Berita Nasional
Sosok Daryono, Pakar Gempa BMKG yang Memilih Mundur Karena Faktor Kesehatan
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami, Daryono, memutuskan melepaskan jabatannya sekaligus mengajukan pensiun dini setelah mengalami
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/BMKG-Daryono-menyatakan-bahwa-ia-mengundurkan-diri-dari-jabatannya.jpg)
Ringkasan Berita:
- Daryono mengundurkan diri dari jabatan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG sekaligus mengajukan pensiun dini karena mengalami distrofi kornea.
- Meski tidak lagi menjabat, ia menyatakan tetap berkomitmen memberikan edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
- Daryono dikenal sebagai pakar geofisika dengan rekam jejak panjang di bidang mitigasi gempa dan penelitian ilmiah.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Kabar pengunduran diri datang dari jajaran pejabat di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami, Daryono, memutuskan melepaskan jabatannya sekaligus mengajukan pensiun dini setelah mengalami gangguan kesehatan pada mata.
Keputusan tersebut disampaikan Daryono melalui keterangan resmi pada Jumat malam, 13 Februari 2026.
Ia menjelaskan bahwa kondisi kesehatan yang dialaminya mengharuskan menjalani perawatan intensif sehingga tidak memungkinkan untuk melanjutkan tugas jabatan.
Baca juga: Ini Pola Belajar Siswa Selama Ramadan 2026, Ada Jadwal Mandiri hingga Libur Lebaran
Daryono mengungkapkan bahwa dirinya menderita distrofi kornea, penyakit genetik langka yang menyebabkan penumpukan zat abnormal pada kornea mata.
Kondisi tersebut dapat memicu gangguan penglihatan, seperti pandangan kabur hingga sensitivitas tinggi terhadap cahaya.
Ia menyatakan bahwa saat ini tengah menjalani masa cuti dinas untuk proses pengobatan sebelum memasuki masa pensiun dini.
Meski demikian, ia menegaskan statusnya sebagai pegawai BMKG masih berlaku hingga 1 Mei 2026.
Setelah tidak lagi menjabat, Daryono meminta kepada rekan media agar tidak lagi mencantumkan jabatannya sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami dalam pemberitaan.
Walau demikian, ia memastikan tetap berkomitmen berkontribusi dalam edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
Ia menegaskan akan tetap bersedia menjadi narasumber maupun memberikan penjelasan ilmiah terkait kegempaan dan tsunami sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan masyarakat.
Baca juga: Belajar di Bulan Ramadan 2026: Sekolah Dimulai 23 Februari, Ini Aturannya
Daryono juga menekankan pentingnya menjaga objektivitas ilmiah dan integritas dalam setiap penyampaian informasi kebencanaan.
Perjalanan Karier dan Pendidikan
Daryono lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 21 Februari 1971. Pendidikan awalnya ditempuh melalui program Diploma III Geofisika di Akademi Meteorologi dan Geofisika Jakarta pada 1993.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan sarjana Geofisika di Universitas Gadjah Mada.