Berita Internasional
Analis Ungkap Penyebab Emas Anjlok di Maret 2026
Penurunan tajam harga emas sepanjang Maret dinilai bukan disebabkan oleh melemahnya fundamental,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Seorang-karyawan-menunjukkan-emas-batangan-Galeri-24-ukuran-5-gram-dan-10-gram.jpg)
Dalam kondisi tersebut, emas justru dijadikan sumber likuiditas karena mudah dijual.
Tekanan tambahan datang dari penguatan dolar AS, penyesuaian portofolio akibat kenaikan suku bunga, serta pergeseran investasi ke sektor energi.
Faktor teknis seperti posisi opsi dan strategi berbasis volatilitas juga memperbesar fluktuasi harga dalam jangka pendek.
Wong membandingkan situasi ini dengan krisis tahun 2008 dan 2020, di mana harga emas sempat turun saat tekanan pasar tinggi, sebelum akhirnya kembali menguat seiring munculnya kebijakan stimulus.
Ia menilai kondisi saat ini memiliki pola serupa, di mana tekanan sistemik dan pengetatan keuangan dapat membuka peluang intervensi moneter di masa depan.
Dalam jangka panjang, Wong menegaskan prospek emas tetap kuat. Faktor seperti keterbatasan energi, ekspansi fiskal, serta perlahan melemahnya dominasi dolar AS dalam sistem cadangan global masih menjadi penopang utama.
Ia juga menambahkan bahwa jika kondisi ekonomi global memburuk, peluang penerapan kebijakan pelonggaran moneter kembali akan meningkat, yang dapat menjadi pemicu kenaikan harga emas berikutnya.
Sementara itu, pergerakan harga perak bahkan lebih fluktuatif. Logam tersebut turun ke sekitar 65 dolar AS per ons setelah sebelumnya sempat menyentuh lebih dari 121 dolar AS pada Februari.
Pergerakan ini disebut lebih dipengaruhi oleh faktor derivatif dan struktur pasar dibandingkan fundamental.
Wong menegaskan bahwa penurunan harga emas saat ini merupakan bentuk penyesuaian akibat tekanan likuiditas, dan berpotensi kembali menguat ketika kondisi keuangan global mulai stabil.
(*)