Longsor Cisarua
23 Anggota Marinir Jadi Korban Longsor Bandung Barat Saat Simulasi Penugasan Perbatasan RI-PNG
Tragedi kemanusiaan menyelimuti wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menyusul bencana tanah longsor yang menelan korban jiwa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Kondisi-lokasi-longsor-di-Desa-Pasirlangu-Kecamata.jpg)
Ringkasan Berita:
- Sebanyak 23 anggota Korps Marinir TNI AL tertimbun longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua
- Akibat akses jalan yang sempit dan cuaca ekstrem, alat berat sulit masuk ke lokasi
- Total 29 kantong jenazah telah dievakuasi, di mana tim DVI Polri terus bekerja mengidentifikasi para korban dari total 113 warga yang terdampak
TRIBUNGORONTALO.COM – Tragedi kemanusiaan menyelimuti wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menyusul bencana tanah longsor yang menelan korban jiwa, termasuk puluhan prajurit elit TNI Angkatan Laut.
Sebanyak 23 anggota Korps Marinir TNI AL dilaporkan menjadi korban dalam musibah besar yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, pada Sabtu (24/1/2026) dini hari tersebut.
Upaya penyelamatan kini menjadi prioritas utama dengan mengerahkan segala sumber daya, mulai dari teknologi canggih seperti drone thermal hingga anjing pelacak, guna menyisir material longsor yang sangat tebal.
Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Muhammad Ali telah mengonfirmasi secara resmi mengenai kondisi puluhan prajuritnya yang tertimbun material tanah.
Dalam keterangannya, Laksamana Muhammad Ali menyebutkan bahwa insiden ini telah dilaporkan secara langsung kepada pimpinan tertinggi pertahanan negara.
"Atas izin Bapak Menhan dan Bapak Panglima, saya menyampaikan terkait dengan kejadian bencana alam yang terjadi di Jawa Barat," ujar KSAL dalam siaran persnya seperti dilansir TribunGorontalo.com dari KompasTV, Senin (26/1/2026).
KSAL membenarkan bahwa lokasi terdampak mencakup area di mana para prajurit Marinir sedang menjalankan misi penting.
"Memang terdapat 23 anggota Marinir yang tertimbun longsor di lokasi tersebut," tambahnya dengan nada prihatin.
Berdasarkan laporan terkini pada Senin (26/1/2026), beberapa personel TNI AL memang telah berhasil ditemukan oleh tim gabungan.
Namun, Ali menegaskan bahwa masih banyak anggota lainnya yang hingga kini statusnya belum ditemukan dan dalam proses pencarian intensif.
Proses evakuasi di lapangan menghadapi kendala yang sangat berat karena faktor geografis dan aksesibilitas.
Laksamana Ali menjelaskan bahwa alat berat hingga saat ini belum bisa menembus titik utama longsor secara maksimal.
Kondisi jalan yang sempit serta cuaca yang tidak menentu menjadi penghambat utama bagi kendaraan berat untuk masuk ke area bencana.
Oleh karena itu, pihak TNI AL dan tim SAR gabungan memutuskan untuk memaksimalkan penggunaan teknologi mutakhir.