Gorontalo Hari Ini
Darurat Sampah Nasional Bergema, Pantai Pohe Gorontalo Terkepung Limbah Kiriman
Destinasi wisata Pantai Pohe, yang seharusnya menjadi wajah estetika daerah, kini justru terkepung tumpukan sampah kiriman
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
- Meskipun Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan status darurat sampah nasional pada Rakornas 2026, destinasi wisata Pantai Pohe (Tangga 2.000) di Gorontalo justru terkepung sampah kiriman
- Warga setempat menegaskan bahwa tumpukan limbah tersebut bukan berasal dari lingkungan sekitar, melainkan sampah kiriman dari wilayah perkotaan yang terbawa aliran sungai menuju muara laut
- Hingga kini belum ada penanganan rutin yang terstruktur dari pemerintah daerah
TRIBUNGORONTALO.COM – Di tengah gema Instruksi Presiden RI Prabowo Subianto yang menetapkan status darurat sampah nasional pada Rakornas 2026, realitas pahit justru tersaji di pesisir Kota Gorontalo.
Destinasi wisata Pantai Pohe kini terkepung tumpukan sampah kiriman yang mencederai citra pariwisata lokal.
Pantai Pohe terletak di Kelurahan Pohe, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Selatan, Kota Gorontalo. Pantai ini menjadi salah satu destinasi wisata populer di daerah tersebut. Lokasinya hanya berjarak sekitar 6 kilometer dari pusat kota sehingga mudah dijangkau wisatawan.
Pantai Pohe memiliki sejumlah daya tarik, di antaranya Tapak Kaki Lahilote, peninggalan sejarah yang diyakini sebagai jejak tokoh legenda Lahilote.
Selain itu, kawasan Wisata Tangga 2.000 juga menjadi ikon yang banyak dikunjungi masyarakat. Pemandangan laut dan matahari terbenam menjadikan pantai ini salah satu spot favorit untuk berfoto dan bersantai.
Namun, kini kondisi memprihatinkan mulai terlihat jelas di kawasan Tangga 2.000, Kelurahan Pohe, Kecamatan Hulonthalangi.
Alih-alih menyuguhkan pemandangan laut yang bersih, garis pantai hingga celah-celah tanggul penahan ombak justru dipenuhi limbah yang merusak pemandangan.
Di belakang rumah warga yang menghadap langsung ke laut, berbagai jenis sampah berserakan secara masif. Mulai dari eceng gondok, plastik kemasan, hingga limbah rumah tangga seperti popok bayi tampak menumpuk akibat terbawa arus ombak.
Warga setempat, Saiful Dalanggo, mengonfirmasi bahwa pemandangan ini telah menjadi "menu harian" bagi mereka.
“Pokoknya eceng gondok, plastik-plastik, popok bayi, semua ada,” ujarnya saat ditemui, Minggu (8/2/2026).
Menurut Saiful, volume sampah ini fluktuatif tergantung pasang surut air laut. Namun, ia menegaskan bahwa sampah tersebut bukan berasal dari warga sekitar, melainkan kiriman dari aliran sungai di wilayah perkotaan yang bermuara ke laut dan akhirnya terdampar di pesisir Pohe.
Baca juga: Sekjen Gerindra Minta Maaf, Pembersihan Atribut di Gorontalo Dikebut
Ironi Minimnya Aksi di Tengah Status Darurat
Meski status darurat sampah telah ditekankan dari tingkat pusat, hingga saat ini belum ada aksi pembersihan yang berkelanjutan di kawasan tersebut.
Warga mengaku terakhir kali melihat gerakan bersih-bersih massal saat aparat TNI turun ke lokasi sekitar tiga bulan lalu.
Minimnya penanganan membuat warga cenderung membiarkan sampah tersebut terbawa arus kembali ke laut secara alami.