Berita Internasional
Eropa Kompak Bela Denmark, AS Diminta Tak Campuri Masa Depan Greenland
Sikap Amerika Serikat yang kembali menyinggung kepentingan strategis atas Greenland memicu reaksi keras dari Eropa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/GEOPOLITIK-Klaim-AS-atas-Greenland-Picu-Reaksi-Bersama-Negara-Eropa.jpg)
Ringkasan Berita:
- Negara-negara Eropa menyatakan dukungan penuh kepada Denmark setelah Amerika Serikat kembali menegaskan kepentingannya atas Greenland.
- Eropa menilai masa depan Greenland hanya dapat ditentukan oleh Denmark dan rakyat Greenland, bukan melalui tekanan geopolitik pihak luar.
- Isu ini menambah ketegangan global, mengingat posisi strategis Greenland di kawasan Arktik dan perannya dalam keamanan internasional.
TRIBUNGORONTALO.COM — Sikap Amerika Serikat yang kembali menyinggung kepentingan strategis atas Greenland memicu reaksi keras dari Eropa.
Sejumlah negara sekutu utama di Benua Biru secara terbuka menyatakan berdiri di belakang Denmark, menegaskan bahwa masa depan Greenland bukanlah objek tawar-menawar geopolitik internasional.
Dalam pernyataan bersama yang disampaikan Selasa (6/1/2026), para pemimpin dari Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, Inggris, serta Denmark menekankan satu sikap: Greenland adalah milik rakyatnya.
Mereka menyatakan bahwa hanya Pemerintah Denmark bersama otoritas Greenland yang berhak menentukan arah politik dan status wilayah tersebut.
Baca juga: 453 Warga Gorontalo jadi Korban Banjir di Limboto Barat, Begini Kondisinya
Para pemimpin Eropa menilai setiap upaya pihak luar untuk menentukan masa depan Greenland bertentangan dengan prinsip kedaulatan dan hukum internasional.
Mereka juga menegaskan bahwa hubungan antara Denmark dan Greenland merupakan urusan internal yang tidak dapat diintervensi oleh negara lain.
AS Nilai Greenland Vital bagi Keamanan Nasional
Pernyataan kolektif Eropa itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyampaikan pandangan bahwa Greenland memiliki arti penting bagi kepentingan keamanan nasional Washington.
Trump menilai posisi geografis Greenland di kawasan Arktik serta potensi sumber daya alamnya menjadikan wilayah itu krusial bagi strategi pertahanan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut menuai sorotan karena Trump tidak sepenuhnya menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk mengamankan kepentingan AS di wilayah itu.
Sikap ini memunculkan kekhawatiran di kalangan sekutu NATO, mengingat Greenland berada dalam lingkup negara anggota aliansi tersebut.
Baca juga: Paus Leo XIV Akhiri Tahun Jubelium Pengharapan 2025, Tutup Pintu Suci Basilika St Petrus Vatikan
Kontroversi semakin menguat setelah pejabat senior Gedung Putih, Stephen Miller, menyatakan bahwa tidak akan ada pihak yang mampu menantang Amerika Serikat secara militer terkait isu Greenland. Ucapan itu memicu reaksi luas dan memperdalam kegelisahan di Eropa.
Eropa Ingatkan Arktik Bukan Ruang Aksi Sepihak
Merespons dinamika tersebut, para pemimpin Eropa menegaskan bahwa keamanan kawasan Arktik harus dibangun melalui kerja sama kolektif, bukan langkah sepihak.
Mereka menekankan bahwa NATO merupakan forum utama untuk menjaga stabilitas kawasan, termasuk dengan keterlibatan Amerika Serikat sebagai mitra.
Eropa juga mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, terutama prinsip penghormatan terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah negara lain.
Menurut mereka, stabilitas global tidak akan tercapai jika kepentingan keamanan dijadikan alasan untuk mengabaikan hukum internasional.
Denmark dan Greenland Angkat Suara
Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, secara terbuka menyampaikan penolakan keras terhadap tekanan yang diarahkan kepada negaranya.
Ia bahkan memperingatkan bahwa setiap serangan militer terhadap wilayah anggota NATO akan berdampak serius terhadap keberlangsungan aliansi tersebut.
Sementara itu, Pemerintah Greenland menyatakan sikap tegas namun terbuka.
Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menyampaikan bahwa pihaknya siap berdialog secara konstruktif dan saling menghormati, namun menolak segala bentuk ancaman, tekanan, maupun paksaan terhadap status otonomi Greenland.
Ketegangan mengenai Greenland tidak berdiri sendiri. Isu ini mencuat di tengah meningkatnya ketegangan global, termasuk memburuknya hubungan trans-Atlantik setelah sejumlah langkah militer Amerika Serikat di kawasan lain yang memicu perhatian internasional.
Dengan populasi sekitar 57.000 jiwa, Greenland memang memiliki nilai strategis tinggi.
Selain berperan penting dalam sistem pertahanan Arktik, wilayah ini juga menyimpan sumber daya mineral yang dibutuhkan industri teknologi global, menjadikannya titik perhatian kekuatan-kekuatan besar dunia.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.