Ramadan 2026

Ingin Sehat Saat Puasa? Simak Bedanya Intermittent Fasting dan Puasa Ramadan

Puasa intermiten dan Ramadhan sama-sama atur waktu makan, tapi beda tujuan dan aturan. Simak penjelasan ahli gizi soal perbedaannya.

Editor: Tita Rumondor
iStockPhoto
RAMADAN 2026 - Ilustrasi waktu puasa - Puasa intermiten dan Ramadhan sama-sama atur waktu makan, tapi beda tujuan dan aturan. Simak penjelasan ahli gizi soal perbedaannya. 

Terlepas dari perbedaannya, prinsip gizi seimbang tetap menjadi kunci utama dalam kedua jenis puasa tersebut.

Mahmud menjelaskan bahwa tubuh membutuhkan waktu sekitar 3–6 jam untuk mencerna makanan secara optimal.

Selain itu, tubuh memiliki ritme biologis alami dalam mengatur proses pencernaan, penyerapan zat gizi, hingga pembuangan sisa metabolisme.

Karbohidrat sebagai sumber energi utama akan disimpan dalam bentuk glikogen apabila tidak langsung digunakan.

Ketika tubuh tidak mendapat asupan makanan, cadangan glikogen tersebut akan dipecah kembali menjadi glukosa guna memenuhi kebutuhan energi.

“Puasa, baik Ramadhan maupun intermittent fasting, dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Ini baik untuk pengendalian gula darah,” jelasnya.

Waspadai Defisit Energi Berlebihan

Meski bermanfaat, Mahmud mengingatkan agar pelaku puasa tetap memperhatikan kebutuhan kalori minimal tubuh atau basal metabolic rate (BMR).

Setiap individu memiliki kebutuhan energi dasar agar organ-organ vital tetap bekerja dengan baik, bahkan saat sedang beristirahat.

“Jika asupan kalori terus-menerus berada di bawah kebutuhan minimal, tubuh bisa mengalami defisit energi yang berbahaya. Awalnya lemak memang terbakar, tetapi jika berlanjut, tubuh dapat menggunakan protein otot sebagai sumber energi. Ini dapat menurunkan massa otot,” paparnya.

Karena itu, dalam praktik puasa intermiten, pengurangan kalori sebaiknya dilakukan secara bertahap, sekitar 300–500 kkal dari kebutuhan harian, tanpa melewati batas minimal kebutuhan tubuh.

Adapun saat menjalani puasa Ramadhan, masyarakat diimbau tidak sekadar memindahkan porsi makan pagi dan siang ke malam hari dalam jumlah besar.

“Jangan sampai setelah berbuka justru makan berlebihan dalam waktu berdekatan. Tubuh bisa terbebani,” katanya.

Mahmud menyarankan pola makan dengan satu kali makan utama setelah berbuka, sahur yang cukup, serta tambahan camilan sehat bila diperlukan.

Kebutuhan cairan minimal delapan gelas per hari tetap harus dipenuhi dengan membaginya saat berbuka, malam hari, dan sahur. 

Konsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah juga dianjurkan agar rasa kenyang bertahan lebih lama dan energi tetap stabil selama berpuasa.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Jumat, 20 Februari 2026 (2 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:33
Subuh 04:43
Zhuhr 12:05
‘Ashr 15:21
Maghrib 18:08
‘Isya’ 19:17

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved