Pantauan Fasilitas Publik
Kondisi Jalan Depan GOR Nani Wartabone Gorontalo, Lubang-lubang Selebar Ban Mobil
Kondisi Jalan Achmad Nadjamuddin, tepat di kawasan SMA Negeri 3 Gorontalo, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/JALAN-RUSAK-Potrrt-Jalan-Achmad-Nadjamuddin-Kota-Selatan.jpg)
Tak hanya pengendara bentor, pengemudi motor dan mobil juga merasakan dampaknya.
Sepeda motor kerap tampak oleng saat melintasi jalan berlubang, sementara mobil harus berjalan sangat pelan agar bagian bawah kendaraan tidak menghantam aspal yang rusak.
Hami (32), warga setempat yang tengah hamil, mengaku sangat khawatir setiap kali harus melintasi jalan tersebut.
Baca juga: Kajari Gorontalo Utara Dukung Program Pemkab Gorut, Bupati Thariq : Ini Babak Baru Bagi Kita
“Kalau lewat sini rasanya takut sekali. Guncangannya keras. Saya khawatir bisa keguguran,” ujarnya dengan wajah cemas.
Hami mengatakan, dirinya sering memilih memutar lewat jalan lain yang lebih jauh demi menghindari Jalan Achmad Nadjamuddin.
Namun, pilihan itu tidak selalu memungkinkan karena jalan ini merupakan akses tercepat menuju pusat aktivitas warga.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Jein Pasau dia menilai kerusakan jalan sudah tidak bisa lagi ditangani dengan tambalan sementara.
Beberapa bekas tambalan lama terlihat kembali rusak, bahkan meninggalkan lubang baru di sekitarnya.
“Pernah ditambal, tapi cepat rusak lagi. Seharusnya diperbaiki total, jangan tambal sulam,” kata Jein.
Pantauan di lapangan menunjukkan, pengendara sering saling berebut jalur yang dianggap paling aman.
Baca juga: BMKG: Sejumlah Wilayah di Gorontalo Diprediksi Berawan-Hujan Ringan Besok Jumat 27 Februari 2026
Akibatnya, ruang gerak kendaraan menyempit dan potensi kecelakaan pun meningkat.
Warga berharap pemerintah dan instansi terkait segera turun tangan melakukan perbaikan menyeluruh.
Mereka menilai Jalan Achmad Nadjamuddin memiliki peran strategis sebagai jalur pendidikan dan aktivitas masyarakat, sehingga seharusnya mendapat perhatian serius.
“Jangan tunggu ada korban dulu. Kalau sudah ada yang jatuh atau kecelakaan parah, baru sibuk diperbaiki,” ujarnya. (*)