Bijak Manfaatkan Waktu Jelang Berbuka, Ustaz Bagikan Tips Ngabuburit Penuh Pahala
Ngabuburit jelang berbuka bisa jadi ladang pahala atau justru kurangi nilai puasa. Ustaz Rikza Maulan beri panduan agar tetap bernilai ibadah.
Ringkasan Berita:
- Ngabuburit bisa bernilai ibadah jika diisi tilawah, zikir, doa, dan berbagi takjil.
- Aktivitas sia-sia dan konten negatif berpotensi mengurangi esensi puasa.
- Imam Al-Ghazali membagi puasa dalam tiga tingkatan, dari umum hingga menjaga hati sepenuhnya.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Menjelang azan Maghrib berkumandang di bulan Ramadan, tradisi ngabuburit kembali mewarnai keseharian masyarakat.
Waktu menanti berbuka ini kerap diisi beragam aktivitas agar detik-detik terasa lebih singkat dan menyenangkan.
Namun di balik semaraknya kebiasaan tersebut, terselip pertanyaan yang patut direnungi: apakah ngabuburit yang kita jalani benar-benar bernilai ibadah, atau justru tanpa disadari mengikis makna puasa itu sendiri?
Baca juga: Tetap Bisa Makan Pedas Saat Puasa? Simak 4 Tips Agar Lambung Tetap Aman
Ngabuburit: Antara Tradisi dan Nilai Ibadah
Menurut Ustaz Rikza Maulan dalam program Tanya Ustaz Tribunnews.com, ngabuburit pada dasarnya adalah aktivitas menunggu waktu berbuka dengan melakukan kegiatan tertentu.
Dewan Penasihat Rumah Zakat ini menjelaskan, praktik ngabuburit dapat dilihat dari dua sisi yakni positif dan negatif, tergantung bagaimana seseorang memanfaatkannya.
Dari sisi yang baik, ngabuburit bisa menjadi ladang pahala.
Baca juga: Bansos Sembako Ramadan 2026 Mulai Cair Februari, Ini Daftar Wilayahnya
Mengisi waktu dengan tilawah Al-Quran, memperbanyak zikir dan doa, atau berbagi takjil kepada sesama merupakan amalan yang sangat dianjurkan.
Terlebih lagi, menjelang berbuka puasa termasuk waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa.
"Mengisinya dengan amal saleh bukan hanya membuat waktu terasa cepat, tetapi juga mempertebal kualitas spiritual selama Ramadan," ujar Ustaz Rikza, Sabtu (21/2/2026).
Baca juga: Ramadan Bulan Al-Qur’an, Mahasiswa IAIN Gorontalo Ajak Perbanyak Tilawah
Waspadai Aktivitas yang Mengurangi Esensi Puasa
Sebaliknya, ngabuburit dapat kehilangan nilai jika hanya diisi dengan aktivitas yang kurang bermanfaat.
Sekadar berjalan tanpa tujuan jelas, bermain gim secara berlebihan, atau terlalu lama menggulir media sosial tanpa kendali memang tidak membatalkan puasa.
Namun, kebiasaan tersebut berpotensi mengurangi esensi dan kualitas ibadah yang dijalani.
Tanpa disadari, konten yang dikonsumsi di media sosial pun bisa saja mengandung hal-hal yang tidak pantas, seperti membuka aurat, ghibah, hingga fitnah.
Baca juga: Kultum Ramadan Nassar Said Subetan, Mahasiswa IAIN Gorontalo: Tamu yang Agung Menggugah Hati
Padahal, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan mengekang hawa nafsu serta menjaga pandangan, ucapan, dan perilaku.
Dalam sebuah hadis disebutkan, ketika seseorang yang berpuasa dicerca atau diperlakukan tidak baik, hendaknya ia mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Pesan ini menegaskan bahwa puasa merupakan proses pembinaan diri secara menyeluruh baik lahir dan batin.
Baca juga: Warga Sumatera Ini Kagum Liat Tradisi Kokoo saat Ramadan di Gorontalo
Tingkatan Puasa dan Momentum Perbaikan Diri
Ulama besar seperti Imam Al-Ghazali bahkan membagi puasa ke dalam tiga tingkatan.
Pertama, puasa umum, yakni menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.
Kedua, puasa khusus, yaitu menjaga anggota tubuh dari perbuatan sia-sia dan dosa.
Ketiga, puasa yang lebih tinggi lagi adalah ketika hati benar-benar terjaga, dipenuhi rasa takut tidak diterimanya amal dan harap agar ibadah diterima Allah SWT.
"Karena itu, ngabuburit sebaiknya diisi dengan kegiatan yang membawa manfaat dan kebaikan. Jangan sampai waktu yang seharusnya menjadi kesempatan emas untuk meraih pahala justru berlalu sia-sia, atau bahkan menambah dosa," kata Dewan Penasihat Rumah Zakat ini.
Pada akhirnya, puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, melainkan juga menjaga diri dari segala hal yang dapat mengurangi nilainya.
Bijak memilih aktivitas saat ngabuburit akan menjadikan Ramadan sebagai momentum terbaik untuk memperbaiki diri, memperdalam keimanan, dan meningkatkan kualitas spiritual. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Bijak Isi Waktu Jelang Berbuka Puasa, Ini Trik Ustaz Agar Ngabuburit Penuh Pahala
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.