Ramadan
Muhammadiyah Mulai Puasa 18 Februari, Kapan Awal Ramadan 2026 Versi Pemerintah?
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah secara resmi menetapkan bahwa awal puasa atau 1 Ramadan 1447 Hijriah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/20423-Pemantauanhilal.jpg)
Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Gorontalo telah menetapkan Rooftop Gedung Rektorat IAIN Sultan Amai Gorontalo sebagai titik utama pemantauan hilal untuk tahun 2026 ini.
Pemilihan lokasi di atas gedung rektorat ini bukan tanpa alasan. Kemenag Gorontalo mempertimbangkan faktor teknis agar pengamatan bisa berjalan maksimal tanpa kendala objek penghalang.
Safrianto Kaaowan, Ketua Tim Urais Binsyar Kemenag Gorontalo, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi didasarkan pada perhitungan azimut hilal yang berada pada posisi 256 derajat.
Pada posisi tersebut, jika pengamatan dilakukan dari pesisir pantai, arah pandang justru akan terhalang oleh daratan atau bangunan kota. Maka, posisi ketinggian di tengah kota menjadi pilihan terbaik.
Dengan berada di rooftop, tim pemantau mendapatkan cakrawala yang lebih luas dan bersih. Hal ini sangat penting untuk memastikan akurasi data yang akan dikirimkan ke pusat.
Selain itu, posisi ketinggian juga membantu meminimalisir gangguan polusi cahaya dari lampu-lampu jalan yang seringkali menyamarkan cahaya redup dari hilal.
Agenda ini juga melibatkan perangkat canggih milik BMKG yang dipasang di titik pengamatan. Kerja sama ini memastikan bahwa setiap pergerakan benda langit terpantau secara presisi.
Ini merupakan tahun keempat bagi IAIN Sultan Amai Gorontalo menjadi tuan rumah agenda nasional ini. Kolaborasi antara akademisi dan praktisi agama terbukti efektif dalam memberikan data yang kredibel.
Sinergi dan Kedewasaan dalam Beragama
Pelaksanaan rukyatul hilal di daerah seperti Gorontalo pada 17 Februari nanti akan melibatkan berbagai instansi terkait untuk menjaga validitas data.
BMKG Gorontalo akan menerjunkan tim ahli dengan teleskop otomatis. Alat ini mampu melacak koordinat bulan secara otomatis sehingga memudahkan para perukyat.
Kehadiran perwakilan dari Pengadilan Agama juga sangat krusial dalam proses ini. Setiap kesaksian melihat hilal harus dikukuhkan melalui sumpah di bawah kitab suci.
Pakar falak dari kalangan akademisi juga turut memberikan dukungan teoritis di lapangan. Hal ini menjadikan proses pemantauan hilal sebagai ajang edukasi sains bagi masyarakat.
Seluruh proses ini disaksikan secara terbuka oleh perwakilan ormas Islam setempat. Keterbukaan ini bertujuan agar hasil pengamatan dapat diterima dengan lapang dada oleh semua pihak.
Safrianto memperkirakan bahwa proses pengamatan di lapangan akan dimulai sekitar pukul 17.00 Wita, sesaat sebelum matahari benar-benar terbenam di ufuk barat.
Melihat data hilal yang masih berada di bawah ufuk, pihak Kemenag daerah memberikan gambaran realistis bahwa kemungkinan besar laporan akan menyatakan hilal "tidak terlihat".