Jumat, 27 Maret 2026

Berita Internasional

Analis Ungkap Penyebab Emas Anjlok di Maret 2026

Penurunan tajam harga emas sepanjang Maret dinilai bukan disebabkan oleh melemahnya fundamental,

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Analis Ungkap Penyebab Emas Anjlok di Maret 2026
Tribun Jabar/nappisah
UPDATE HARGA EMAS – Seorang karyawan menunjukkan emas batangan Galeri 24 ukuran 5 gram dan 10 gram. Berikut daftar harga emas terbaru pada Sabtu, 28 Februari 2026. Menjelang akhir Februari 2026, harga emas Galeri 24 dan UBS terpantau masih relatif stabil. 

Ringkasan Berita:
  • Penurunan harga emas global disebut dipicu oleh tekanan likuiditas, bukan melemahnya fundamental. 
  • Gangguan energi dan penurunan aliran cadangan devisa turut memperberat tekanan harga. 
  • Meski turun, prospek jangka panjang emas dinilai tetap kuat dan berpotensi kembali menguat.

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Penurunan tajam harga emas sepanjang Maret dinilai bukan disebabkan oleh melemahnya fundamental, melainkan tekanan likuiditas global yang semakin ketat. Hal ini disampaikan oleh Paul Wong dari Sprott.

Dalam analisanya, Wong menyebut bahwa penurunan harga emas lebih mencerminkan kebutuhan pasar akan uang tunai di tengah kondisi keuangan yang mengetat, bukan karena hilangnya peran emas sebagai aset lindung nilai.

Harga emas sendiri tercatat turun ke kisaran 4.400 dolar AS per ons dari posisi puncak 5.589,38 dolar AS pada akhir Januari.

Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, gangguan energi, serta volatilitas pasar yang tinggi.

Wong menjelaskan bahwa perubahan besar dalam dinamika emas sebenarnya sudah mulai sejak 2022, ketika pembekuan cadangan devisa Rusia mendorong banyak negara mengalihkan aset dari obligasi AS ke emas.

Akibatnya, harga emas kini semakin bergantung pada arus akumulasi cadangan, terutama yang berasal dari pendapatan komoditas.

Tekanan terhadap harga semakin besar setelah penutupan Selat Hormuz dalam konflik yang melibatkan Iran.

Jalur ini merupakan rute penting bagi sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia.

Dampaknya, negara-negara anggota Gulf Cooperation Council yang selama ini menjadi pembeli utama emas mengalami perlambatan pendapatan energi.

Kondisi ini membuat pembelian emas terhenti, bahkan dalam beberapa kasus harus menjual cadangan yang ada.

Selain itu, kenaikan harga minyak juga memperburuk neraca perdagangan di sejumlah negara Asia, sehingga mengurangi cadangan devisa yang biasanya digunakan untuk membeli emas.

Meski demikian, China menjadi pengecualian dengan peningkatan arus masuk ETF serta premi harga emas di Shanghai yang mencapai 4,4 persen di atas harga spot London.

Menurut Wong, kecepatan penurunan harga emas juga dipicu oleh faktor investasi.

Gejolak di pasar saham, nilai tukar, dan suku bunga mendorong aksi pengurangan leverage oleh berbagai pelaku pasar, termasuk hedge fund dan strategi investasi sistematis.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved