Pesawat Smart Air Ditembak
Pilot dan Kopilot Smart Air Kehilangan Nyawa usai Ditembaki KKB, Ini Identitas Mereka
Dunia penerbangan perintis di tanah Papua kembali berduka setelah Kapten Egon dan Kopilot Baskoro gugur dalam tugas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/Kondisi-pesawat-Smart-Air-yang-ditembaki-sesaat-setelah-mendarat-di-Korowai.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Dunia penerbangan perintis di tanah Papua kembali berduka setelah Kapten Egon dan Kopilot Baskoro gugur dalam tugas.
Keduanya menjadi korban keberingasan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) saat menjalankan misi penerbangan sipil menuju pedalaman Boven Digoel.
Insiden tragis ini menimpa pesawat Smart Air dengan nomor registrasi PK-SNR. Burung besi tersebut menjadi sasaran serangan saat mendarat di Lapangan Terbang Korowai Batu Danowage, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, pada Rabu (11/2/2026).
Identitas kedua kru pesawat tersebut telah dikonfirmasi oleh otoritas terkait. Kapten Egon bertindak sebagai komando penerbangan, didampingi oleh Baskoro sebagai co-pilot yang setia mengawal navigasi udara.
Peristiwa memilukan ini bermula ketika pesawat berangkat dari Bandara Tanah Merah pada pukul 10.35 WIT. Penerbangan ini membawa harapan bagi 13 penumpang yang ingin kembali ke kampung halaman mereka di wilayah Korowai.
Perjalanan udara yang awalnya tenang berubah menjadi mimpi buruk tepat pada pukul 11.05 WIT. Saat roda pesawat menyentuh landasan pacu, rentetan tembakan tiba-tiba memecah kesunyian di area bandara yang terpencil tersebut.
Pelaku penembakan merupakan orang tak dikenal yang diduga kuat merupakan bagian dari kelompok separatis bersenjata. Mereka melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah pesawat yang baru saja mendarat.
Baca juga: GORONTALO TERPOPULER: Kakuhu Jadi Tersangka hingga Pencopotan Spanduk dan Baliho
Situasi mencekam segera menyelimuti seluruh awak dan penumpang. Dalam kepanikan yang luar biasa, instruksi darurat segera diambil demi menyelamatkan nyawa sebanyak mungkin orang di dalam kabin.
Sebanyak 13 penumpang yang ada di dalam pesawat langsung berhamburan keluar. Mereka berlari sekencang mungkin menuju kawasan hutan lebat di sekitar lapangan terbang untuk mencari perlindungan dari desingan peluru.
Seluruh penumpang dilaporkan selamat dalam insiden awal ini. Hal tersebut dikarenakan mereka merupakan warga lokal yang sangat mengenal medan dan tahu ke mana harus bersembunyi di dalam hutan.
Namun, nasib malang justru menimpa sang pilot dan kopilot. Sebagai kru pesawat, Kapten Egon dan Baskoro tetap berada di garis depan hingga detik terakhir sebelum akhirnya juga berusaha menyelamatkan diri ke arah hutan.
Pelarian kedua pahlawan udara ini ternyata tidak berjalan mulus. Meski sempat berupaya bersembunyi di rimbunnya hutan Papua, keberadaan mereka berhasil terendus oleh para pelaku penyerangan.
Berdasarkan laporan kepolisian, Kapten Egon dan Baskoro dikejar oleh para pelaku ke dalam hutan. Setelah tertangkap, keduanya tidak langsung dihabisi di tempat, melainkan mengalami perlakuan yang sangat keji.
Para pelaku membawa kembali kedua awak pesawat tersebut dari dalam hutan menuju area lapangan terbang. Di lokasi yang seharusnya menjadi titik aman pendaratan itulah, eksekusi dilakukan secara tidak manusiawi.
Kapolres Boven Digoel, AKBP Wisnu Perdana Putra, mengungkapkan detail yang memilukan mengenai detik-detik terakhir hidup Kapten Egon dan Baskoro. Keduanya dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka tembak dan penganiayaan.
"Pilot dan co-pilot dikejar oleh para pelaku kemudian dibawa dari dalam hutan ke lapangan terbang dan dibantai di situ," ungkap Wisnu dengan nada prihatin saat memberikan keterangan resmi.
Informasi mengenai gugurnya kedua awak ini menjadi pukulan berat bagi komunitas penerbangan sipil di Papua. Mengingat peran pilot perintis sangatlah vital bagi konektivitas wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Sebelum komunikasi benar-benar terputus, kru pesawat sempat mengirimkan laporan darurat. Pesan tersebut terdeteksi melalui perangkat navigasi GPS Garmin yang terpasang di kokpit pesawat Smart Air tersebut.
