UMKM Gorontalo
Kisah Muh Ardiansah, Usaha Kopi Jadi Penopang Kuliah S2 di Gorontalo
Di balik menjamurnya kedai kopi di Kota Gorontalo, terselip kisah inspiratif seorang mahasiswa pascasarjana yang merintis usaha dari nol.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Suasana-kedai-Kopi-Pieceid-di-GB-FIS-UNG-Selasa-2712026.jpg)
“Rata-rata sehari terjual 15 sampai 20 cup. Pernah juga hanya laku dua cup,” ungkapnya jujur.
Berjualan di area kampus juga memiliki tantangan musiman. Saat libur semester, pendapatan otomatis terhenti. Selain itu, ia juga tetap harus memenuhi kewajiban biaya sewa lahan kepada badan usaha UNG.
“Ada biaya sewa lahan untuk penempatan meja dan kursi, sekitar Rp300 ribu per hari,” jelasnya.
Baca juga: Hidup Sebatang Kara, Dona Karim Warga Moodu Gorontalo Kehilangan Rumah Akibat Kebakaran
Makna di Balik Nama 'Piece.id'
Nama Piece.id memiliki filosofi personal bagi Ardiansah. Kata tersebut terinspirasi dari anime favoritnya, One Piece, sekaligus homofon dari kata "peace" yang bermakna ketenangan.
“Saya ambil dari One Piece, tapi kata 'One'-nya saya hilangkan agar lebih ringkas,” katanya.
Meski diadang berbagai tantangan, Ardiansah berharap Piece.id tetap eksis dan menjadi saksi perjuangannya meraih gelar magister.
“Harapannya sederhana, usaha tetap jalan dan kuliah bisa selesai tepat waktu,” harapnya.
Ambar, salah seorang mahasiswi UNG, mengaku sering menghabiskan waktu di Piece.id selepas kuliah. “Sering nongkrong di sini bareng teman sekelas setelah matkul selesai,” katanya.
Menurut Ambar, lokasi yang teduh di bawah pepohonan di belakang GB FIS membuat suasana sangat nyaman untuk berdiskusi atau mengerjakan tugas.
“Kopinya enak dan cocok di lidah. Tempatnya juga sejuk, jadi betah lama-lama di sini,” tutupnya.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)