Harga BBM Naik
Pakar ITB Ungkap Bahaya Turunkan Oktan Bensin: Hemat Sesaat, Rusak Kemudian
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) memicu pengendara menurunkan kadar oktan bahan bakar. Hal ini demi tetap berhemat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-pengendara-mengantre-BBM-di-SPBU-Andalas.jpg)
Ringkasan Berita:
- Menggunakan BBM dengan oktan lebih rendah dari spesifikasi (downgrade) dapat menyebabkan mesin cepat panas (overheat)
- Alih-alih berhemat, penggunaan oktan rendah justru membuat konsumsi BBM lebih boros karena penurunan efisiensi termal
- Praktik mencampur jenis BBM yang berbeda tidak disarankan karena ketidakcocokan zat aditif dapat merusak kestabilan pembakaran
TRIBUNGORONTALO.COM – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) memicu pengendara menurunkan kadar oktan bahan bakar. Hal ini demi tetap berhemat di tengah lonjakan harga BBM.
Namun, siasat ini ternyata sangat berbahaya bagi kesehatan mesin kendaraan, ibarat "menabung bom waktu" bagi mesin.
Melansir pemberitaan KompasTV, Selasa (21/4/2026), pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memperingatkan bahwa keputusan tersebut bisa menurunkan performa. Juga berpotensi memicu kerusakan fatal yang biaya perbaikannya jauh melampaui selisih harga bensin di SPBU.
Fenomena "downgrade" BBM ini mencuat setelah PT Pertamina melakukan penyesuaian harga per 18 April 2026, di mana harga Pertamax Turbo meroket ke angka Rp19.400 per liter, sementara lini Dex Series juga mengalami kenaikan signifikan hingga menyentuh angka Rp23.000-an.
Selisih harga yang kian lebar dengan BBM subsidi dan Pertamax (RON 92) memicu konsumen untuk beralih ke oktan yang lebih rendah atau melakukan praktik pencampuran (mixing).
Ancaman Overheat dan Penurunan Performa
Yannes menjelaskan bahwa mesin kendaraan modern telah dirancang dengan spesifikasi kompresi tertentu yang menuntut bahan bakar presisi. Ketika dipaksa menelan oktan rendah, efek sampingnya akan langsung terasa pada kesehatan mesin.
Mesin Panas Berlebih (Overheat): Pembakaran yang tidak sempurna menyebabkan suhu ruang bakar meningkat di luar batas normal.
Tenaga Drop: Efisiensi termal yang hilang membuat tarikan kendaraan terasa berat dan loyo.
Konsumsi BBM Boros: Ironisnya, alih-alih hemat, mesin justru butuh asupan lebih banyak untuk menghasilkan tenaga yang sama, sehingga angka konsumsi liter per kilometer semakin membengkak.
Kerusakan Jangka Menengah: Penumpukan Karbon
Bahaya tidak berhenti pada penurunan tenaga. Yannes menyoroti risiko yang mengintai saat kendaraan mencapai jarak tempuh 10.000 hingga 20.000 kilometer dengan BBM yang tidak sesuai spesifikasi.
"Akan terjadi penumpukan deposit karbon yang masif di ruang bakar dan injektor. Efeknya, mesin akan mengalami idle kasar (bergetar), akselerasi tersendat, dan emisi gas buang yang buruk," jelas Yannes.
Mesin Turbo dan Kompresi Tinggi Paling Rentan
Bagi pemilik mobil keluaran terbaru dengan teknologi mesin turbo atau rasio kompresi tinggi, risiko kerusakan menjadi berkali-kali lipat. Komponen internal seperti ring piston sangat sensitif terhadap kualitas bahan bakar. Ketidakstabilan pembakaran dapat mempercepat keausan komponen ini, yang pada akhirnya memerlukan turun mesin (overhaul).
Baca juga: Soal Pembatasan BBM Subsidi, Begini Respons Pedagang dan Sopir Gorontalo
Mengapa Mencampur BBM (Mixing) Bukan Solusi?
Selain menurunkan oktan secara total, praktik mencampur Pertamax Turbo dengan Pertamax biasa juga sangat tidak disarankan. Menurut Yannes, setiap jenis BBM memiliki formulasi yang berbeda secara fundamental.
"Tidak disarankan mencampur Pertamax Turbo dengan Pertamax biasa, sebab kedua jenis BBM ini memiliki komposisi aditif, densitas, dan karakteristik pembakaran berbeda," jelasnya.