Sains dan Teknologi
Alkohol dalam Jumlah Kecil Sekalipun Bisa Rusak Fungsi Otak
Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan: tidak ada jumlah konsumsi alkohol yang aman ketika dikaitkan dengan risiko demensia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/rupanya-peminum-alkohol-berisiko-demensia-meski-meski-minum-alkohol.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan: tidak ada jumlah konsumsi alkohol yang aman ketika dikaitkan dengan risiko demensia.
Bahkan, minum dalam jumlah kecil maupun sedang ternyata tetap bisa meningkatkan risiko gangguan otak tersebut.
Studi ini dipublikasikan di jurnal BMJ Evidence-Based Medicine pada Selasa (24/9).
Penelitian tersebut melibatkan kolaborasi peneliti dari University of Oxford, Yale University, dan University of Cambridge, dengan menganalisis data setengah juta peserta dari US Million Veteran Program dan UK Biobank, serta memadukannya dengan uji genetik.
Tantang Keyakinan Lama
Selama ini, sejumlah penelitian sempat menyebut minum ringan hingga moderat bisa memberi efek perlindungan otak dibanding tidak minum sama sekali. Namun, hasil terbaru ini justru membalikkan anggapan itu.
“Temuan kami menantang keyakinan umum bahwa konsumsi alkohol dalam kadar rendah bermanfaat bagi kesehatan otak. Bukti genetik tidak mendukung efek perlindungan itu—bahkan menunjukkan sebaliknya,” kata Anya Topiwala, peneliti klinis senior dari University of Oxford yang memimpin riset.
Topiwala menegaskan, “Bahkan konsumsi ringan atau moderat dapat meningkatkan risiko demensia. Mengurangi konsumsi alkohol di masyarakat bisa menjadi langkah penting dalam pencegahan demensia.”
Risiko Meningkat Seiring Tambahan Gelas
Laporan tersebut menyebutkan, peningkatan konsumsi alkohol tiga kali lipat bisa menaikkan risiko demensia hingga 15 persen. Misalnya, dari satu gelas per minggu menjadi tiga gelas.
Pada orang yang rentan terhadap ketergantungan alkohol, peningkatan dua kali lipat saja sudah cukup menaikkan risiko hingga 16 persen.
Daniel Levey, ilmuwan kesehatan dari Yale University sekaligus penulis studi, menambahkan bahwa riset sebelumnya bisa saja bias.
“Ada kemungkinan seseorang berhenti minum lalu tercatat sebagai non-drinker, padahal sebenarnya mereka sudah memiliki risiko tinggi terkena demensia,” ujarnya.
Peneliti menemukan bahwa variasi genetik memengaruhi cara tubuh memecah alkohol.
Analisis observasional memang sempat menunjukkan konsumsi rendah hingga moderat berkaitan dengan risiko demensia lebih rendah dibanding tidak minum sama sekali. Namun, analisis genetik justru menemukan hal sebaliknya.
| SpaceX Luncurkan 28 Satelit ke Orbit Rendah Bumi, Warga California Sempat Dengarkan Sonic Boom |
|
|---|
| iPhone 17 Kena Masalah Serius, Pengguna Keluhkan Sinyal Hilang dan Wi-Fi Putus |
|
|---|
| Apple Punya Jurus Rahasia untuk iPhone Lipat, Siap Balikkan Dominasi Samsung dan Google? |
|
|---|
| Tablet Sultan Baru! Samsung Tab S11 Ultra Usung Layar 14,6 Inci AMOLED |
|
|---|
| Belanda Paksa Facebook-Instagram Kembali ke Timeline Lama, Bukan Lagi Rekomendasi Profiling |
|
|---|