Idulfitri 2026
Wisata Hiu Paus Botubarani Jadi Lokasi Pemantauan Hilal 1 Syawal 1447H di Gorontalo
Pemantauan hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah di Provinsi Gorontalo akan dilaksanakan di lokasi berbeda dari saat penentuan awal Ramadan.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/RUKYATULHILAL-GORONTALO-Teleskop-otomatis-merek-iOptron.jpg)
Ringkasan Berita:
- Rukyatul hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 H di Gorontalo akan dilakukan di kawasan wisata Hiu Paus Botubarani, Desa Botubarani, Bone Bolango, pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 17.15 Wita
- Kawasan pesisir ini dipilih karena akses mudah, kondisi geografis mendukung, serta ruang pengamatan lebih luas dibanding lokasi sebelumnya di Rooftop IAIN Sultan Amai Gorontalo
- Hasil pengamatan dari 117 titik pantau di seluruh Indonesia akan dikumpulkan, dibahas dalam sidang isbat Kemenag RI
TRIBUNGORONTALO.COM – Pemantauan hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah di Provinsi Gorontalo akan dilaksanakan di lokasi berbeda dari saat penentuan awal Ramadan.
Tahun ini, tim rukyatul hilal memilih kawasan wisata pesisir yang dinilai lebih representatif.
Ketua Tim Urais Binsyar Kemenag Gorontalo, Safrianto Kaaowan, mengungkapkan lokasi pelaksanaan pemantauan hilal yang akan digelar pada besok Kamis, 19 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut akan dipusatkan di kawasan wisata Hiu Paus Botubarani.
"Pelaksanaan pemantauan di wisata Hiu Paus Botubarani, Desa Botubarani," ujar Safrianto saat dikonfirmasi TribunGorontalo.com, Rabu (18/3/2026).
Desa Botubarani sendiri merupakan salah satu destinasi wisata pesisir yang terletak di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Lokasinya cukup mudah dijangkau, hanya berjarak sekitar 11 kilometer dari pusat Kota Gorontalo atau sekitar 21 menit perjalanan menggunakan sepeda motor.
Pemantauan hilal dijadwalkan berlangsung pada sore hari menjelang matahari terbenam.
Safrianto menyebutkan waktu pelaksanaan akan dimulai pukul 17.15 Wita.
Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Selain akses yang mudah, kawasan tersebut dinilai memiliki kondisi geografis yang mendukung proses pengamatan hilal.
Menurut Safrianto, lokasi tersebut memiliki keunggulan dibanding titik sebelumnya.
"Tempatnya strategis, sangat memungkinkan untuk pengamatan dan bisa menampung banyak orang," jelasnya.
Sebelumnya pelaksanaan rukyatul hilal pada awal Ramadan lalu yang digelar di Rooftop Rektorat IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Kali ini, lokasi terbuka di pesisir dipilih untuk memberikan ruang pengamatan yang lebih luas.
Diberitakan sebelumnya, Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan 117 titik pemantauan hilal untuk menentukan awal bulan Syawal 1447 Hijriah.
Pemantauan atau rukyatul hilal akan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H.
Baca juga: Keluarga Fanny dan Yessi Mustaki di Gorontalo Buka Opsi Jalur Hukum: Supaya Tidak Ada Lagi Korban
Proses pengamatan ini melibatkan Kantor Wilayah Kemenag, instansi di tingkat kabupaten/kota, Pengadilan Agama, organisasi kemasyarakatan Islam, serta berbagai lembaga daerah.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa hasil pengamatan dari seluruh titik pantau akan menjadi dasar penetapan Idulfitri bagi pemerintah.
"Laporan rukyatul hilal dari daerah akan dikumpulkan ke pusat dan dibahas lebih lanjut sebelum keputusan diumumkan," ujar Rokhmad, Senin (16/3/2026), dikutip dari Kemenag.go.id.
Sidang isbat nantinya diawali dengan seminar pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kemenag, dilanjutkan sidang tertutup membahas hasil rukyatul hilal dari berbagai daerah, sebelum diumumkan kepada masyarakat.
Berdasarkan perhitungan astronomi (hisab), posisi hilal pada hari pemantauan sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 0°54’27” hingga 3°7’52”.
Sudut elongasi mencapai 4°32’40” hingga 6°6’11”, sementara fenomena ijtimak terjadi pukul 08.23 WIB.
Setelah seluruh data terkumpul, pemerintah akan menggelar sidang isbat di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta.
Sesi ini akan dihadiri perwakilan duta besar negara sahabat, Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia, BMKG, Badan Informasi Geospasial, BRIN, pakar astronomi Bosscha ITB dan Planetarium, serta organisasi kemasyarakatan Islam. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.