Mahasiswa Unima Meninggal
Bukan Akhiri Hidup? Keluarga Pertanyakan Kematian Mahasiswi UNIMA, Curiga Dibunuh
Pihak keluarga mahasiswi yang ditemukan meninggal dunia secara tidak wajar di kamar kos di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, menyatakan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/MAHASISWI-MENINGGAL-Pihak-keluarga-Antoineta-Evia-Maria-Mangolo-mahasiswa-UNIMA-y.jpg)
Ringkasan Berita:
- Keluarga mahasiswi Antoineta Evia Maria Mangolo yang ditemukan tewas di kamar kos di Tomohon meragukan dugaan bunuh diri dan menduga korban dibunuh.
- Kecurigaan muncul setelah ditemukan sejumlah kejanggalan pada tubuh korban serta beredarnya surat yang mengungkap dugaan pelecehan oleh oknum dosen.
- Keluarga pun memutuskan melakukan otopsi dan meminta penanganan profesional dari kepolisian.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Pihak keluarga mahasiswi yang ditemukan meninggal dunia secara tidak wajar di kamar kos di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, menyatakan keraguan terhadap dugaan kematian akibat mengakhiri hidup.
Keluarga menduga korban meninggal karena tindak pembunuhan.
Kecurigaan tersebut disampaikan keluarga melalui kuasa hukum mereka, Cyprus Tatali, saat ditemui di rumah persemayaman jenazah di Perumahan CBA Gold, Mapanget, Kabupaten Minahasa Utara, Jumat (2/1/2026).
Korban diketahui bernama Antoineta Evia Maria Mangolo, seorang mahasiswi yang kematiannya menjadi perhatian publik setelah beredarnya sebuah surat tulisan tangan yang diduga dibuat oleh korban sebelum meninggal dunia.
Dalam surat tersebut, korban mengungkap dugaan pelecehan seksual yang dialaminya oleh seorang oknum dosen di Universitas Negeri Manado (Unima), Tondano, Kabupaten Minahasa.
Baca juga: Pesta Tahun Baru di Lokasi Tambang Emas Pani Gorontalo, Limonu: Menyakiti Masyarakat Pohuwato
Isu dugaan pelecehan tersebut mencuat ke publik setelah Evia ditemukan meninggal dunia.
Evia ditemukan tewas di dalam kamar kos dengan posisi tubuh tergantung, sehingga pada awalnya muncul dugaan bahwa kematian tersebut merupakan akibat bunuh diri.
Namun, pihak keluarga menilai terdapat sejumlah kejanggalan yang membuat mereka meragukan kesimpulan tersebut.
Cyprus Tatali menyampaikan bahwa keluarga korban telah memutuskan untuk melakukan otopsi guna memastikan penyebab kematian Evia secara medis dan ilmiah.
“Untuk menghindari adanya penafsiran yang berbeda-beda, keluarga memutuskan agar dilakukan otopsi,” ujar Cyprus Tatali.
Ia menjelaskan bahwa ayah korban telah membawa jenazah Evia untuk menjalani proses otopsi beberapa hari sebelumnya.
Menurutnya, langkah tersebut diambil karena ditemukan indikasi yang dinilai tidak lazim dalam kematian korban.
Cyprus mengungkapkan adanya luka lebam di sejumlah bagian tubuh korban, serta kondisi kain yang digunakan korban dinilai berada dalam posisi yang tidak wajar.
Temuan-temuan tersebut semakin menguatkan kecurigaan keluarga bahwa kematian Evia bukan disebabkan oleh tindakan mengakhiri hidup.