Senin, 20 April 2026

LPG Nonsubsidi Naik

BBM dan LPG Nonsubsidi Kompak Naik, Beban Kelas Menengah Makin Berat!

Kenaikan BBM dan LPG nonsubsidi bikin kelas menengah terjepit. Tak dapat subsidi, tapi beban hidup melonjak di tengah harga kebutuhan yang ikut naik.

Tayang:
Editor: Tita Rumondor
zoom-inlihat foto BBM dan LPG Nonsubsidi Kompak Naik, Beban Kelas Menengah Makin Berat!
Tribun Jabar/Gani
TABUNG GAS LPG SUBSIDI - Warga antre membeli gas LPG 3 kg di Pangkalan Gas, Jalan Terusan Suryani, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (3/2/2025). Kenaikan BBM dan LPG nonsubsidi bikin kelas menengah terjepit. Tak dapat subsidi, tapi beban hidup melonjak di tengah harga kebutuhan yang ikut naik. 

Ringkasan Berita:
  • Harga BBM dan LPG nonsubsidi naik berdekatan, picu keresahan kelas menengah
  • Pengeluaran rumah tangga melonjak, terutama LPG 12 kg tembus Rp228 ribu
  • Warga dilema: tak dapat subsidi, tapi juga terdampak kenaikan harga energi
 

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG nonsubsidi yang terjadi dalam waktu berdekatan memicu keresahan di kalangan masyarakat kelas menengah.

Kelompok ini berada pada posisi sulit tidak berhak menerima subsidi, namun juga terdampak langsung oleh kenaikan harga energi yang terus merangkak naik.

Situasi semakin menekan karena penyesuaian harga dilakukan hampir bersamaan tanpa sosialisasi yang memadai.

Baca juga: Harga BBM Gorontalo Terbaru 20 April 2026, Pertamax hingga Dex Tembus Segini

Terutama pada LPG nonsubsidi, kenaikan harga membuat pengeluaran rumah tangga meningkat signifikan.

Beban ini terasa makin berat karena di saat yang sama, harga kebutuhan pokok juga ikut melonjak.

Lydia (34), warga Jabodetabek, mengaku kaget saat mengetahui harga gas 12 kg kembali naik.

Baca juga: Update Harga Emas 20 April 2026: Antam, UBS, Galeri 24 Kompak Tak Bergerak

Ia menilai, meskipun LPG jenis ini ditujukan untuk masyarakat mampu, pada praktiknya banyak digunakan oleh kalangan menengah.

“Yang pakai 12 kg sih mampu, tapi bukan crazy rich. Banyak golongan tengah, dibilang miskin sih tidak, dibilang kaya apalagi, jadi ya kita juga kaget pas naik,” ujarnya di Jakarta Pusat, Minggu (19/4/2026).

Menurut Lydia, beban semakin terasa karena lingkungan tempat tinggalnya sudah beralih ke Bright Gas yang harganya lebih tinggi dibandingkan LPG subsidi 3 kg.

Ia bahkan menyebut harga terakhir yang dibelinya mencapai Rp200.000 per tabung dan khawatir akan terus naik.

Ia sempat berpikir untuk kembali menggunakan LPG subsidi 3 kg, namun distribusinya di wilayah Cikarang dinilai terbatas.

Kondisi ini membuatnya dilema di satu sisi ingin berhemat, namun di sisi lain akses terhadap gas subsidi tidak mudah.

“Mau banget sih balik ke 3 kg. Tapi di tempat tinggal saya di Cikarang susah dapetinnya. Di satu sisi paham lah lagi krisis, tapi jangan nyusahin rakyat juga,” katanya.

Tekanan ekonomi ini, lanjut Lydia, membuat masyarakat harus memutar otak dalam mengatur pengeluaran.

Baca juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik di SPBU Gorontalo, Pengendara Terkejut

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved