Berita Internasional
Alasan Maria Corina Machado Raih Nobel Perdamaian 2025, Kalahkan Donald Trump
Aktivis demokrasi asal Venezuela, Maria Corina Machado, resmi meraih Hadiah Nobel Perdamaian 2025, mengalahkan Presiden Amerika
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KUNJUNGAN-KERJA-Donald-Trump-kunjungi-Inggris-yang-kedua-kalinya.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Aktivis demokrasi asal Venezuela, Maria Corina Machado, resmi meraih Hadiah Nobel Perdamaian 2025.
Ia mengalahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya berulang kali menyatakan dirinya layak memenangkan penghargaan bergengsi tersebut.
Meski nama-nama nominasi Nobel tidak akan diumumkan hingga tahun 2075 sesuai kebijakan kerahasiaan 50 tahun dari Komite Nobel, pernyataan resmi setelah kemenangan Machado memberi sinyal alasan di balik keputusan tersebut.
“Kita hidup di dunia di mana demokrasi sedang mundur. Semakin banyak rezim otoriter yang menantang norma, menyalahgunakan hukum, membungkam media, memenjarakan pengkritik, dan mendorong masyarakat ke arah militerisasi,” tulis Komite Nobel.
Pernyataan itu dianggap sebagai sindiran halus terhadap gaya kepemimpinan Trump yang kerap dinilai otoriter dan kontroversial.
Pengumuman ini juga datang di tengah krisis politik di AS, dengan pemerintahan Trump menghadapi penutupan pemerintahan (government shutdown) yang mengancam ratusan pekerja federal, protes terhadap deportasi massal oleh ICE, serta kebijakan tarif dasar terhadap hampir seluruh mitra dagang AS.
Selain itu, upaya Trump yang diperdebatkan untuk mengerahkan Garda Nasional ke Chicago juga menambah kontroversi di tengah kepemimpinannya.
Meski Trump menerima banyak nominasi tidak resmi dari sejumlah pemimpin dunia seperti Rusia, Pakistan, dan Kamboja, serta dari beberapa anggota parlemen di AS, Swedia, dan Norwegia, hal itu tidak otomatis menjadikannya kandidat resmi penerima Nobel.
Hadiah Nobel Perdamaian 2025 sendiri diberikan kepada tokoh yang berjuang pada tahun sebelumnya.
Artinya, penghargaan tahun ini menyoroti upaya perdamaian sepanjang 2024, ketika Trump baru saja terpilih kembali namun belum menjabat sebagai presiden.
Sementara itu, Maria Corina Machado, yang dijuluki “Iron Lady dari Venezuela”, telah berjuang selama lebih dari dua dekade melawan rezim otoriter di negaranya.
Konsistensi dan keberaniannya dalam memperjuangkan demokrasi dianggap menjadi alasan utama dirinya dinilai lebih layak menerima penghargaan bergengsi dari Norwegia tersebut.
(*)
| Konflik Iran Picu Lonjakan Harga BBM di Amerika Gara-gara Jalur Minyak Dunia Terganggu |
|
|---|
| Serangan Drone Iran Tewaskan Tentara Amerika, Washington Curiga Ada Bantuan Intelijen Rusia |
|
|---|
| Hari Keenam Perang Iran-Amerika: Kapal Perang Tenggelam, Rudal Hantam Banyak Negara |
|
|---|
| Trump Ingin Terlibat Tentukan Pemimpin Baru Iran, Tolak Putra Ali Khamenei |
|
|---|
| Mayoritas Senat Dukung Trump, Hasilnya Amerika Bisa Lanjutkan Serangan ke Iran |
|
|---|