Namun, setelah sinyal darurat itu terkirim, tidak ada lagi suara dari Kapten Egon maupun Baskoro. Keheningan radio tersebut menjadi pertanda buruk bagi pusat kendali penerbangan di Tanah Merah.
Kasatgas Gakkum Operasi Damai Cartenz, Kombes I Gusti Gde Era Adhinata, memberikan konfirmasi singkat mengenai kebenaran insiden maut tersebut. Pihaknya menyatakan bahwa aparat keamanan tengah berupaya menangani situasi di lapangan.
Hingga saat ini, jenazah kedua korban masih menjadi prioritas untuk dievakuasi. Medan yang sulit dan faktor keamanan menjadi tantangan utama bagi aparat untuk mencapai lokasi Lapangan Terbang Korowai.
Pihak kepolisian memastikan bahwa 13 penumpang lainnya kini dalam kondisi aman. Mereka dilindungi oleh masyarakat setempat karena status mereka sebagai warga asli yang mengenal lingkungan sosial di sana.
Identitas Penumpang Selamat
1. Yance Bemanop
2. Limu Gurik
3. Yanduk Kogoya
4. Turis Magai
5. Emira Wonda
6. Anak Kimis
7. Dualima Kogoya
8. Imantinus Kahipka
9. Irvan Kahipka
10. Samuel Jitmau
11. Pania Mialka
12. Topius Kogoya
13. Tialongga Kogoya
Daftar manifest juga mencatat nama Samuel Jitmau, Pania Mialika, Topiu Kogoya, serta Tialongga Kogoya. Seluruhnya dinyatakan selamat dari maut meski mengalami trauma hebat akibat menyaksikan penyerangan tersebut.
Sementara itu, kondisi pesawat Smart Air PK-SNR saat ini dilaporkan masih tertahan di landasan pacu Lapangan Terbang Korowai. Belum diketahui secara pasti tingkat kerusakan fisik pada badan pesawat akibat tembakan.
Aparat keamanan berharap agar kelompok bersenjata tidak melakukan tindakan perusakan lebih lanjut terhadap pesawat tersebut. Pesawat itu merupakan aset penting untuk pelayanan masyarakat di pedalaman.
"Harapan kami tidak ada tindakan lebih lanjut terhadap pesawat," tegas AKBP Wisnu Perdana Putra.
Kepergian Kapten Egon dan Baskoro meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan kerja di Smart Air. Keduanya dikenal sebagai penerbang yang berdedikasi tinggi dalam melayani masyarakat Papua Selatan.
Tragedi ini kembali memicu perdebatan mengenai jaminan keamanan bagi maskapai penerbangan sipil yang beroperasi di wilayah rawan konflik. Banyak pihak mendesak adanya pengawalan ekstra di lapangan terbang terpencil.
Lapangan Terbang Korowai Batu Danowage sendiri memang terletak di lokasi yang sangat terisolasi. Hal ini dimanfaatkan oleh kelompok bersenjata untuk melakukan serangan mendadak tanpa adanya perlawanan dari aparat keamanan setempat.
Kasus ini kini menjadi atensi khusus bagi Satgas Damai Cartenz. Upaya pengejaran terhadap pelaku penembakan dan pembantaian tersebut terus dilakukan guna memberikan rasa keadilan bagi keluarga korban.
Masyarakat sipil di Boven Digoel pun turut mengecam aksi kekerasan yang menewaskan kru pesawat tersebut. Mereka menilai aksi KKB hanya akan semakin menyulitkan pasokan logistik dan akses kesehatan ke wilayah pedalaman.
Hingga berita ini diturunkan, proses penyelidikan masih berlangsung secara tertutup untuk menjaga kerahasiaan operasi keamanan. Penjagaan di bandara-bandara kecil di wilayah Papua Selatan pun mulai diperketat.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Identitas Pilot dan Kopilot Smart Air yang Tewas Ditembaki KKB di Papua Selatan
| BI Dorong Swasembada dan Hilirisasi Pangan Sulampua, Jagung Jadi Prioritas Strategis |
|
|---|
| 4 Ribu ASN Bakal Jalani Latihan Militer Program Komcad, Dimulai April 2026 |
|
|---|
| Estimasi Gaji Direksi dan Komisaris BSG Terungkap, Ada yang Terima Rp150 Juta per Bulan |
|
|---|
| Lowongan Kerja Kemenkop: Bussines Assistant Koperasi Merah Putih 2026, Simak Syarat dan Jadwalnya |
|
|---|
| Agenda Kunjungan Wamen Stella di Gorontalo, Bandara Hingga Boalemo |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.