Ramadan 2026

Jadwal Sidang Isbat Ramadan 2026, Potensi Perbedaan Awal Puasa NU dan Muhammadiyah

Umat Muslim di Indonesia bersiap menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada Februari 2026.

Editor: Fadri Kidjab
Tangkapan layar KompasTV
SIDANG ISBAT - Foto Konferensi pers sidang isbat 1 Ramadhan 1446 Hijriah. Simak jadwal sidang isbat untuk penentuan 1 Ramadan tahun 2026. (Sumber Foto: Ahmad Zilky/Kompas.com) 

Pihaknya mengaku sudah memantau tren data koordinat bulan sejak awal tahun untuk memberikan edukasi dini kepada masyarakat.

"Perbedaan penetapan Puasa Ramadan bukan hal baru di Indonesia. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan metode dan kriteria yang digunakan oleh masing-masing organisasi keagamaan," ujar Thobib dalam keterangannya seperti dilansir TribunGorontalo.com dari Surya.co.id, Kamis (5/2/2026).

Meski terdapat prediksi perbedaan, pemerintah mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan menjadikan keberagaman ini sebagai rahmat. 

Tahapan dan Mekanisme Sidang Isbat

Sidang Isbat penentuan awal Ramadan 1447 H akan dilakukan melalui serangkaian tahapan ketat untuk memastikan keakuratan data. Tahap pertama dimulai dengan pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kemenag yang disiarkan secara terbuka.

Setelah pemaparan sains, tahap kedua adalah sidang tertutup. Di sini, laporan dari ratusan titik rukyat (pemantauan langsung) di seluruh Indonesia dikumpulkan.

Petugas di lapangan akan melaporkan apakah mereka berhasil melihat hilal atau tidak di bawah sumpah.

Hasil diskusi antara perwakilan ormas Islam, ahli astronomi, dan pejabat negara ini kemudian akan disahkan oleh Menteri Agama.

Terakhir, keputusan tersebut akan diumumkan kepada publik melalui konferensi pers resmi yang sangat dinantikan jutaan penduduk Indonesia.

Pemerintah tidak bekerja sendirian dalam proses ini. Sidang Isbat melibatkan kolaborasi lintas sektoral yang melibatkan lembaga-lembaga kredibel. Selain ormas seperti NU, Muhammadiyah, PERSIS, dan Al-Irsyad, pakar dari BMKG dan BRIN juga turut memberikan data teknis.

Kehadiran perwakilan dari Planetarium Jakarta dan berbagai observatorium daerah menambah bobot ilmiah dalam sidang tersebut. Hal ini membuktikan bahwa penetapan agama di Indonesia selalu didasarkan pada dialog antara teks keagamaan dan realitas sains.

Duta besar negara-negara sahabat juga diundang hadir sebagai bentuk transparansi dan persaudaraan internasional. Hal ini penting mengingat penentuan awal Ramadan di Indonesia sering kali menjadi perhatian negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.

Metode Muhammadiyah (Wujudul Hilal)

PANTAUAN HILAL--Pemantauan hilal 1 Ramadan 1446 Hijiriyah akan dilakukan di Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Jumat (28/2/2025).Penentu 1 Ramadan 2025 ini dinamakan rukyat hilal atau disebut juga pengamatan bulan sabit pertama setelah konjungsi atau ijtima.Pantauan hilal tersebut akan dilakukan pada pukul 18.03 Wita. Namun pihak Stasiun Geofisika BMKG Gorontalo telah berada dilokasi pukul 16.00 Wita.
PANTAUAN HILAL -- Pemantauan hilal 1 Ramadan 1446 Hijiriyah akan dilakukan di Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Jumat (28/2/2025) (FOTO: Jefri Potabuga, TribunGorontalo.com.)

Bagi warga Muhammadiyah, kepastian tanggal 18 Februari 2026 sebagai 1 Ramadan 1447 H didasarkan pada perhitungan matematis yang presisi. Metode Wujudul Hilal tidak mengharuskan bulan terlihat secara mata telanjang atau teleskop.

Kriteria utama Muhammadiyah adalah telah terjadi ijtima' (konjungsi) sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam, bulan masih berada di atas ufuk. Berdasarkan data, pada 17 Februari sore, kondisi ini terpenuhi bagi mereka.

Sebaliknya, NU memiliki prinsip bahwa awal bulan Hijriah hanya bisa ditetapkan melalui pengamatan mata langsung (rukyah). Jika mendung menghalangi penglihatan, maka hasil perhitungan hisab digunakan sebagai alat bantu, namun bukan penentu utama.

Kriteria MABIMS yang diadopsi pemerintah saat ini jauh lebih ketat dibandingkan kriteria lama. Syarat tinggi 3 derajat dimaksudkan agar gangguan cahaya syafak (senja) tidak menutupi cahaya hilal yang sangat tipis, sehingga hasil pengamatan benar-benar valid secara ilmiah.

Sumber: Surya
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved