Idulfitri 2026
Wisata Hiu Paus Botubarani Jadi Lokasi Pemantauan Hilal 1 Syawal 1447H di Gorontalo
Pemantauan hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah di Provinsi Gorontalo akan dilaksanakan di lokasi berbeda dari saat penentuan awal Ramadan.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/RUKYATULHILAL-GORONTALO-Teleskop-otomatis-merek-iOptron.jpg)
Diberitakan sebelumnya, Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan 117 titik pemantauan hilal untuk menentukan awal bulan Syawal 1447 Hijriah.
Pemantauan atau rukyatul hilal akan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H.
Baca juga: Keluarga Fanny dan Yessi Mustaki di Gorontalo Buka Opsi Jalur Hukum: Supaya Tidak Ada Lagi Korban
Proses pengamatan ini melibatkan Kantor Wilayah Kemenag, instansi di tingkat kabupaten/kota, Pengadilan Agama, organisasi kemasyarakatan Islam, serta berbagai lembaga daerah.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa hasil pengamatan dari seluruh titik pantau akan menjadi dasar penetapan Idulfitri bagi pemerintah.
"Laporan rukyatul hilal dari daerah akan dikumpulkan ke pusat dan dibahas lebih lanjut sebelum keputusan diumumkan," ujar Rokhmad, Senin (16/3/2026), dikutip dari Kemenag.go.id.
Sidang isbat nantinya diawali dengan seminar pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kemenag, dilanjutkan sidang tertutup membahas hasil rukyatul hilal dari berbagai daerah, sebelum diumumkan kepada masyarakat.
Berdasarkan perhitungan astronomi (hisab), posisi hilal pada hari pemantauan sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 0°54’27” hingga 3°7’52”.
Sudut elongasi mencapai 4°32’40” hingga 6°6’11”, sementara fenomena ijtimak terjadi pukul 08.23 WIB.
Setelah seluruh data terkumpul, pemerintah akan menggelar sidang isbat di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta.
Sesi ini akan dihadiri perwakilan duta besar negara sahabat, Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia, BMKG, Badan Informasi Geospasial, BRIN, pakar astronomi Bosscha ITB dan Planetarium, serta organisasi kemasyarakatan Islam. (*)