Berita Nasional
Guru Honorer 16 Tahun di Pati Terpaksa Pensiun Dini, PGRI Minta Pemerintah Tak Abaikan Pengabdian
Selama 16 tahun mengabdikan diri sebagai guru honorer, Zunaidi (bukan nama asli) tak pernah membayangkan harus mengakhiri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/pin-PNS.jpg)
Ketua PGRI Kabupaten Pati, Tri Manto, menyampaikan keprihatinan atas kebijakan ini.
Menurutnya, meski banyak tenaga honorer telah diangkat melalui jalur PPPK paruh waktu, masih banyak sekolah kekurangan guru akibat pensiun maupun formasi PPPK yang belum terisi.
“Ada guru yang sudah mengabdi 16 tahun, tetapi statusnya masih honorer dengan gaji yang tidak seberapa,” ujarnya.
PGRI berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada guru honorer yang telah lama mengabdi.
“Harapan kami, guru honorer yang sudah puluhan tahun mengabdi dapat diangkat menjadi PPPK dan tetap bisa mengajar,” pungkas Tri Manto.
Surabaya Usulkan 14.600 Honorer Jadi PPPK Paruh Waktu
Sementara itu, BKPSDM Kota Surabaya tengah mengusulkan 14.600 honorer menjadi PPPK paruh waktu.
Kepala BKPSDM Surabaya, Ira Tursilowati, menjelaskan bahwa usulan ini sedang diproses di BKN.
“Semua tengah kita ajukan ke pusat. Nanti kami akan update lagi hasilnya,” katanya (10/12/2025).
Ira menegaskan, mekanisme PPPK paruh waktu bukan tes ulang. Honorer yang sudah terdata di BKN dan tidak lulus seleksi 2024 akan diverifikasi dokumennya sesuai kebutuhan formasi.
Hingga kini, Surabaya telah mengangkat lebih dari 8.000 honorer menjadi PPPK penuh waktu, sementara sisanya akan dituntaskan melalui skema paruh waktu. (*)