Ramadan 2026
Cerita Warga Gorontalo di Hari Pertama Ramadan, Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar
Suasana syahdu menyelimuti masjid-masjid di berbagai sudut Kota Gorontalo sejak fajar Ramadan 1447 Hijriah menyingsing.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Suasana-ibadah-salat-zuhur-di-dalam-Masjid-Agung-Baiturrahim.jpg)
Pantauan Tribun Gorontalo menunjukkan adanya perubahan ritme kehidupan di Kota Gorontalo. Jalanan cenderung lebih lengang di siang hari, sementara masjid-masjid, seperti Masjid Baiturrahim, justru lebih hidup.
Masjid kini beralih fungsi menjadi ruang sosial yang menenangkan. Warga tidak hanya datang untuk salat wajib, tetapi juga untuk tadarus, itikaf hingga beristirahat.
Di akhir perbincangan, baik Mini maupun Oman memiliki harapan yang selaras. Mereka tidak ingin semangat beribadah ini hanya menggebu di awal Ramadan.
“Harapannya bisa sampai akhir Ramadan, tetap semangat, tidak cuma di awal,” harap Mini.
Senada dengan itu, Oman berharap kebiasaan baik yang terbentuk selama bulan suci ini bisa terus membekas.
"Kalau bisa, kebiasaan baik di Ramadan ini jangan berhenti (setelah Lebaran). Itu yang paling penting," pungkasnya.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)