Perang Iran dan Amerika
Pelaut Indonesia Hilang di Perairan Iran, Keluarga di Luwu Diliputi Kekhawatiran
Kabar hilangnya seorang pelaut asal Sulawesi Selatan membuat keluarga di Kabupaten Luwu diliputi kecemasan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/CAPTEN-MISWAR-HILANG-Kolase-foto-Capten-Miswar-pelaut-asal-Kabupaten-Luwu.jpg)
Perjalanan menuju lokasi kejadian disebut sebagai pelayaran terjauh yang pernah dilakukan kapal tersebut.
“Dari pelabuhan Abu Dhabi itu sekitar satu hari perjalanan baru sampai ke lokasi kejadian,” katanya.
Di tengah ketidakpastian ini, keluarga berharap ada informasi resmi dari pihak berwenang.
Sumarlin mengatakan Kedutaan Besar Republik Indonesia telah menghubungi keluarga untuk meminta data lengkap terkait Miswar.
“KBRI sudah menelepon. Katanya setiap perkembangan informasi akan segera disampaikan kepada kami,” ungkapnya.
Rumah keluarga Miswar di Kelurahan Pattedong pun mulai didatangi sejumlah kerabat dan kolega yang datang untuk memberikan dukungan.
Sejak Sabtu sore, beberapa kendaraan terlihat terparkir di depan rumah yang berada di jalur poros Makassar–Palopo tersebut.
Salah seorang warga, Jasri, mengaku pernah bepergian bersama Miswar saat menuju Makassar sebelum berangkat bekerja ke luar negeri.
“Waktu itu kami satu mobil charter menuju Makassar. Saya bersama Capten Miswar dan satu orang kemenakan istrinya. Kami bekerja di perusahaan yang sama di Abu Dhabi,” ujarnya.
Ia juga menyebut Miswar merupakan lulusan Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar angkatan ke-15 dan telah lama berkarier di dunia pelayaran.
Sementara itu, kapal Mussafah 2 diketahui membawa tujuh orang awak saat berlayar.
Selain Miswar, kru kapal tersebut terdiri dari Kapten Yan Rano Djama, Chief Engineer Sirajuddin, Able-Bodied Abdul Salam, dua awak asal India, serta seorang oiler berkewarganegaraan Filipina.
Hingga saat ini, keluarga masih menunggu kepastian mengenai kondisi kapal dan seluruh awaknya.
(*)