Berita Internasional
Partikel Mikro Plastik Bisa Menembus Kulit, Bawa Zat Berbahaya dari Laut
Plastik kini hadir di hampir setiap sisi kehidupan modern, namun di balik kemudahannya, plastik dikenal sebagai material yang sangat sulit terurai
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Microplastic-on-Fingerjpg.jpg)
Setelahnya, mereka menganalisis lapisan yang menempel pada partikel tersebut dan mengujinya pada sel kulit yang dikultur di laboratorium.
Hasilnya mengejutkan: partikel nanoplastik dengan lapisan alami laut lebih sulit diserang oleh sistem imun dibandingkan partikel polos yang belum terpapar lingkungan.
“Dalam riset sebelumnya, kami tahu partikel polos bisa memicu reaksi sel kulit. Tapi kali ini, partikel yang sudah berinteraksi dengan air laut justru lebih lihai menghindar dari respons imun,” ujar Xu.
Penelitian ini mengungkap betapa kompleksnya masalah nanoplastik. Bukan hanya partikel plastik itu sendiri, tetapi juga lapisan alami yang mereka bawa dari lingkungan, baik dari protein laut, ganggang, maupun bahan kimia lain.
“Kami baru meneliti satu jenis lapisan, yaitu protein. Tapi bagaimana dengan racun dari alga, atau zat kimia saat banjir yang mencampur berbagai kontaminan? Itu masih harus dieksplorasi,” kata Xu.
Bahkan jika nanti ilmuwan berhasil mencegah penyerapan jenis nanoplastik tertentu, perubahan lingkungan di masa depan bisa menciptakan lapisan baru yang menuntut strategi berbeda.
“Bayangkan jika dalam 10 atau 20 tahun, kondisi laut berubah dan lapisannya berbeda, mungkin kita harus mulai dari nol lagi,” ujarnya.
Xu menilai, langkah awal yang penting adalah membuat standarisasi riset nanoplastik internasional, agar hasil antarpeneliti lebih konsisten.
“Kami sering melihat hasil berbeda dari partikel yang sama, hanya karena peneliti lain tidak memperhitungkan lapisan lingkungan,” jelasnya. “Kami butuh konsistensi jangka panjang.”
Ke depan, tim Xu akan melanjutkan penelitian untuk mengidentifikasi berbagai jenis lapisan alami lain yang ditemukan pada partikel plastik di air laut.
“Kami sudah menerima banyak pertanyaan soal lapisan lain selain protein,” katanya. “Ini pekerjaan besar, tapi penting untuk memahami sepenuhnya skala masalah ini.”
Riset Dr. Wei Xu menunjukkan bahwa nanoplastik tak hanya mencemari lautan, tapi juga berpotensi menembus kulit manusia terutama jika sudah berinteraksi dengan lingkungan.
Temuan ini memperluas pandangan dunia sains tentang ancaman plastik mikro terhadap kesehatan dan pentingnya penelitian lintas disiplin untuk memahaminya.
(*)