Ramadan 2026
Ingin Sehat Saat Puasa? Simak Bedanya Intermittent Fasting dan Puasa Ramadan
Puasa intermiten dan Ramadhan sama-sama atur waktu makan, tapi beda tujuan dan aturan. Simak penjelasan ahli gizi soal perbedaannya.
Ringkasan Berita:1. Tujuan berbeda: Ramadhan untuk ibadah, intermittent fasting untuk kesehatan dan metabolisme.2. Aturan puasa: Ramadhan tanpa makan-minum 13–14 jam, IF masih boleh minum non-kalori.3. Kunci sehat: Penuhi gizi seimbang, cukup cairan, dan hindari defisit kalori berlebihan.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Belakangan ini, intermittent fasting atau puasa intermiten semakin populer sebagai pola makan yang diklaim efektif membantu menurunkan berat badan sekaligus meningkatkan kesehatan metabolik.
Di sisi lain, umat Muslim setiap tahun menjalankan puasa Ramadhan sebagai bagian dari ibadah.
Sekilas, keduanya tampak serupa karena sama-sama mengatur waktu makan.
Baca juga: Jadwal Imsakiyah dan Salat 5 Waktu di Gorontalo Besok Jumat 20 Februari 2026
Namun, jika ditelaah lebih jauh, terdapat perbedaan mendasar, baik dari sisi tujuan maupun penerapan pola gizinya.
Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), Mahmud Aditya Rifqi, menegaskan bahwa perbedaan utama terletak pada niat dan tujuan pelaksanaannya.
“Puasa Ramadhan fokus utamanya adalah ibadah. Sementara intermittent fasting umumnya diterapkan dengan tujuan kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau perbaikan metabolisme,” jelas Mahmud, Kamis (19/2/2026).
Baca juga: Panduan Salat Tahajud: Niat, Tata Cara, dan Doa Mustajab Sesuai Ajaran Rasulullah SAW
Perbedaan Pola dan Aturan Pelaksanaan
Secara konsep, keduanya sama-sama menerapkan prinsip time-restricted eating atau pembatasan waktu makan.
Di Indonesia, durasi puasa Ramadhan berlangsung sekitar 13–14 jam, dimulai sejak sahur hingga waktu berbuka.
Selama rentang waktu tersebut, umat Muslim tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan maupun minuman.
Sementara itu, puasa intermiten memiliki variasi metode yang lebih fleksibel. Pola yang paling populer adalah metode 16:8, yakni 16 jam berpuasa dan 8 jam waktu makan.
Contohnya, seseorang hanya makan pada pukul 12.00 hingga 20.00, lalu kembali berpuasa hingga keesokan hari.
Selain metode 16:8, terdapat pula pola 5:2 (lima hari makan normal dan dua hari pembatasan kalori), eat stop eat, hingga one meal a day atau satu kali makan dalam sehari.
Mahmud juga menyoroti perbedaan tingkat keketatan aturan.
“Perbedaan lainnya adalah tingkat keketatan. Pada puasa Ramadhan, selama waktu berpuasa tidak boleh ada asupan makanan maupun minuman. Sedangkan pada intermittent fasting, masih diperbolehkan minum air putih atau minuman non-kalori seperti kopi tanpa gula,” terangnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-puasa-5-manfaat-mengerjakan-puasa-Syawal.jpg)