Berita Nasional
IDAI Ingatkan Bahaya Tersembunyi Cacar Air, Virus Bisa Aktif Kembali Saat Imun Turun
Cacar air selama ini kerap dipersepsikan sebagai penyakit ringan yang lazim dialami anak-anak dan tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Ringkasan Berita:
- IDAI mengingatkan bahwa cacar air bukan penyakit ringan karena virus varicella zoster tetap menetap di tubuh dan bisa aktif kembali saat imun menurun.
- Reaktivasi virus tersebut dapat menyebabkan herpes zoster, terutama pada lansia atau individu dengan daya tahan tubuh lemah.
- IDAI menegaskan imunisasi varicella sejak usia satu tahun merupakan cara paling aman untuk mencegah infeksi dan risiko jangka panjangnya.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Cacar air selama ini kerap dipersepsikan sebagai penyakit ringan yang lazim dialami anak-anak dan tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa pandangan tersebut perlu diluruskan karena cacar air menyimpan risiko jangka panjang yang kerap luput dari perhatian.
Penyakit ini disebabkan oleh virus varicella zoster yang tidak sepenuhnya hilang dari tubuh meski penderitanya telah dinyatakan sembuh.
Dalam kondisi tertentu, virus tersebut dapat kembali aktif dan memicu penyakit lain yang lebih berat di kemudian hari, terutama saat sistem kekebalan tubuh melemah.
Ketua Umum IDAI, dr Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa infeksi cacar air merupakan fase awal dari keberadaan virus varicella di dalam tubuh manusia.
Baca juga: DPR Soroti Pemda Habiskan Rp 1 Miliar per Hari untuk Konsumsi, Kemendagri Dipanggil Klarifikasi
Setelah infeksi primer tersebut, virus tidak musnah, melainkan menetap dalam keadaan tidak aktif atau dorman selama bertahun-tahun.
“Virusnya sebenarnya tetap sama. Pada saat varicella, terjadi infeksi primer. Setelah itu virusnya tidur. Di kemudian hari, misalnya saat usia lanjut atau ketika daya tahan tubuh menurun, virus ini bisa muncul kembali sebagai Varicella-Zoster Virus,” kata dr Piprim dalam media briefing virtual, Kamis (15/1/2025).
Kemunculan kembali virus tersebut dikenal sebagai herpes zoster atau cacar api, yang umumnya dialami oleh lansia atau individu dengan sistem imun yang lemah.
Kondisi ini sering kali disertai nyeri hebat dan komplikasi yang dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya.
Menurut dr Piprim, varicella sejatinya merupakan penyakit yang dapat dicegah secara efektif melalui imunisasi.
IDAI merekomendasikan pemberian vaksin varicella sejak anak berusia satu tahun dengan dua kali dosis untuk perlindungan optimal.
“Imunisasi varicella sudah terbukti efektif. Diberikan mulai usia satu tahun sebanyak dua dosis, dan tingkat perlindungannya bisa mencapai sekitar 99 persen,” jelasnya.
Selain mencegah terjadinya cacar air pada anak, imunisasi juga berperan dalam menurunkan risiko reaktivasi virus di kemudian hari.
Dengan menekan keberadaan virus di dalam tubuh, kemungkinan munculnya herpes zoster saat dewasa atau lansia menjadi lebih kecil.
IDAI juga mengingatkan bahwa meskipun pada sebagian besar anak cacar air tampak ringan, penyakit ini tidak selalu berjalan tanpa komplikasi.
Risiko yang lebih berat justru meningkat pada remaja, orang dewasa, serta anak-anak yang memiliki penyakit penyerta atau kondisi komorbid.
“Pada anak kecil sering kali gejalanya ringan. Tapi pada remaja atau orang dewasa, manifestasinya bisa lebih berat. Apalagi kalau ada komorbid, risikonya jelas lebih tinggi,” ujar dr Piprim.
Komplikasi cacar air dapat berupa infeksi kulit berat, gangguan paru, hingga peradangan otak dalam kasus tertentu.
Karena itu, pencegahan melalui imunisasi dinilai jauh lebih aman dibandingkan harus menghadapi risiko infeksi alami.
Dalam kesempatan tersebut, dr Piprim juga menyinggung praktik lama yang masih ditemukan di masyarakat, yakni sengaja “menularkan” cacar air dengan cara mengumpulkan anak-anak agar tertular bersama demi mendapatkan kekebalan.
Menurutnya, cara tersebut tidak sejalan dengan prinsip kesehatan anak dan justru menyimpan bahaya jangka panjang.
“Memang setelah kena varicella bisa kebal. Tapi virusnya kemudian tidur di dalam tubuh. Saat usia lanjut atau imun turun, virus itu bisa muncul kembali sebagai herpes,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa kekebalan yang diperoleh melalui vaksin jauh lebih aman dibandingkan kekebalan akibat infeksi alami yang menyisakan risiko reaktivasi virus.
IDAI pun mengimbau para orang tua untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya imunisasi varicella. Penyakit ini bersifat menular, sementara vaksin yang aman dan efektif sudah tersedia.
Upaya pencegahan dinilai krusial, terutama untuk melindungi anak-anak dengan kondisi kesehatan tertentu yang berisiko mengalami komplikasi lebih berat bila terinfeksi.
“Vaksinasi varicella tetap jauh lebih baik dibandingkan anak harus terkena infeksi alaminya,” tegas dr Piprim.
Ia berharap cakupan imunisasi varicella di Indonesia terus meningkat agar anak-anak dapat tumbuh sehat, terlindungi sejak dini, dan terhindar dari risiko penyakit yang bisa muncul kembali di masa depan.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-Cacar-Air.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.