Ramadan 2026
Cerita Warga Gorontalo di Hari Pertama Ramadan, Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar
Suasana syahdu menyelimuti masjid-masjid di berbagai sudut Kota Gorontalo sejak fajar Ramadan 1447 Hijriah menyingsing.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Suasana-ibadah-salat-zuhur-di-dalam-Masjid-Agung-Baiturrahim.jpg)
Ringkasan Berita:
- Bagi warga Gorontalo seperti Mini dan Oman, Ramadan 1447 H bukan sekadar menahan lapar, melainkan momen untuk memperlambat ritme hidup, melatih kesabaran, dan menjaga sikap di tengah kesibukan
- Masjid-masjid di Kota Gorontalo, termasuk Masjid Baiturrahim, menjadi pusat aktivitas yang lebih hidup
- Terdapat keinginan kuat dari warga agar semangat ibadah dan kebiasaan baik yang terbentuk di hari pertama Ramadan dapat terus terjaga secara konsisten hingga akhir bulan suci dan seterusnya
TRIBUNGORONTALO.COM – Suasana syahdu menyelimuti masjid-masjid di berbagai sudut Kota Gorontalo sejak fajar Ramadan 1447 Hijriah menyingsing.
Di balik deretan jamaah yang memadati shaf, tersimpan kisah-kisah sederhana namun mendalam tentang bagaimana warga memaknai awal bulan suci ini.
Bagi sebagian besar warga, Ramadan tahun ini bukan sekadar rutinitas menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum untuk melakukan muhasabah diri di tengah hiruk-pikuk dunia.
Mini Turuki, seorang perempuan muda yang ditemui usai salat Zuhur di sebuah masjid pusat kota pada Rabu (18/2/2026), mengungkapkan bahwa Ramadan kali ini terasa jauh lebih tenang.
Baginya, tantangan terbesar bukanlah perut yang kosong, melainkan cara mengatur ritme hidup.
“Kalau saya pribadi, puasa tahun ini lebih ke menenangkan diri. Tahun lalu rasanya banyak kejar-kejaran sama pekerjaan, sekarang mau lebih pelan,” ujar Mini sembari merapikan mukenanya.
Ia bercerita, meski hari pertama selalu menjadi fase adaptasi yang berat—terutama saat matahari menyengat di siang hari—ia memiliki strategi khusus.
Masjid menjadi tempat pelarian terbaiknya untuk menjaga suasana hati.
“Kalau capek, saya ke masjid. Duduk sebentar, baca Al-Qur’an, rasanya lebih adem,” tambahnya.
Baca juga: Jadwal Buka Puasa di Gorontalo Hari Ini 20 Februari 2026
Puasa sebagai Pengingat Kesabaran
Tak jauh dari posisi Mini, Oman Neo, seorang pria paruh baya, tampak baru saja menutup mushaf Al-Qur’an miliknya.
Bagi Oman, setiap Ramadan datang dengan "rasa" yang berbeda, meski ibadah yang dijalankan tetap sama.
“Puasa itu pengingat. Kita diingatkan lagi untuk sabar, untuk jaga sikap. Bukan cuma tahan lapar,” tegas Oman dengan nada bijak.
Oman menekankan pentingnya sahur sebagai penopang fisik, meski hanya dengan menu sederhana seperti teh hangat dan bubur.
Baginya, kekuatan dalam berpuasa bukan berasal dari mewahnya makanan, melainkan dari niat yang tulus untuk menjalani perintah agama.
Masjid: Ruang Ibadah Sekaligus Ruang Sosial
Pantauan Tribun Gorontalo menunjukkan adanya perubahan ritme kehidupan di Kota Gorontalo. Jalanan cenderung lebih lengang di siang hari, sementara masjid-masjid, seperti Masjid Baiturrahim, justru lebih hidup.
Masjid kini beralih fungsi menjadi ruang sosial yang menenangkan. Warga tidak hanya datang untuk salat wajib, tetapi juga untuk tadarus, itikaf hingga beristirahat.
Di akhir perbincangan, baik Mini maupun Oman memiliki harapan yang selaras. Mereka tidak ingin semangat beribadah ini hanya menggebu di awal Ramadan.
“Harapannya bisa sampai akhir Ramadan, tetap semangat, tidak cuma di awal,” harap Mini.
Senada dengan itu, Oman berharap kebiasaan baik yang terbentuk selama bulan suci ini bisa terus membekas.
"Kalau bisa, kebiasaan baik di Ramadan ini jangan berhenti (setelah Lebaran). Itu yang paling penting," pungkasnya.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.