkrongan, lebih gemar tanpa membawa smartphone. Mereka pun mengganti kesibuk bermain ponsel, dengan membaca buku Pelajaran maupun novel yang kemudian membentuk prinsip-prinsip baru.
“Mahasiswa saya, sekarang lebih senang membaca buku, daripada memegang ponsel. Bahkan, ada semacam prinsip bagi anak muda, mencari pacar yang kutu buku, daripada yang ketagihan ponsel,” kata Bahfen, perempuan kelahiran Singapura, masa kecil pernah tinggal di Jakarta. Dia sudah berpuluh tahun tinggal di Australia.
Gejala BookTok saat Covid
Menurut Bahfen, perempuan berhijab ini, dalam lima tahun ke belakang, ada gerakan, remaja sekarang meninggalkan smartphone, beralih kepada dumbphone atau telepon zaman dulu. Ponsel jadul, yang tidak terhubung ke internet dan dalam jaringan (online). Ponsel yang dapat digunakan menelepon dan atau mengirim pesan singkat (SMS), juga tidak terdapat layanan whatsap. Tidak dapat videocall.
Kini, fenomena sosiologis dan psikologis, ada kesadaran dan kekhawatiran akan dampak kecanduan ponsel mengakibatkan kelelahan kognitif, kecemasan, gangguan kesehatan mental, dan hilangnya batas antara kehidupan personal dan profesional. Muncullah kontra-tren gerakan minimalis digital di kalangan generasi muda, Genenerai Z dan Milenial, sebagai respons terhadap kejenuhan akut akibat disrupsi smartphone.
Dulu, dunia memuji smartphone karena multitasking dan mampu menyatukan (konvergensi) belasan fungsi alat tunggal seperti jam, alarm, kamera, pemutar musik. Kini, arus balik, anak muda memisahkan fungsi-fungsi tersebut (divergensi) lewat teknologi satu fungsi. Bahfen mengakui, memiliki riset tentang perilaku remaja yang semakin gemar membaca buku. “Mereka disebut masuk dalam era Booktok, sejak pandemic Covid-19, lima tahun lalu,” ujar Bahfen.
Toko Buku Kembali Laris
Fenomena BookTok muncul di Australia, merujuk pada komunitas pencinta buku di dalam platform medsos TikTok yang membagikan ulasan, rekomendasi, hingga reaksi emosional saat membaca.
Gejala BookTok mulai masuk dan mengakar di Australia pada pertengahan hingga akhir tahun 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda. Pemicunya adalah adanya kebijakan pembatasan wilayah yang ketat berupa isolasi (lockdown) di berbagai negara bagian, terutama Melbourne dan Sydney. Pembatasan relasi memaksa remaja dan dewasa muda menghabiskan waktu di rumah. TikTok menjadi pelarian utama, mempertemukan para pembaca lokal yang merasa kesepian.
Awal 2021, para penjual buku eceran di Australia mulai menyadari adanya pola ganjil: buku-buku lama yang sudah terbit bertahun-tahun lalu tiba-tiba habis dipesan dalam semalam karena direkomendasikan oleh pembuat konten (BookTokers) luar negeri maupun lokal Australia.