Kecelakaan Maut Minsel
Fakta Baru Kecelakaan Maut di Minsel, Sopir Gorontalo Kebut-kebutan hingga Tabrak Pohon
Fakta baru kecelakaan maut di Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, diungkap keluarga korban.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
- Kecelakaan diduga kuat dipicu oleh aksi saling balap dan "baku panas" antara sopir mobil penumpang (PO Garuda) dengan sopir bus dari perusahaan lain di jalur Trans Sulawesi
- Sebelum kejadian, penumpang di kursi depan sempat menegur sopir agar melambat karena ada penumpang lain yang sedang tidur
- Saat mencoba menyalip namun tidak diberi ruang oleh kendaraan lain, sopir membanting setir ke kanan untuk menghindari motor dari arah berlawanan
TRIBUNGORONTALO.COM – Fakta baru kecelakaan maut di Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, diungkap keluarga korban.
Insiden tragis ini diduga dipicu aksi kejar-kejaran antar sopir mobil penumpang di jalan Trans Sulawesi.
Adik bungsu almarhumah Fanny Anelsia Mustaki, Reza Mustaki (32), mengungkapkan kronologi kejadian berdasarkan keterangan salah satu penumpang yang selamat.
Ia menyebut, sebelum kecelakaan terjadi, situasi di dalam mobil sebenarnya berjalan normal. Dalam perjalanan kondisi mulai tidak kondusif.
“Kalau dari kesaksian salah satu penumpang yang selamat, kebetulan waktu di rumah sakit Minsel dia menceritakan kronologinya,"ujar Reza saat diwawancarai TribunGorontalo.com, Selasa (17/3/2026).
Namun kondisi berubah saat kendaraan yang ditumpangi korban diduga terlibat persaingan di jalan dengan mobil lain perusahaan otobus (PO).
Kedua sopir disebut saling kejar dan mencoba saling mendahului.
"Dalam perjalanan terjadi saling baku panas antara sopir. Dan terjadi kejar mengejar," bebernya.
Penumpang (korban selamat) yang berada di kursi depan juga sempat memperingatkan sopir agar mengurangi kecepatan.
Ia meminta sopir untuk lebih berhati-hati karena ada penumpang yang sedang beristirahat.
“Saksi sempat bilang ke sopir untuk pelan-pelan saja, karena ada penumpang yang tidur. Tapi situasi di jalan mereka sudah saling memanasi,” ungkap Reza.
Ketegangan semakin memuncak saat salah satu kendaraan mencoba menyalip dari sisi kanan.
Namun upaya tersebut tidak diberi ruang oleh kendaraan Bahkan, jalur disebut sempat ditutup, sehingga sopir kehilangan kendali.
"Ada mobil yang diduga masih teman satu PO ini mau ambil jalan, dia mau lambung tapi tidak dikasih jalan," jelasnya.
Dalam kondisi tersebut, sopir banting setir untuk menghindari tabrakan dengan salah satu pengendara roda dua berlawanan.
Namun justru membuat kendaraan korban keluar jalur hingga akhirnya menghantam pohon di pinggir jalan.
“Karena tidak dikasih jalan saat mau menyalip,maka sopir mengambil dari sisi kanan dan ada motor lawan arah, akhirnya sopir banting setir dan menabrak pohon,” jelasnya.
Mobil disebut terguling-guling hingga terhenti setelah menabrak rumah makan.
Akibat benturan keras tersebut, dua kakak beradik meninggal dunia di tempat. Sementara beberapa penumpang lainnya mengalami luka-luka.
Meski diliputi kekesalan, pihak keluarga menyebut telah menerima kejadian ini sebagai takdir.
Namun demikian, mereka berharap insiden serupa tidak terulang kembali di kemudian hari.
“Kami ikhlas ini sebagai takdir. Tapi jangan sampai kejadian seperti ini terulang. Ini harus jadi pelajaran bagi sopir-sopir agar tidak membawa emosi di jalan,” tegas Reza.
Ia juga menekankan pentingnya tanggung jawab sopir sebagai penyedia jasa transportasi, terlebih pada jalur Trans Sulawesi yang memiliki jarak tempuh panjang dan risiko tinggi.
“Bawa penumpang itu tanggung jawab besar. Jangan karena gengsi di jalan, nyawa orang jadi taruhan,” tambahnya.
Sementara itu, pihak PO Garuda disebut telah membantu proses administrasi di rumah sakit, termasuk biaya pengurusan jenazah.
Namun hingga saat ini, keluarga mengaku belum menerima kunjungan resmi dari pihak perusahaan tersebut setelah pemakaman.
Keluarga juga menyatakan terbuka jika pihak kepolisian ingin mengusut tuntas kasus ini. Mereka berharap ada efek jera bagi oknum sopir yang ugal-ugalan di jalan.
Selain itu ditanya soal apakah masalah ini akan dilanjutkan ke jalur hukum dirinya mengaku belum ingin membahas masalah itu sampai proses selesai suasana duka.
"Kami belum memikirkan itu, sampai semua suasana duka selesai baru kita bicara dengan keluarga," ucapnya.
“Kalau memang ingin diusut, kami mendukung. Ini bukan hanya soal keluarga kami, tapi supaya tidak ada lagi korban berikutnya,” tutup Reza.
Sopir PO Garuda Pernah Alami Kecelakaan Ringan
Pihak Manajemen PO Garuda Gorontalo memberikan keterangan resmi terkait kecelakaan maut yang menewaskan kakak beradik dalam perjalanan menuju Manado.
Penanggung jawab PO Garuda di Gorontalo, Geovano Felix, menjelaskan informasi awal yang dihimpun dari pihak kepolisian serta saksi di lokasi kejadian.
Berdasarkan laporan tersebut, kendaraan diduga kehilangan kendali hingga menabrak pohon di pinggir jalan.
Geovano menyebutkan bahwa Ismail Zees selaku pengemudi mobil saat ini masih menjalani perawatan intensif akibat luka serius yang dideritanya.
“Kondisi supir tadi jam 04.00 Wita baru selesai operasi di RS Kandouw,” ujarnya saat ditemui TribunGorontalo.com, Minggu (15/3/2026).
Pengemudi tersebut mengalami cedera berat pada bagian kaki serta patah tulang di area dada hingga bahu.
Geovano menjelaskan bahwa luka-luka tersebut terjadi akibat benturan keras saat kendaraan menghantam objek di pinggir jalan.
Mengenai kronologi keberangkatan, rombongan tersebut bertolak dari Gorontalo pada Jumat malam. Waktu keberangkatan dipilih setelah para penumpang dan sopir melaksanakan salat tarawih.
“Ia berangkat dari Gorontalo pada Jumat malam sekitar pukul 22.00 Wita setelah salat tarawih,” ungkap Geovano.
Kecelakaan itu sendiri dilaporkan terjadi pada Sabtu pagi, sekitar pukul 06.30 Wita. Sebelum insiden terjadi, sopir sempat beristirahat di sebuah rumah makan di wilayah Kecamatan Bintauna, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Geovano menegaskan bahwa beristirahat merupakan prosedur standar bagi angkutan penumpang jarak jauh.
“Semua kita pemberangkatan malam singgah di rumah makan,” tambahnya.
Dalam perjalanan tersebut, PO Garuda tidak menyertakan sopir cadangan. Geovano mengakui bahwa kebijakan satu sopir merupakan hal yang umum untuk rute tersebut.
Meski demikian, ia menjamin bahwa pengemudi yang bertugas adalah personel berpengalaman yang telah bekerja sejak PO Garuda pertama kali berdiri.
Ia juga menanggapi rekam jejak sang sopir yang pernah mengalami insiden sebelumnya. Namun, ia menekankan bahwa kejadian terdahulu merupakan kecelakaan kategori ringan.
“Biasanya pernah mengalami juga kecelakaan tapi kecelakaan ringan tidak separah yang saat ini,” jelasnya.
Pihak manajemen juga telah memastikan kondisi armada dalam keadaan laik jalan sebelum diberangkatkan.
Selain itu, sopir tersebut baru pertama kali mengambil jadwal mengantar penumpang selama masa puasa tahun ini.
Pihak PO Garuda menunjukkan bentuk tanggung jawab dengan mengunjungi rumah duka setelah jenazah korban tiba di Gorontalo. Geovano hadir langsung dalam prosesi takziah hingga pemakaman kedua korban.
"Iya tadi malam (datang), tadi pagi juga saat penguburan,” katanya.
