Kamis, 5 Maret 2026

Berita Internasional

Partikel Mikro Plastik Bisa Menembus Kulit, Bawa Zat Berbahaya dari Laut

Plastik kini hadir di hampir setiap sisi kehidupan modern, namun di balik kemudahannya, plastik dikenal sebagai material yang sangat sulit terurai

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Partikel Mikro Plastik Bisa Menembus Kulit, Bawa Zat Berbahaya dari Laut
x.com
MICROPLASTIK --Xu meneliti bagaimana nanoplastik berinteraksi dengan air laut, yang ternyata dapat “menumpang” zat kimia dan komponen organik di lingkungan. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Plastik kini hadir di hampir setiap sisi kehidupan modern, namun di balik kemudahannya, plastik dikenal sebagai material yang sangat sulit terurai di alam bahkan bisa bertahan ratusan tahun.

Yang lebih mengkhawatirkan, plastik tak perlu benar-benar terurai untuk menimbulkan ancaman.

Seiring waktu, ia bisa melepaskan partikel mikroskopis berukuran sangat kecil yang disebut nanoplastik, dan para ilmuwan kini mulai meneliti dampaknya terhadap kesehatan manusia dalam jangka panjang.

Salah satu ilmuwan yang meneliti hal ini adalah Dr. Wei Xu, profesor di Departemen Fisiologi dan Farmakologi Veteriner, Texas A&M College of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Amerika Serikat.

Xu meneliti bagaimana nanoplastik berinteraksi dengan air laut, yang ternyata dapat “menumpang” zat kimia dan komponen organik di lingkungan.

“Ketika partikel plastik dilepaskan ke lingkungan, mereka bisa berinteraksi dengan berbagai bahan yang mengubah permukaannya, termasuk protein, bahan kimia, atau racun. Banyak orang fokus pada risiko tertelan nanoplastik, tapi kami ingin tahu bagaimana partikel ini bisa masuk lewat kulit, dan apa yang mereka bawa bersamanya,” jelas Dr. Xu.

Menembus Pertahanan Kulit

Dalam publikasi terbarunya, Xu dan tim menemukan bahwa nanoplastik yang telah ‘terlapisi’ oleh komponen lingkungan ternyata bisa menembus pertahanan alami kulit pada tingkat mikroskopis.

“Kami menemukan partikel dengan lapisan lingkungan ini dapat menumpuk di area tertentu di dalam sel dan mampu menghindari sistem pembuangan alami sel yang biasanya mencoba menghancurkan atau mengeluarkannya,” ujar Xu.

“Ibaratnya, mereka memakai kamuflase yang membuatnya bisa bertahan lebih lama di dalam tubuh.”

Temuan ini membuka kemungkinan bahwa kulit, bukan hanya sistem pencernaan, bisa menjadi jalur masuk penting bagi nanoplastik ke tubuh manusia.

Lingkungan juga terbukti memengaruhi bagaimana partikel ini berperilaku sebelum diserap oleh tubuh.

“Nanoplastik sendiri sudah berpotensi berbahaya, tapi kami juga perlu memahami apa efek dari ‘lapisan lingkungan’ yang mereka bawa ketika masuk ke tubuh,” tambah Xu.

Butiran Kecil, Penemuan Besar

Untuk memahami bagaimana lingkungan laut memengaruhi perilaku nanoplastik, tim Xu membuat butiran nanoplastik buatan yang direndam dalam air laut di lepas pantai Corpus Christi, Texas, selama 1–2 minggu.

Setelahnya, mereka menganalisis lapisan yang menempel pada partikel tersebut dan mengujinya pada sel kulit yang dikultur di laboratorium.
Hasilnya mengejutkan: partikel nanoplastik dengan lapisan alami laut lebih sulit diserang oleh sistem imun dibandingkan partikel polos yang belum terpapar lingkungan.

“Dalam riset sebelumnya, kami tahu partikel polos bisa memicu reaksi sel kulit. Tapi kali ini, partikel yang sudah berinteraksi dengan air laut justru lebih lihai menghindar dari respons imun,” ujar Xu.

Penelitian ini mengungkap betapa kompleksnya masalah nanoplastik. Bukan hanya partikel plastik itu sendiri, tetapi juga lapisan alami yang mereka bawa dari lingkungan, baik dari protein laut, ganggang, maupun bahan kimia lain.

“Kami baru meneliti satu jenis lapisan, yaitu protein. Tapi bagaimana dengan racun dari alga, atau zat kimia saat banjir yang mencampur berbagai kontaminan? Itu masih harus dieksplorasi,” kata Xu.

Bahkan jika nanti ilmuwan berhasil mencegah penyerapan jenis nanoplastik tertentu, perubahan lingkungan di masa depan bisa menciptakan lapisan baru yang menuntut strategi berbeda.

“Bayangkan jika dalam 10 atau 20 tahun, kondisi laut berubah dan lapisannya berbeda, mungkin kita harus mulai dari nol lagi,” ujarnya.

Xu menilai, langkah awal yang penting adalah membuat standarisasi riset nanoplastik internasional, agar hasil antarpeneliti lebih konsisten.

“Kami sering melihat hasil berbeda dari partikel yang sama, hanya karena peneliti lain tidak memperhitungkan lapisan lingkungan,” jelasnya. “Kami butuh konsistensi jangka panjang.”

Ke depan, tim Xu akan melanjutkan penelitian untuk mengidentifikasi berbagai jenis lapisan alami lain yang ditemukan pada partikel plastik di air laut.

“Kami sudah menerima banyak pertanyaan soal lapisan lain selain protein,” katanya. “Ini pekerjaan besar, tapi penting untuk memahami sepenuhnya skala masalah ini.”
 
Riset Dr. Wei Xu menunjukkan bahwa nanoplastik tak hanya mencemari lautan, tapi juga berpotensi menembus kulit manusia terutama jika sudah berinteraksi dengan lingkungan. 

Temuan ini memperluas pandangan dunia sains tentang ancaman plastik mikro terhadap kesehatan dan pentingnya penelitian lintas disiplin untuk memahaminya.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Kamis, 05 Maret 2026 (15 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:32
Subuh 04:42
Zhuhr 12:03
‘Ashr 15:13
Maghrib 18:06
‘Isya’ 19:14

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved