Kecelakaan Maut Minsel
Keluarga Fanny dan Yessi Mustaki di Gorontalo Buka Opsi Jalur Hukum: Supaya Tidak Ada Lagi Korban
Duka mendalam masih menyelimuti kediaman keluarga almarhumah Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Mustaki di Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kolase-foto-keluarga-Mustaki-dan-mobil.jpg)
Ringkasan Berita:
- Saksi mata mengungkapkan bahwa kecelakaan dipicu oleh aksi ugal-ugalan dan "baku panas" antar sopir PO yang sama di jalur Trans Sulawesi
- Insiden tragis ini mengakibatkan kakak beradik, Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Mustaki, meninggal dunia di lokasi kejadian
- Keluarga korban mempertimbangkan jalur hukum untuk memberikan efek jera bagi penyedia jasa transportasi
TRIBUNGORONTALO.COM – Keluarga Mustaki akhirnya angkat bicara perihal kecelakaan yang menimpa Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Mustaki.
Pasca tragedi maut di Desa Sapa, Minahasa Selatan, pihak keluarga Mustaki kini mulai mempertimbangkan opsi menempuh jalur hukum.
Hal ini semata-mata memastikan tidak ada lagi korban jiwa akibat kelalaian sopir di masa depan.
Reza Mustaki (32), adik bungsu Fanny Anelsia Mustaki, mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan mengenai situasi di dalam kabin mobil sebelum benturan maut terjadi.
Berdasarkan kesaksian penumpang yang selamat, perjalanan awalnya berlangsung tenang dan normal layaknya rute Gorontalo-Manado pada umumnya.
Namun, situasi mulai berubah drastis dan tidak kondusif ketika memasuki wilayah Sulawesi Utara.
Reza membeberkan bahwa sopir mobil yang ditumpangi kakak-kakaknya terlibat persaingan panas dengan pengemudi lain dari perusahaan otobus (PO) yang sama.
"Kalau dari kesaksian salah satu penumpang yang selamat, dia menceritakan kronologinya saat di rumah sakit Minsel," ujar Reza kepada TribunGorontalo.com.
Terjadi aksi saling kejar dan "baku panas" antar sopir di jalur Trans Sulawesi yang dikenal memiliki medan ekstrem. Kedua sopir disebut saling memprovokasi dan mencoba mendahului satu sama lain dengan kecepatan tinggi.
Peringatan Penumpang yang Diabaikan
Kondisi mencekam tersebut sebenarnya sudah disadari oleh para penumpang di dalam mobil.
Saksi yang duduk di kursi depan bahkan sempat menegur sopir agar menurunkan kecepatan dan mengemudi lebih tenang.
"Saksi sempat bilang ke sopir untuk pelan-pelan saja, karena ada penumpang yang sedang tidur," ungkap Reza dengan nada kecewa.
Namun, teguran tersebut rupanya tidak digubris oleh sang pengemudi yang sudah tersulut emosi.
Sopir tetap bersikeras melakukan aksi salip-menyalip meskipun membahayakan nyawa orang-orang di belakangnya.
Ketegangan mencapai puncaknya saat mobil korban mencoba menyalip dari sisi kanan.
Nahas, kendaraan di depannya diduga tidak memberikan ruang dan justru "menutup jalan" sehingga mobil korban kehilangan kendali.
Detik-Detik Kecelakaan Maut
Dalam kecepatan tinggi dan posisi yang terjepit, sopir mencoba melakukan manuver mendadak.
Upaya menyalip itu gagal total karena dari arah berlawanan muncul pengendara roda dua.
Demi menghindari tabrakan adu banteng dengan motor tersebut, sopir membanting setir ke arah kiri dengan sangat keras.
Mobil kemudian keluar dari badan jalan dan menghantam pohon besar di pinggir jalan dengan kekuatan penuh.
Benturan tersebut membuat kendaraan berputar dan terguling-guling beberapa kali.
Laju mobil baru terhenti sepenuhnya setelah menghantam sebuah bangunan rumah makan di sekitar lokasi.
Akibat kejadian ini, Fanny dan Yessi Mustaki meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka parah.
Baca juga: Pesan Tak Biasa Fanny Anelsia Mustaki PNS Gorontalo Sebelum Kecelakaan Maut
Sikap Tegas Keluarga
Meskipun Reza menyatakan bahwa keluarga telah mencoba ikhlas menerima kepergian kedua kakaknya sebagai takdir Tuhan, mereka tidak bisa menoleransi perilaku ugal-ugalan sopir.
"Kami ikhlas ini sebagai takdir. Tapi jangan sampai kejadian seperti ini terulang," tegas Reza.
Keluarga menekankan bahwa nyawa manusia tidak boleh digadaikan hanya demi gengsi antar sopir di jalanan.
Terkait langkah hukum, Reza mengaku pihak keluarga sedang fokus menyelesaikan prosesi duka terlebih dahulu.
Namun, opsi untuk membawa kasus ini ke meja hijau tetap terbuka lebar setelah suasana duka mereda.
"Kami belum memikirkan itu sekarang, sampai semua suasana duka selesai baru kita bicara dengan keluarga," ucapnya.
Keluarga Mustaki menyatakan akan sangat kooperatif jika pihak kepolisian ingin melakukan penyelidikan mendalam.
Bagi mereka, pengusutan secara hukum bukan semata-mata soal balas dendam, melainkan demi keselamatan publik.
"Kalau memang ingin diusut, kami mendukung. Ini bukan hanya soal keluarga kami, tapi supaya tidak ada lagi korban berikutnya," tambah Reza.
Keluarga berharap kepolisian memberikan efek jera kepada oknum sopir yang kerap mengabaikan keselamatan penumpang.
Mereka ingin ada standar keamanan yang lebih ketat bagi PO yang beroperasi di jalur Trans Sulawesi.
Hingga saat ini, keluarga mengaku belum menerima kunjungan resmi dari pihak manajemen PO setelah proses pemakaman dilakukan.
Baca juga: Fakta Baru Kecelakaan Maut di Minsel, Sopir Gorontalo Kebut-kebutan hingga Tabrak Pohon
Tanggapan Manajemen PO Garuda
Di sisi lain, pihak Manajemen PO Garuda Gorontalo melalui penanggung jawabnya, Geovano Felix, memberikan klarifikasi.
Geovano menyebutkan bahwa sopir yang terlibat, Ismail Zees, adalah pengemudi berpengalaman yang sudah bekerja lama di perusahaan tersebut.
Saat ini, sang sopir juga mengalami luka berat dan baru saja menjalani operasi di RS Kandouw, Manado.
Pihak manajemen mengklaim bahwa armada yang digunakan dalam kondisi laik jalan sebelum diberangkatkan.
Terkait rekam jejak sopir, manajemen mengakui Ismail pernah mengalami kecelakaan sebelumnya, namun diklaim hanya kategori ringan.
Manajemen juga membantah adanya isu keluarga korban yang mengamuk di kantor PO pasca kejadian.
Penyelidikan Pihak Kepolisian
Penyelidikan mendalam terus dilakukan oleh Satuan Lalu Lintas Polres Gorontalo Utara terkait kecelakaan maut di Jalan Trans Sulawesi, Desa Popalo, Kecamatan Anggrek.
Berdasarkan data terkini dari olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), pihak kepolisian mulai memetakan faktor-faktor utama yang memicu terjadinya tabrakan maut antara mobil pikap dan truk tersebut pada Senin (17/3/2026).
Kasat Lantas Polres Gorontalo Utara, Iptu Roy Pidu, memberikan gambaran spesifik mengenai situasi lingkungan saat kecelakaan terjadi.
Ia menegaskan bahwa faktor eksternal berupa kondisi alam memegang peranan krusial dalam insiden ini.
Curah hujan yang mengguyur wilayah Kecamatan Anggrek di sore hari tersebut menciptakan risiko tinggi bagi para pengguna jalan yang melintas.
Dugaan kuat mengarah pada kondisi permukaan aspal yang menjadi sangat licin akibat guyuran air hujan. Jalanan yang basah mengurangi daya cengkeram ban kendaraan, sehingga stabilitas mobil pikap yang mengangkut satu keluarga tersebut terganggu.
"Dugaan sementara penyebab karena jalan licin. Dilihat juga dari kondisi jalan juga masih basah," jelas Iptu Roy Pidu saat dikonfirmasi TribunGorontalo.com, Selasa (17/3/2026).
Selain faktor kelicinan, geometri jalan di Desa Popalo yang cenderung berkelok-kelok menambah tingkat kesulitan bagi pengendara.
Lokasi yang berjarak sekitar 71,4 kilometer dari pusat Kota Gorontalo ini memang dikenal memiliki medan yang menantang.
Kombinasi antara tikungan tajam dan jalanan basah diduga membuat pengemudi pikap kehilangan kendali hingga kendaraan tersebut keluar dari jalurnya dan masuk ke jalur berlawanan.
Meskipun penyebab sementara telah dikantongi, polisi mengaku menghadapi tantangan dalam menghimpun keterangan saksi mata secara mendetail.
Iptu Roy Pidu menjelaskan bahwa saat kejadian berlangsung, situasi di sekitar lokasi cenderung sepi. Hal ini disebabkan oleh waktu kejadian yang bertepatan dengan persiapan warga untuk berbuka puasa, sehingga aktivitas di jalanan menurun drastis.
Ketiadaan saksi mata di titik nol kejadian membuat polisi harus bekerja ekstra keras melalui metode induktif, yakni menyimpulkan kejadian dari sisa-sisa benturan dan posisi akhir kendaraan.
Hingga saat ini, polisi masih terus mencari informasi tambahan dari warga sekitar yang mungkin melihat detik-detik sebelum benturan terjadi, guna melengkapi berkas perkara dan memastikan tidak ada faktor lain yang terlewatkan.
Dalam perkembangan terbaru, Polisi telah mengamankan sopir truk yang terlibat dalam kecelakaan tersebut. Langkah ini diambil untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut serta guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di lokasi kejadian.
Sopir truk dilaporkan hanya mengalami luka ringan, namun tetap diwajibkan menjalani pemeriksaan intensif di markas kepolisian.
"Karena kendaraan rusak parah makan masih diamankan di lokasi tidak bisa jalan karena rusak parah. Namun polsek setempat akan melakukan pemantauan rutin," tutur Iptu Roy Pidu. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.