Terkait isu yang beredar mengenai adanya keluarga korban yang mengamuk di kantor PO Garuda, Geovano memberikan bantahan tegas. Ia memastikan situasi di kantor tetap kondusif dan tidak ada aksi anarkis dari pihak keluarga.
“Namun hal itu tidak pernah terjadi,” tegasnya.
Baca juga: Pesan Tak Biasa Fanny Anelsia Mustaki PNS Gorontalo Sebelum Kecelakaan Maut
Penyelidikan Polisi
Penyelidikan mendalam terus dilakukan oleh Satuan Lalu Lintas Polres Gorontalo Utara terkait kecelakaan maut di Jalan Trans Sulawesi, Desa Popalo, Kecamatan Anggrek.
Berdasarkan data terkini dari olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), pihak kepolisian mulai memetakan faktor-faktor utama yang memicu terjadinya tabrakan maut antara mobil pikap dan truk tersebut pada Senin (17/3/2026).
Kasat Lantas Polres Gorontalo Utara, Iptu Roy Pidu, memberikan gambaran spesifik mengenai situasi lingkungan saat kecelakaan terjadi.
Ia menegaskan bahwa faktor eksternal berupa kondisi alam memegang peranan krusial dalam insiden ini.
Curah hujan yang mengguyur wilayah Kecamatan Anggrek di sore hari tersebut menciptakan risiko tinggi bagi para pengguna jalan yang melintas.
Dugaan kuat mengarah pada kondisi permukaan aspal yang menjadi sangat licin akibat guyuran air hujan. Jalanan yang basah mengurangi daya cengkeram ban kendaraan, sehingga stabilitas mobil pikap yang mengangkut satu keluarga tersebut terganggu.
"Dugaan sementara penyebab karena jalan licin. Dilihat juga dari kondisi jalan juga masih basah," jelas Iptu Roy Pidu saat dikonfirmasi TribunGorontalo.com, Selasa (17/3/2026).
Selain faktor kelicinan, geometri jalan di Desa Popalo yang cenderung berkelok-kelok menambah tingkat kesulitan bagi pengendara.
Lokasi yang berjarak sekitar 71,4 kilometer dari pusat Kota Gorontalo ini memang dikenal memiliki medan yang menantang.
Kombinasi antara tikungan tajam dan jalanan basah diduga membuat pengemudi pikap kehilangan kendali hingga kendaraan tersebut keluar dari jalurnya dan masuk ke jalur berlawanan.
Meskipun penyebab sementara telah dikantongi, polisi mengaku menghadapi tantangan dalam menghimpun keterangan saksi mata secara mendetail.
Iptu Roy Pidu menjelaskan bahwa saat kejadian berlangsung, situasi di sekitar lokasi cenderung sepi. Hal ini disebabkan oleh waktu kejadian yang bertepatan dengan persiapan warga untuk berbuka puasa, sehingga aktivitas di jalanan menurun drastis.
Ketiadaan saksi mata di titik nol kejadian membuat polisi harus bekerja ekstra keras melalui metode induktif, yakni menyimpulkan kejadian dari sisa-sisa benturan dan posisi akhir kendaraan.
Hingga saat ini, polisi masih terus mencari informasi tambahan dari warga sekitar yang mungkin melihat detik-detik sebelum benturan terjadi, guna melengkapi berkas perkara dan memastikan tidak ada faktor lain yang terlewatkan.
Dalam perkembangan terbaru, Polisi telah mengamankan sopir truk yang terlibat dalam kecelakaan tersebut. Langkah ini diambil untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut serta guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di lokasi kejadian.
Sopir truk dilaporkan hanya mengalami luka ringan, namun tetap diwajibkan menjalani pemeriksaan intensif di markas kepolisian.
"Karena kendaraan rusak parah makan masih diamankan di lokasi tidak bisa jalan karena rusak parah. Namun polsek setempat akan melakukan pemantauan rutin," tutur Iptu Roy Pidu.
Penyidik kini fokus menggali keterangan dari sopir truk mengenai kecepatan kendaraan dan upaya pengereman yang dilakukan sebelum tabrakan terjadi.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat Gorontalo Utara untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat berkendara di cuaca buruk.
Polisi mengimbau para pengguna jalan untuk memastikan kondisi ban kendaraan dalam keadaan baik dan selalu mengurangi kecepatan saat melintasi jalur berkelok di tengah hujan guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.