Berita Internasional
Rudal Berkemampuan Nuklir Rusia Menghantam Lviv, Kyiv Minta Respons Dunia
Rusia mengumumkan telah melancarkan operasi militer berskala besar terhadap Ukraina pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Rusia-mengklaim-telah-melancarkan-serangan-besar-ke-Ukraina.jpg)
Ringkasan Berita:
- Rusia mengklaim telah melancarkan serangan besar ke Ukraina dengan menggunakan rudal balistik Oreshnik yang berkemampuan nuklir, termasuk ke wilayah Lviv yang dekat dengan perbatasan UE dan NATO.
- Ukraina membantah alasan Rusia dan menilai serangan tersebut sebagai ancaman serius bagi keamanan Eropa.
- Kyiv pun mendesak respons internasional tegas dan akan meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Rusia mengumumkan telah melancarkan operasi militer berskala besar terhadap Ukraina pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari.
Dalam serangan tersebut, Moskow mengakui penggunaan rudal balistik Oreshnik yang memiliki kemampuan membawa hulu ledak nuklir, menyasar sejumlah wilayah Ukraina, termasuk area yang berdekatan dengan perbatasan Uni Eropa (UE) dan NATO.
Pemerintah Rusia menyebut serangan itu sebagai aksi balasan atas dugaan upaya serangan Ukraina terhadap sebuah kediaman milik Presiden Vladimir Putin pada akhir Desember lalu.
Klaim tersebut dibantah secara tegas oleh Kyiv dan hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen.
Salah satu sasaran serangan dilaporkan berada di wilayah Lviv, Ukraina barat, yang secara geografis dekat dengan kawasan UE dan NATO.
Baca juga: Sumitra dan Anaknya Belum Ditemukan, Namun Operasi SAR di Sungai Paguyaman Terpaksa Ditutup
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menilai serangan itu membawa implikasi serius bagi keamanan Eropa.
“Peluncuran rudal di dekat perbatasan Uni Eropa dan NATO merupakan ancaman nyata terhadap keamanan benua Eropa,” tulis Sybiha melalui platform X.
Penggunaan rudal Oreshnik dalam serangan ini tercatat sebagai kali kedua Rusia mengerahkan senjata tersebut dalam situasi tempur terbuka, setelah sebelumnya digunakan dalam serangan ke wilayah Dnipro pada November 2024.
Oreshnik dikenal sebagai rudal hipersonik jarak menengah dengan kemampuan membawa muatan nuklir.
Serangan ke Lviv merupakan bagian dari rangkaian serangan yang lebih luas ke berbagai wilayah Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa waktu dan skala serangan menunjukkan adanya upaya Rusia untuk memaksimalkan dampak terhadap masyarakat sipil.
Ia menyebut sasaran utama serangan adalah infrastruktur energi dan fasilitas sipil, terutama saat Ukraina menghadapi cuaca musim dingin ekstrem.
“Serangan ini dilakukan tepat ketika suhu ekstrem melanda. Ini adalah serangan langsung terhadap kehidupan normal warga sipil,” tulis Zelenskyy di X.
Zelenskyy juga menyerukan respons internasional yang cepat dan tegas. Menurutnya, sikap Amerika Serikat memiliki pengaruh besar terhadap langkah-langkah yang akan diambil Moskow.
“Dunia harus memberikan sinyal yang jelas. Rusia sangat memperhatikan sikap Washington,” ujarnya.
“Setiap keputusan Rusia untuk terus membunuh dan menghancurkan infrastruktur harus diikuti konsekuensi.”
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa operasi militer tersebut dilakukan sebagai respons atas dugaan serangan Ukraina terhadap kediaman Presiden Putin pada 29 Desember.
Pemerintah Ukraina membantah klaim tersebut dan menyebutnya tidak berdasar.
Menanggapi pernyataan Moskow, Menlu Ukraina Andrii Sybiha menyebut alasan tersebut sebagai dalih yang tidak masuk akal.
“Sangat absurd Rusia berusaha membenarkan serangan ini dengan klaim palsu tentang serangan terhadap kediaman Putin yang tidak pernah terjadi,” tulis Sybiha.
“Ini kembali menunjukkan bahwa Rusia tidak membutuhkan alasan nyata untuk melanjutkan teror dan perang.”
Zelenskyy mengungkapkan bahwa selain rudal Oreshnik, Rusia juga meluncurkan 13 rudal balistik lainnya, 22 rudal jelajah, serta mengerahkan 242 unit drone dalam serangan tersebut.
Ia menyebut sebuah gedung Kedutaan Besar Qatar turut mengalami kerusakan akibat serangan drone Rusia.
Serangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik Ukraina bersama negara-negara Eropa dan Amerika Serikat untuk mencari jalan keluar dari konflik yang mendekati tahun keempat.
Pada awal pekan ini, sejumlah sekutu Kyiv menyepakati rencana penempatan pasukan multinasional di Ukraina jika tercapai kesepakatan damai dengan Rusia.
Dari sisi teknis militer, Komando Udara Wilayah Barat Ukraina menyebut rudal Oreshnik yang menghantam wilayah Lviv melaju dengan kecepatan mendekati 13.000 kilometer per jam.
Sejumlah laporan di media sosial menyebutkan serangan terjadi hanya beberapa menit setelah sirene peringatan udara berbunyi.
Administrasi militer wilayah Lviv menyatakan bahwa tim ahli telah melakukan pemeriksaan lapangan serta analisis laboratorium pascaserangan.
“Hasil pengukuran menunjukkan tingkat radiasi berada dalam batas normal,” demikian pernyataan resmi otoritas setempat, yang juga menyebut tidak ditemukan zat berbahaya di udara.
Sybiha menambahkan bahwa Ukraina akan mengajukan permintaan pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membahas serangan tersebut.
“Peluncuran rudal ini di dekat wilayah UE dan NATO merupakan ujian serius bagi keamanan Eropa dan solidaritas transatlantik,” tulisnya.
“Kami menuntut respons tegas terhadap tindakan Rusia yang sembrono.”
Sebagai informasi, pada akhir Desember lalu Rusia menempatkan sejumlah rudal Oreshnik di Belarus dalam status siap tempur.
Langkah itu dilakukan atas permintaan Presiden Belarus Alexander Lukashenko, yang menyatakan kekhawatiran atas keberadaan pasukan Polandia dan Lithuania di dekat perbatasan barat negaranya.
Sebelumnya, Presiden Vladimir Putin juga menyatakan bahwa Rusia berencana memproduksi massal rudal Oreshnik sebagai bagian dari strategi pertahanan nasional dan perlindungan terhadap negara-negara sekutu Moskow. (*)
| Ledakan Guncang Ibukota Iran di Hari Kelima Perang dengan Amerika, Serangan Terjadi saat Fajar |
|
|---|
| Terungkap! CCTV Iran Diretas untuk Lacak Rute Harian Ali Khamenei Sebelum 30 Rudal Ditembakkan |
|
|---|
| Fantastis! Amerika Rugi Rp 12 Triliun Hanya dalam 24 Jam Serang Iran, Ini Rincian Biayanya |
|
|---|
| Serangan Udara Hantam Ibu Kota Iran, Amerika Serikat Disebut Turut Terlibat |
|
|---|
| Presiden Amerika Donald Trump Heran Iran tak Juga Menyerah Padahal Diancam |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.