Sabtu, 30 Mei 2026

Senior Editors Program

Murid Australia Dilarang Akses Medsos, Cari Pacar Kutu Buku dan HP Jadul

Kedutaan Besar Australia mengadakan kegiatan bertajuk Australia-Indonesia Senior Editors Program, selama sepekan

Tayang:
Penulis: Domu Damiannus Ambarita | Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Murid Australia Dilarang Akses Medsos, Cari Pacar Kutu Buku dan HP Jadul
Tribunnews.com/Domu Damiannus Ambarita
EDITOR - Delegasi wartawan Indonesia berdiskusi tentang isu-isu Asia, termasuk Indonesia, di kampus Universitas RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology), Melbourne, Australia, Jumat (22/5/2026). (Tribun Network/Domu D. Ambarita) 

Ringkasan Berita:
  • Kedutaan Besar Australia mengadakan kegiatan bertajuk Australia-Indonesia Senior Editors Program, selama sepekan, pertengahan hingga akhir Mei ini
  • Delegasi mendatangi Bertram Primary School, semacam sekolah dasar negeri

TRIBUNGORONTALO.COM - Murid-murid sekolah dasar di Australia mengaku belum tahu bermedia sosial. Dan belum pernah. Mereka sadar, Undang-undang membatasi usia memiliki akun medsos, minimum 16 tahun.

Sementara kalangan mahasiswa, muncul kesadaran baru menjaga kesehatan mental dengan mencegah kecanduan smartphone, beralih ke telepon zaman dulu (jadul/dumbphone), dan gemar membaca buku berbahan kertas.

PagiI itu, langit cerah. Cuaca dingin, 12 derajat Celsius. Sekira pukul 09.00 waktu Perth, sama dengan Waktu Indonesia Tengah (Wita), sejumlah wartawan delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program, menumpang minibus  Mercedes-Benz. Kunjungan ini difasilitasi Kedubes Australia untuk Indonesia.

Delegasi mendatangi Bertram Primary School, semacam sekolah dasar negeri. Sekolah ini mendidik siswa Taman Kanak-kanak hingga Kelas 6. Letaknya di pinggiran Kota Bertram, arah selatan Perth, Australia Barat.

Baca juga: Universitas RMIT Australia: Majemuk, Terjangkau dan Kampus Kualitas Dunia Favorit untuk Kuliah 

Di ruangan kelas belajar, terdapat 13 murid, gabungan kelas 3 sampai kelas 6. Warna kulit mereka beragam, ada putih ala ras Eropa, ada juga agak legam khas India, juga sawo matang.  Nuansa Indonesia terasa kental di ruangan. Awakan (badan wayang) khas Jawa tergeletak di meja. Miniatur becak di meja lain. Alat musik khas Sunda yang terbuat dari bambu, angklung di meja lainnya. Gambar-bambar sosok-sosok pewayangan berupa kartun digunting, peta wilayah Indonesia, slogan-slogan Indonesia terpampang di empat sisi dinding.

Tempelan tulisan-tulisan seperti ‘Halo, Pak, Bu’. ‘Siapa nama kamu?’ di bawahnya basaha Inggris, ‘What is your name?’. ‘Nama Saya Bob. My name is Bob’. Ada pula ucapan salam, ‘Selamat malam’, ‘Selamat sore’, pun poster ‘Ayo berhitung’, dan ‘Nama-nama hari’.  Juga mengenai alam. ‘Air, water’, ‘api, fire’, ‘bumi, earth’, ‘angin, wind’. ‘Bagus’, ‘Baik sekali’, ‘menarik’, ‘fantastik’, ‘luar biasa’, ‘hebat’, dan masih banyak lagi.

Gambar orang sedang mengayuh becak, gambar penari, kerajinan batik, topeng khas Bali. Lembar-lembar kertas mewarnai gambar satwa endemik Australia maupun asal Indonesia disertai kesan-pesan dalam Bahasa Inggris, kemudian dibubuhi nama murid SD Negeri dari Bandung pun ditempeli di kaca. Tulisian sahabat pena. Sekolah Dasar Negeri Bertram Austalia rupanya bermitra dengan SD Negeri  023 Pajagalan Kota Bandung, Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat.

Murid-murid lalu memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Indonesia. Ya, mereka praktik percakapan Bahasa Indonesia. Sebagian besar mereka mengaku pernah liburan ke Pulau Bali, dan mempraktikkan Bahasa Indonesia. 

Austin, murid kelas 6, misalnya, mengucapkan ‘terima kasih’ kepada pelayan restoran atau hotel. Juga mengajak kenalan anak-anak asli Bali. Ada pun Mia, pelajar kelas 5, bercerita senang belajar budaya dan bahasa Indonesia. Gadis cilik ini cerita, gemar bermain sepak takraw, cabang olahraga perpaduan sepakbola dan voly. Bahan bolanya, berupa anyaman aatau gulungan rotan dibuat bulat menyerupai bola.

Saat sesi tanya jawab, ada wartawan Indonesia yang bertanya tentang, apakah murid-murid sudah terbiasa menggunakan media sosial? Austin menjawab, dia dan murid SD lainnya belum memiliki akun media sosial. Alasannya, undang-undang di negaranya membatasi usia, minimum 16 tahun, baru boleh menggunakan medsos.

Tidak Kenal Medsos

EDITOR - Delegasi wartawan Indonesia berdiskusi tentang isu-isu Asia, termasuk Indonesia, di kampus Universitas RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology), Melbourne, Australia, Jumat (22/5/2026). (Tribun Network/Domu D. Ambarita)
EDITOR - Delegasi wartawan Indonesia berdiskusi tentang isu-isu Asia, termasuk Indonesia, di kampus Universitas RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology), Melbourne, Australia, Jumat (22/5/2026). (Tribun Network/Domu D. Ambarita) (Tribunnews.com/Domu Damiannus Ambarita)

 

Bahasa Indonesia Bertram Primary School diajar beberapa guru Bahasa Indonesia. Misalnya, Vincent Sweetman, warga negara negeri Koala itu. Ia fasih bahasa Indonesia. Ia bahkan telah menikahi Vinny, wanita asal  Bandung. Selain Sweetman, ada juga Vita, perempuan kelahiran Surabaya, Jawa Timur, yang dalam empat tahun terakhir mengajarkan budaya dan Bahasa Indonesia. Dia mengenalkan batik, wayang, serta budaya lainnya dari Indonesia kepada pelajar.

Sweetman mengatakan, murid-murid SD Bertram memang dilarang bermedia sosial. Sebab konstitusi tidak membolehkan anak usia di bawah 16 tahun mengakses platform media sosial.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved