Pelita Air Jatuh
Pesawat Pelita Air Pengangkut BBM Jatuh di Krayan, Pilot Hendrick Adam Meninggal Dunia
Kementerian Perhubungan memastikan satu korban jiwa dalam kecelakaan pesawat charter pengangkut bahan bakar minyak (BBM) milik PT Pelita Air Service
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PESAWAT-JATUH-Pesawat-Pelita-Air-jatuh-di-Kabupaten-Nunukan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Pesawat charter PT Pelita Air Service yang mengangkut BBM untuk program distribusi Satu Harga jatuh di dataran tinggi Krayan, Nunukan, dan menewaskan pilot Capt.
- Hendrick Lodewyck Adam. Kementerian Perhubungan menyatakan pesawat telah menjalani inspeksi rutin sebelum insiden dan kini proses investigasi resmi sedang berlangsung.
- Peristiwa ini menyoroti risiko operasional distribusi energi di wilayah perbatasan dan daerah terpencil Indonesia.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Kementerian Perhubungan memastikan satu korban jiwa dalam kecelakaan pesawat charter pengangkut bahan bakar minyak (BBM) milik PT Pelita Air Service yang jatuh di dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Kamis (19/2/2026).
Pesawat yang menjalankan misi distribusi BBM Satu Harga ke wilayah perbatasan itu diawaki satu orang pilot tanpa penumpang. Insiden ini tak hanya menjadi duka bagi dunia penerbangan, tetapi juga menyoroti tantangan distribusi energi di kawasan terpencil Indonesia.
Pilot Dinyatakan Meninggal Dunia
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, menyampaikan bahwa pilot atas nama Capt.
Hendrick Lodewyck Adam dinyatakan meninggal dunia.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Gorontalo Besok Jumat 20 Februari 2026: Waspada Cuaca Ekstrem di Beberapa Wilayah
“Informasi terakhir yang kami peroleh pada pukul 15.16 WITA pilot atas nama Capt. Hendrick Lodewyck Adam dinyatakan meninggal dunia,” ujar Lukman.
Ia menegaskan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara tengah berkoordinasi dengan operator, otoritas bandara, serta instansi terkait untuk memastikan penanganan berjalan sesuai prosedur.
Pesawat Telah Jalani Pemeriksaan Rutin
Dari sisi teknis, pesawat disebut telah menjalani inspeksi berkala 100 jam dan 200 jam pada 11 Februari 2026. Total jam terbang pesawat tercatat mencapai 3.303 jam.
Penyelidikan penyebab kecelakaan akan dilakukan sesuai ketentuan oleh instansi berwenang. Pemerintah mengimbau masyarakat menunggu hasil investigasi resmi.
“Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini dan mengimbau semua pihak untuk menunggu informasi resmi yang terverifikasi,” tegas Lukman.
Misi Distribusi BBM ke Wilayah Perbatasan
Secara terpisah, PT Pelita Air Service melalui Corporate Secretary Patria Rhamadonna mengonfirmasi bahwa armada charter tersebut jatuh di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia, tepatnya di dataran tinggi Krayan.
“Sehubungan dengan perkembangan informasi mengenai salah satu armada charter Pelita Air, saat ini disampaikan bahwa proses investigasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait sedang berlangsung,” ujarnya.
Patria menjelaskan penerbangan tersebut merupakan layanan kargo BBM yang diawaki satu pilot tanpa awak kabin maupun penumpang.
Pesawat sebelumnya telah menyelesaikan misi distribusi ke Long Bawan dan sedang dalam perjalanan kembali menuju Bandara Juwata Tarakan saat insiden terjadi.
Armada ini diketahui melayani program distribusi BBM Satu Harga, yang menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan ketersediaan energi di wilayah perbatasan dan daerah terpencil.(*)