Perang Iran dan Amerika
Pelaut Indonesia Hilang di Perairan Iran, Keluarga di Luwu Diliputi Kekhawatiran
Kabar hilangnya seorang pelaut asal Sulawesi Selatan membuat keluarga di Kabupaten Luwu diliputi kecemasan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/CAPTEN-MISWAR-HILANG-Kolase-foto-Capten-Miswar-pelaut-asal-Kabupaten-Luwu.jpg)
Ringkasan Berita:
- Kapten kapal asal Luwu, Miswar, dilaporkan hilang kontak saat memimpin tugboat Mussafah 2 di perairan Selat Hormuz.
- Informasi awal yang diterima keluarga menyebutkan kapal tersebut diduga terkena ranjau laut di kawasan yang sedang memanas akibat situasi geopolitik Timur Tengah.
- Kedutaan Besar RI telah menghubungi keluarga dan menyatakan akan menyampaikan perkembangan informasi terkait keberadaan Miswar dan kru kapal.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Kabar hilangnya seorang pelaut asal Sulawesi Selatan membuat keluarga di Kabupaten Luwu diliputi kecemasan.
Kapten kapal bernama Miswar dilaporkan tidak dapat dihubungi setelah menjalankan tugas di perairan Selat Hormuz, wilayah strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Miswar diketahui menjadi nakhoda kapal tugboat Mussafah 2.
Kapal tersebut dilaporkan kehilangan kontak saat berada di kawasan perairan Iran yang belakangan menjadi sorotan karena situasi geopolitik di Timur Tengah.
Baca juga: Penyelidikan Tambang Ratatotok, Kejati Sulut Pastikan Tak Menyasar Penambang Rakyat
Keluarga Miswar yang tinggal di Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu, pertama kali menerima kabar tersebut pada Jumat (6/3/2026).
Informasi awal yang mereka terima menyebutkan bahwa kapal yang dinakhodai Miswar diduga terkena ranjau laut.
Kerabat keluarga, Sumarlin Ahmad, mengatakan kabar tersebut diperoleh dari salah satu rekan kerja Miswar.
“Kami menerima informasi dari rekan kerjanya, Capten Ismail. Katanya kapal yang dinakhodai beliau terkena ranjau laut,” ujar Sumarlin saat ditemui di kediaman keluarga Miswar, Sabtu (7/3/2026).
Sebelum komunikasi terputus, Miswar sempat berbicara dengan istrinya pada Rabu (4/3/2026).
Dalam percakapan tersebut, ia menyampaikan bahwa kapalnya sedang menuju lokasi untuk membantu proses evakuasi kapal lain yang lebih dulu diduga terkena ranjau.
Baca juga: Bupati Sofyan Puhi Hadiri Pelantikan Ketua Mabicab Gerakan Pramuka Kota Gorontalo
Dalam komunikasi terakhir itu, Miswar juga menyampaikan adanya gangguan pada sistem navigasi kapal.
“Beliau bilang GPS kapal error. Katanya seperti melihat sesuatu di sekitar kapal dan sempat meminta panduan,” tutur Sumarlin.
Upaya menghubungi Miswar kembali dilakukan oleh anaknya pada Kamis (5/3/2026) siang melalui pesan singkat. Namun pesan tersebut tidak pernah mendapatkan balasan hingga kini.
Menurut Sumarlin, kapal tugboat Mussafah 2 biasanya hanya bertugas membantu kapal besar yang akan masuk ke pelabuhan Abu Dhabi.
Perjalanan menuju lokasi kejadian disebut sebagai pelayaran terjauh yang pernah dilakukan kapal tersebut.
“Dari pelabuhan Abu Dhabi itu sekitar satu hari perjalanan baru sampai ke lokasi kejadian,” katanya.
Di tengah ketidakpastian ini, keluarga berharap ada informasi resmi dari pihak berwenang.
Sumarlin mengatakan Kedutaan Besar Republik Indonesia telah menghubungi keluarga untuk meminta data lengkap terkait Miswar.
“KBRI sudah menelepon. Katanya setiap perkembangan informasi akan segera disampaikan kepada kami,” ungkapnya.
Rumah keluarga Miswar di Kelurahan Pattedong pun mulai didatangi sejumlah kerabat dan kolega yang datang untuk memberikan dukungan.
Sejak Sabtu sore, beberapa kendaraan terlihat terparkir di depan rumah yang berada di jalur poros Makassar–Palopo tersebut.
Salah seorang warga, Jasri, mengaku pernah bepergian bersama Miswar saat menuju Makassar sebelum berangkat bekerja ke luar negeri.
“Waktu itu kami satu mobil charter menuju Makassar. Saya bersama Capten Miswar dan satu orang kemenakan istrinya. Kami bekerja di perusahaan yang sama di Abu Dhabi,” ujarnya.
Ia juga menyebut Miswar merupakan lulusan Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar angkatan ke-15 dan telah lama berkarier di dunia pelayaran.
Sementara itu, kapal Mussafah 2 diketahui membawa tujuh orang awak saat berlayar.
Selain Miswar, kru kapal tersebut terdiri dari Kapten Yan Rano Djama, Chief Engineer Sirajuddin, Able-Bodied Abdul Salam, dua awak asal India, serta seorang oiler berkewarganegaraan Filipina.
Hingga saat ini, keluarga masih menunggu kepastian mengenai kondisi kapal dan seluruh awaknya.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.