Khotbah Jumat
Khotbah Jumat Gorontalo: Menjadi Pribadi Lebih Baik dengan Mengingat Kematian
Pesan penuh silsilah luhur ini mengalun khidmat dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustaz La Ode Bustamin di hadapan ratusan jamaah
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Suasana-khutbah-Jumat-di-Masjid-Al-Ikhlas-Kelurahan-Dulalowo-Timur.jpg)
Ringkasan Berita:
- Mengingat kematian, melakukan introspeksi diri (muhasabah), dan mempersiapkan bekal akhirat adalah kunci utama bagi setiap muslim untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik
- Berdasarkan hadis Rasulullah SAW, orang yang paling cerdas bukanlah yang menumpuk harta atau keberhasilan materi, melainkan mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsu
- Bekerja dan mencari rezeki adalah kewajiban yang suci, namun urusan profesi tidak boleh melalaikan kewajiban agama
TRIBUNGORONTALO.COM – Mengingat kematian dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat merupakan kunci utama bagi setiap muslim untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.
Pesan penuh silsilah luhur ini mengalun khidmat dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustaz La Ode Bustamin di hadapan ratusan jamaah Masjid Al Ikhlas, Kelurahan Dulalowo Timur, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, Jumat (29/5/2026).
Dalam khutbah bertajuk "Menjadi Pribadi yang Baik dengan Mengingat Kematian", Sang Khatib mengawali wasiatnya dengan seruan mendasar: ajakan untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya.
Khatib menegaskan bahwa seluruh gerak-gerik dan perbuatan manusia di atas bumi ini tidak akan pernah luput dari pengawasan Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim sudah sepatutnya menjadikan muhasabah—atau introspeksi diri—sebagai napas kehidupan sehari-hari.
“Dari ayat di atas dijelaskan bahwa kita semua dianjurkan untuk bermuhasabah, karena apa yang kita kerjakan akan berdampak pada hari esok (akhirat),” ujar La Ode Bustamin di hadapan jamaah yang menyimak dengan takzim.
Di tengah khutbahnya, La Ode Bustamin mengajak jamaah merenungkan betapa fana dan cepatnya perjalanan waktu yang kerap menipu manusia.
Banyak orang yang merasa baru saja lulus dari bangku sekolah, atau baru saja melewati masa-masa berat wabah beberapa tahun lalu, namun tanpa disadari waktu terus bergulir hingga kini melampaui tahun 2025.
Kondisi tersebut, menurut Khatib, terjadi karena manusia terlampau hanyut dalam mengejar urusan dunia hingga melupakan esensi akhirat yang kekal.
“Pernyataan tersebut tidak akan pernah terasa oleh kita, karena kita terlalu mengejar dunia dan melupakan akhirat,” ungkapnya retoris.
Lebih lanjut, ia membeberkan tanda-tanda nyata ketika seseorang mulai diperbudak oleh kesibukan duniawi. Yaitu, saat aktivitas sehari-hari dan rutinitas mencari nafkah justru menjadi alasan untuk melalaikan kewajiban pokok agama, mulai dari salat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, hingga berbagai amal kebaikan lainnya. Di samping itu, Khatib juga melayangkan peringatan keras agar manusia mengikis rasa sombong atas keberhasilan materi yang diraihnya.
Baca juga: Khotbah: 3 Ibadah di Hari Raya Iduladha Menjadi Barometer Keimanan Umat
Karakter Manusia yang Cerdas
Melalui mimbar Jumat tersebut, jamaah diajak untuk terus memperbaiki diri demi meraih istiqamah dalam kebajikan dan konsisten meninggalkan kemungkaran.
“Karena sebaik-baik manusia adalah yang selalu berbuat baik, mengingat kematian dan mempersiapkan bekal setelah mati,” tegas La Ode Bustamin.
Ia kemudian memperkuat khutbahnya dengan mengutip hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa orang yang paling cerdas di dunia bukanlah mereka yang menumpuk harta, melainkan mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan mempersiapkan diri dengan matang guna menghadapi kehidupan setelah kematian.
Khatib tidak menafikan bahwa bekerja, belajar, dan menjemput rezeki merupakan bagian dari kewajiban suci seorang muslim. Namun, ia menggarisbawahi bahwa urusan duniawi tidak boleh mengebiri porsi ingatan terhadap akhirat.