Peristiwa Terkini
Berangkat ke RS Tanpa Uang, Ibu Hamil 9 Bulan Malah Lahiran Anak ke-5 di Musala
Seorang ibu rumah tangga di Palembang, Sumatera Selatan, harus melewati momen paling genting dalam hidupnya di tempat yang tak pernah ia bayangkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/MELAHIRKAN-DI-MUSALA-Wanita-bernama-Nuraini-dibantu-warga-melahirkan-di-Musala-Al-Ikhlas.jpg)
Ringkasan Berita:
- Seorang ibu rumah tangga di Palembang terpaksa melahirkan anak kelimanya di teras musala karena tidak memiliki biaya dan Kartu Indonesia Sehat.
- Ia melahirkan dengan bantuan warga setelah mengalami kontraksi hebat di tengah perjalanan mencari pertolongan medis.
- Peristiwa ini mendapat perhatian Wali Kota Palembang yang menegaskan fasilitas kesehatan dilarang menolak pasien meski hanya membawa KTP.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Seorang ibu rumah tangga di Palembang, Sumatera Selatan, harus melewati momen paling genting dalam hidupnya di tempat yang tak pernah ia bayangkan.
Mata Nuraini (32) melahirkan anak kelimanya di teras Musala Al Ikhlas setelah keterbatasan ekonomi membuatnya tak mampu mengakses layanan kesehatan.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin pagi (12/1/2026). Saat ditemui keesokan harinya, Selasa (13/1/2026), Nuraini masih menjalani perawatan di Klinik Bidan Rahayu.
Tubuhnya terlihat lemah, dengan infus terpasang di tangan, namun ia berusaha menceritakan apa yang dialaminya.
Nuraini mengatakan rasa sakit mulai muncul sejak Minggu malam sekitar pukul 23.00 WIB.
Saat itu usia kehamilannya telah memasuki sembilan bulan lebih.
Meski kontraksi mulai terasa, ia dan suaminya belum berani ke rumah sakit.
Alasannya sederhana sekaligus menyakitkan: tidak memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan tidak ada uang untuk biaya persalinan.
“Kami bingung. Mau ke rumah sakit, tapi tidak punya KIS dan biaya sama sekali,” ucap Nuraini dengan mata berkaca-kaca.
Keesokan paginya, sekitar pukul 06.00 WIB, Nuraini dan suaminya, Sakimin (40), memberanikan diri berangkat mencari pertolongan.
Baca juga: Terungkap Alasan Polda Gorontalo tak Tahan Zainuddin Hadjarati alias "Kakuhu"
Mereka hanya membawa KTP, tanpa bekal uang sepeser pun.
Namun, di tengah perjalanan, kondisi Nuraini memburuk.
Kontraksi semakin kuat dan ketuban pecah. Dalam keadaan panik, Sakimin menurunkan istrinya di pinggir jalan untuk mencari bantuan.
Nuraini sempat berada sendirian sebelum akhirnya beberapa warga datang menolong.
Ia kemudian dipapah ke teras Musala Al Ikhlas yang berada tak jauh dari lokasi.
Tanpa perlengkapan medis, tanpa bidan, dan hanya beralaskan kain seadanya, Nuraini akhirnya melahirkan di teras musala dengan bantuan warga sekitar.
Sekitar 15 menit kemudian, seorang bayi perempuan lahir dengan selamat.
Tangisan sang bayi menjadi satu-satunya penguat di tengah rasa sakit, malu, dan kepasrahan yang dirasakan Nuraini.
“Begitu dengar anak saya menangis, saya langsung menangis juga. Rasanya campur aduk,” katanya lirih.
Nuraini mengungkapkan, persoalan administrasi juga menjadi penghambat.
Pernikahannya belum tercatat secara resmi karena urusan surat nikah yang belum selesai. Kondisi itu membuatnya kesulitan mengurus KIS.
“Kami sudah berusaha mengurus, tapi belum selesai sampai sekarang,” ujarnya.
Dengan suami yang sedang tidak bekerja dan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, Nuraini berharap ada perhatian dari pemerintah daerah untuk membantu keluarganya melewati masa sulit ini.
Wali Kota Palembang Tegaskan Tak Boleh Ada Pasien Ditolak
Peristiwa melahirkan di teras musala tersebut memicu perhatian publik setelah videonya beredar luas di media sosial.
Video berdurasi sekitar 53 detik itu memperlihatkan Nuraini melahirkan secara normal dibantu warga.
Menanggapi hal itu, Wali Kota Palembang Ratu Dewa menegaskan agar seluruh fasilitas kesehatan dan tenaga medis di Palembang tidak menolak pasien dengan alasan apa pun.
“Walaupun hanya membawa KTP, pasien tidak boleh ditolak. Semua layanan kesehatan gratis,” tegas Ratu Dewa, Selasa (13/1/2026).
Ia menyatakan Pemerintah Kota Palembang terus memperkuat pelayanan kesehatan, mulai dari peningkatan fasilitas puskesmas, penyediaan dokter spesialis, hingga penambahan armada ambulans.
Menurut Ratu Dewa, kesehatan dan pendidikan merupakan dua pilar utama dalam membangun kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, pelayanan harus cepat, manusiawi, dan dapat diakses seluruh warga tanpa diskriminasi.
Komitmen tersebut ditegaskan kembali setelah viralnya kasus Nuraini, yang menjadi pengingat masih adanya warga yang kesulitan menjangkau layanan kesehatan akibat faktor ekonomi dan administrasi.
Salah seorang warga bernama Kamsah menyebut, saat kejadian, Nuraini dibantu sekitar empat orang warga hingga bayinya lahir dengan selamat. Tak lama berselang, seorang bidan datang untuk memotong tali pusat dan membawa bayi ke tempat praktik terdekat.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.