Human Interest Story
Cerita 2 Pemudi Jualan Takjil Ramadan di Kota Gorontalo
Cerita 2 perempuan penjual takjil Ramadan di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Aldi Ponge
Ringkasan Berita:
- Cerita 2 perempuan penjual takjil Ramadan di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo
- Imelda dan Erza warga asal Dulalowo Timur, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, membuka lapak takjil Ramadan di depan rumah mereka.
- Imelda menjelaskan lapak takjil yang mereka kelola tidak hanya menyediakan kue tapi juga makanan.
TRIBUNGORONTALO.COM - Cerita 2 perempuan penjual takjil Ramadan di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Dua pemudi bernama Imelda (21) dan Erza (22) warga asal Dulalowo Timur, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, membuka lapak takjil Ramadan di depan rumah mereka.
Pantauan wartawan TribunGorontalo.com di lapangan lapak itu berdiri di depan rumah mereka. Bernaung tenda ukuran sedang dan meja sederhana yang dijadikan sebagai tempat meletakkan kue-kue yang akan mereka jual.
Sesekali mereka berdua berteriak kepada pengendara yang lewat untuk menawarkan dagangan mereka.
Lokasi lapak ini berada di Jalan Pangeran Hidayat I atau di Jalan ex Cendana. Dari arah JDS lapak itu berada di sebelah kiri sedangkan dari arah Jalan Arif Rahman Hakim lapak itu berada di sebelah kanan
Lapak tersebut beroperasi setiap hari mulai pukul 14.00 Wita hingga menjelang berbuka puasa.
Imelda menjelaskan lapak takjil yang mereka kelola tidak hanya menyediakan kue tapi juga makanan.
“Jadi di sini itu bukan hanya ada takjil-takjil yang manis saja. Kami juga sediakan makanan, seperti bubur, nasi kuning lengkap dengan lauk, terus ada ayam bumbu RW. Selain itu, menu andalan kami juga ada ayam bakar iloni dan ayam bakar rica,” ujar Imelda kepada Wartawan tribunGorontalo.com pada Kamis (26/2/2026),
Menurut Imelda, menu makanan tersebut cukup diminati karena praktis untuk berbuka puasa bersama keluarga. Selain ayam, mereka juga menyediakan menu ikan.
“Kalau ikan, biasanya ada mujair. Variannya juga macam-macam, ada mujair bakar rica, mujair bakar iloni, dan mujair goreng. Jadi pembeli bisa pilih sesuai selera,” lanjutnya.
Selain makanan, lapak tersebut juga menyediakan berbagai jajanan manis.
Mereka tidak hanya menjual produk buatan sendiri, tetapi juga menerima titipan jualan dari warga sekitar.
Setiap hari, menu jajanan yang tersedia selalu berbeda.
“Setiap hari itu biasanya ada yang nitip jualan ke kami. Jadi bukan cuma satu macam kue saja. Hampir tiap hari pasti ada yang datang antar kue dengan menu yang berbeda-beda,” kata Imelda.
Dari berbagai jenis jajanan, kue talam menjadi yang paling banyak dicari pembeli.
Menurut Erza, kue tersebut hampir selalu habis lebih cepat dibanding menu lainnya.
“Kalau kue talam ini memang paling best seller. Banyak yang bilang rasanya enak dan recommended. Biasanya ini yang paling cepat habis dibandingkan kue yang lain,” ujar Erza.
Selain kue talam, tersedia pula dodol cokelat dan berbagai jajanan tradisional lainnya. Soal harga, Imelda dan Erza sepakat memasang harga yang terjangkau agar bisa dibeli semua kalangan.
“Harga yang kami pasang itu mulai dari Rp6.000 sampai Rp23.000 untuk yang paling mahal. Kami memang mau buat harganya tetap terjangkau supaya semua orang bisa beli,” kata Erza.
Lapak takjil ini juga menyediakan berbagai minuman segar.
Pilihannya cukup beragam, tidak hanya satu jenis. Minuman tersebut menjadi pelengkap menu berbuka bagi pembeli.
“Untuk minuman, variannya juga banyak. Ada es mango, di dalamnya ada potongan mangga. Terus ada mojito dengan beberapa rasa, seperti jeruk, leci, dan melon. Selain itu ada juga es cincau, dan itu termasuk yang paling banyak dicari,” ujar Erza.
Lapak takjil Imelda dan Erza mulai buka sejak pukul 14.00 Wita.
Meski waktu berbuka telah tiba, mereka tetap bertahan melayani pembeli hingga sekitar pukul 18.00 sampai 19.00 Wita.
“Kami buka dari jam dua siang. Biasanya pas sudah waktu buka puasa masih ada pembeli, jadi kami tetap stay di sini. Kalau mau beli di jam enam atau jam tujuh, kami masih melayani,” kata Imelda.
Lapak tersebut buka setiap hari, selain pembelian langsung, mereka juga melayani pemesanan melalui WhatsApp.
“Kalau ada yang mau pesan lewat WA juga bisa. Biasanya nanti diantar pakai ojek online atau dijemput sendiri. Jadi pesan dulu, baru diambil,” ujar Imelda.
Pembukaan lapak takjil ini tidak terlepas dari usaha keluarga mereka.
Di belakang rumah, keluarga mereka memiliki kafe. Selama Ramadan, kafe tersebut tidak beroperasi di siang hari.
“Karena bulan puasa, kafe kan tidak mungkin buka siang hari. Jadi bunda yang juga owner ngajak kami untuk coba bikin lapak takjil. Dari situ kami mulai jalan,” kata Imelda.
Sebagian menu dibuat sendiri oleh mereka, seperti martabak dan beberapa olahan ikan.
Sementara menu lainnya berasal dari titipan warga. Proses memasak dibantu beberapa orang di dapur belakang, sedangkan Imelda dan Erza bertugas melayani pembeli di lapak.
“Ada beberapa menu yang kami buat sendiri, ada juga yang dari titipan. Di dapur ada yang bantu masak, kami berdua di depan yang melayani pembeli,” tambah Erza. (*/Jefri)
| Tips Kuat Puasa saat Bekerja ala Kasmat dan Sasmita, Pegawai Minimarket Gorontalo |
|
|---|
| Sejak 1985, Ridwan Baat Setia Jual Balon Karakter di Kota Gorontalo, Terbukti Mampu Sekolahkan Anak |
|
|---|
| Sosok Vecky van Gobel, Eks Juru Sita Pengadilan Gorontalo Kini Jadi Sopir Bentor |
|
|---|
| Kisah Yus Sahi Perintis Kopi Surplus Gorontalo: Makna Memanusiakan Manusia |
|
|---|
| Cerita Ismail Husin, Mahasiswa UNG Tekuni Dunia Jurnalistik |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.