Perang Iran dan Amerika
Harga Minyak Dunia Tembus 115 Dolar per Barel, Bursa Asia Anjlok hingga Ancaman Resesi Global
Nilai tukar dolar Amerika Serikat menguat tajam pada awal pekan seiring melonjaknya harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-pengisian-BBM-di-SPBU.jpg)
Ringkasan Berita:
- Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah mendorong penguatan dolar AS dan mengguncang pasar keuangan global.
- Harga minyak Brent dan WTI melonjak lebih dari 20 persen karena gangguan pasokan di Selat Hormuz.
- Para analis memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat memicu inflasi global lebih tinggi dan meningkatkan risiko resesi ekonomi dunia.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Nilai tukar dolar Amerika Serikat menguat tajam pada awal pekan seiring melonjaknya harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah.
Lonjakan harga energi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap dampaknya bagi pertumbuhan ekonomi global.
Harga minyak jenis Brent crude tercatat melonjak hingga 23 persen dan mencapai 114,36 dolar AS per barel. Kenaikan ini menjadi lonjakan harian terbesar setidaknya sejak tahun 1988, setelah sebelumnya harga minyak tersebut sudah naik sekitar 28 persen pada pekan lalu.
Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate juga mengalami kenaikan signifikan hingga 27 persen menjadi sekitar 115,11 dolar AS per barel.
Baca juga: Pelaut Indonesia Hilang di Perairan Iran, Keluarga di Luwu Diliputi Kekhawatiran
Kenaikan tajam ini menimbulkan kekhawatiran bahwa harga bahan bakar, termasuk bensin, berpotensi meningkat dalam waktu dekat.
Ketidakpastian di kawasan Timur Tengah turut memperparah situasi.
Hingga kini belum ada tanda-tanda meredanya konflik, sementara kapal tanker masih enggan melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik utama distribusi energi dunia.
Ekonom kepala JPMorgan, Bruce Kasman, menyatakan bahwa perekonomian global masih sangat bergantung pada aliran minyak dan gas alam dari Timur Tengah yang melewati jalur tersebut.
Menurutnya, dalam jangka pendek harga minyak kemungkinan dapat melonjak hingga sekitar 120 dolar AS per barel sebelum akhirnya mereda apabila konflik segera berakhir.
Namun jika situasi politik tidak menunjukkan penyelesaian yang jelas, harga minyak Brent diperkirakan tetap berada di level tinggi sekitar 80 dolar AS per barel hingga pertengahan tahun.
Kasman memperkirakan kondisi tersebut berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,6 persen pada paruh pertama tahun ini.
Baca juga: TNI Siaga 1, Panglima Perintahkan Patroli Objek Vital dan Pemantauan Udara 24 Jam
Selain itu, inflasi global diprediksi dapat meningkat hingga sekitar 1 persen secara tahunan.
Ia juga mengingatkan bahwa konflik yang meluas dan berlangsung lama dapat mendorong harga minyak melampaui 120 dolar AS per barel, bahkan berpotensi memicu resesi global.
Dampak gejolak energi ini langsung terasa di pasar saham Asia. Indeks saham utama Nikkei 225 di Jepang merosot 7,5 persen setelah sebelumnya juga mengalami penurunan 5,5 persen pada pekan lalu.