Ramadan 2026
Berapa Hari Lagi Puasa Ramadan? Begini Hukum Puasa Sambil Diet Menurut Ulama
Menjelang Ramadan, muncul pertanyaan penting: berapa hari lagi puasa dan bolehkah puasa sambil diet? Simak penjelasan hukumnya menurut fikih.
Ringkasan Berita:
- Puasa sah jika niat Ramadhan jelas, meski disertai tujuan diet
- Ulama berbeda pendapat soal pahala, tergantung dominasi niat
- Diet boleh jadi efek samping, bukan tujuan utama ibadah
TRIBUNGORONTALO.COM -- Puasa merupakan salah satu ibadah paling mulia dalam ajaran Islam.
Ibadah ini tidak sekadar menguji kekuatan jasmani, tetapi juga menuntut ketulusan hati dan kejujuran niat.
Dalam praktik puasa, seseorang bisa terlihat sama di mata manusia, namun nilai ibadahnya di hadapan Allah sepenuhnya ditentukan oleh apa yang terlintas di dalam niat.
Baca juga: Mewabah di India, Ini Akasab Virus Nipah Menjadi Ancaman Serius Bagi Kesehatan Global
Seiring meningkatnya kesadaran akan pola hidup sehat, muncul pertanyaan yang kerap mengemuka di tengah umat: bagaimana hukum berpuasa dengan tujuan diet?
Apakah puasanya tetap sah, dan bagaimana kedudukan pahalanya?
Isu ini semakin relevan, terutama saat bulan Ramadan, ketika manfaat kesehatan puasa sering kali disandingkan dengan tujuan ibadah itu sendiri.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Islam telah memberikan landasan yang tegas melalui konsep niat, yang dibahas secara mendalam dalam khazanah fikih klasik.
Baca juga: Purbaya Siap “Obrak-Abrik” Pajak dan Bea Cukai, Pejabat Pelabuhan Jadi Sorotan
Puasa dan Peran Sentral Niat dalam Islam
Dalam ajaran Islam, niat merupakan inti dari setiap amal perbuatan. Tanpa niat yang benar, sebuah aktivitas tidak bernilai ibadah. Rasulullah SAW menegaskan:
Innamal a‘mālu binniyyāt.
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya.” (HR. al-Bukhari)
Baca juga: Purbaya Beri Sinyal Bersih-bersih Pajak dan Bea Cukai, Pegawai Terancam Dirombak
Ayat Al-Qur’an pun menegaskan tujuan utama puasa, bukan semata menahan lapar, tetapi membentuk ketakwaan:
Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa niat merupakan kompas batin yang menentukan arah sebuah amal. Dari niat itulah nilai suatu perbuatan ditentukan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ilustrasi-puasa_jpg.jpg)