Senin, 9 Maret 2026

Perang Iran dan Amerika

Harga Minyak Dunia Tembus 115 Dolar per Barel, Bursa Asia Anjlok hingga Ancaman Resesi Global

Nilai tukar dolar Amerika Serikat menguat tajam pada awal pekan seiring melonjaknya harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Harga Minyak Dunia Tembus 115 Dolar per Barel, Bursa Asia Anjlok hingga Ancaman Resesi Global
FreePIC
ILUSTRASI SPBU -- Harga minyak dunia melonjak pasca perang Iran dan Amerika. 

Pasar saham di Korea Selatan juga tertekan, dengan penurunan sekitar 8,1 persen. Penurunan ini menambah kerugian yang telah melampaui 10 persen dalam sepekan terakhir.

Sementara itu, indeks saham unggulan di China tercatat turun sekitar 2,3 persen. Negara tersebut juga melaporkan kenaikan inflasi tahunan sebesar 1,3 persen pada Februari, bahkan sebelum lonjakan harga minyak terbaru terjadi.

Di pasar valuta asing, dolar AS mendapat dukungan kuat dari statusnya sebagai aset aman serta posisi Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih, berbeda dengan sebagian besar negara Eropa yang masih bergantung pada impor energi.

Kepala strategi valuta asing National Australia Bank, Ray Attrill, menyebut kondisi tersebut membuat dolar semakin diminati investor di tengah ketidakpastian global.

Sementara itu, laporan G7 yang menyebut para menteri keuangan negara-negara maju akan membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat yang dikoordinasikan oleh International Energy Agency sempat menekan kenaikan harga minyak.

Meski begitu, mata uang utama seperti euro dan pound sterling tetap melemah terhadap dolar AS, masing-masing sekitar 0,6 persen dan 0,7 persen.

Tekanan juga terjadi di berbagai instrumen investasi. Penjualan besar-besaran terjadi di pasar saham, obligasi, hingga logam mulia, karena investor khawatir lonjakan harga energi akan memperburuk inflasi dan menghambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Analis Rabobank, Michael Every, menilai semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula dampak ekonomi yang dapat terjadi secara berantai.

Ia menyebut situasi dapat menjadi jauh lebih mengkhawatirkan jika kondisi yang sama masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Para analis juga memperingatkan bahwa negara-negara di kawasan Asia kemungkinan akan merasakan dampak paling besar dari lonjakan harga energi, karena tingginya ketergantungan kawasan tersebut pada pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah.

Kepala riset kawasan Asia Pasifik ING, Deepali Bhargava, mengatakan dampak ekonomi akan sangat bergantung pada seberapa tinggi dan berapa lama harga energi bertahan di level tinggi.

Menurutnya, konflik berkepanjangan yang disertai pelemahan mata uang di berbagai negara Asia dapat meningkatkan tekanan inflasi secara signifikan di kawasan tersebut.

Situasi semakin memanas setelah sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam dunia terganggu akibat konflik yang memicu serangan terhadap kapal di Selat Hormuz serta infrastruktur energi di kawasan tersebut.

Bahkan, Menteri Energi Qatar menyebut kemungkinan seluruh produsen energi di kawasan Teluk menghentikan ekspor dalam beberapa minggu ke depan.

Jika hal itu terjadi, harga minyak diperkirakan dapat melonjak hingga 150 dolar AS per barel.

Kenaikan harga energi yang drastis tersebut dinilai dapat berdampak seperti pajak tambahan bagi perekonomian global, sekaligus memperburuk tekanan inflasi dan membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Senin, 09 Maret 2026 (19 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:31
Subuh 04:41
Zhuhr 12:02
‘Ashr 15:10
Maghrib 18:05
‘Isya’ 19:13

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved