UMKM Gorontalo
Kisah Muh Ardiansah, Usaha Kopi Jadi Penopang Kuliah S2 di Gorontalo
Di balik menjamurnya kedai kopi di Kota Gorontalo, terselip kisah inspiratif seorang mahasiswa pascasarjana yang merintis usaha dari nol.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Suasana-kedai-Kopi-Pieceid-di-GB-FIS-UNG-Selasa-2712026.jpg)
Ringkasan Berita:
- Muh Ardiansah (23), mahasiswa S2 UNG, mendirikan kedai kopi Piece.id sejak 2024 untuk menopang biaya kuliah
- Ia meracik kopi dengan belajar dari teman, mengumpulkan modal lewat kerja lepas, jasa tugas, dan pengalaman di kedai lain
- Meski persaingan ketat dan pendapatan fluktuatif, Ardiansah tetap berharap Piece.id bisa bertahan sebagai saksi perjuangannya meraih gelar magister
TRIBUNGORONTALO.COM – Di balik menjamurnya kedai kopi di Kota Gorontalo, terselip kisah inspiratif seorang mahasiswa pascasarjana yang merintis usaha dari nol.
Adalah Muh Ardiansah (23), pemilik UMKM Piece.id, yang menjajakan racikannya di lingkungan Universitas Negeri Gorontalo (UNG), tepatnya di belakang Gedung Bersama (GB) Fakultas Ilmu Sosial (FIS).
Pemuda asal Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, ini mengaku mendirikan Piece.id demi menopang biaya kuliah S2 Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) yang tengah ditempuhnya.
“Awal membangun usaha ini memang untuk biaya kuliah, terutama SPP. Daripada sekadar nongkrong, lebih produktif buka kedai sendiri,” ujar Ardiansah saat ditemui, Selasa (27/1/2026).
Berawal dari Belajar pada Teman
Kedai Piece.id mulai beroperasi sejak November 2024. Meski tampil sederhana, kedai ini mencuri perhatian mahasiswa berkat harga yang terjangkau dan suasana yang nyaman.
Menariknya, Ardiansah tidak memiliki latar belakang barista sejak dini. Ketertarikannya pada dunia kopi justru baru tumbuh saat ia berkuliah. Ia belajar meracik kopi secara otodidak dari rekan-rekannya yang lebih dulu terjun ke bisnis tersebut.
“Saya belajar dari teman, salah satunya di Kedai Roastopoeia. Dari situ pelan-pelan belajar sambil mengumpulkan modal,” tuturnya.
Modal usaha tersebut ia kumpulkan dari berbagai sumber, mulai dari kerja lepas (freelance), jasa pengerjaan tugas, hingga upah bekerja di kedai kopi lain.
Untuk operasional di kampus UNG, Piece.id buka setiap Senin hingga Jumat mulai pukul 09.00 WITA. Jika kondisi ramai, kedai bisa melayani hingga pukul 22.00 Wita, namun jika sepi biasanya tutup pada pukul 19.00 WITA.
Tak hanya di kampus, pada malam Kamis dan malam Minggu, Ardiansah melebarkan sayap dengan berjualan di kawasan Jalan eks Panjaitan, tepatnya di depan dealer Kawasaki.
Menu yang ditawarkan didominasi oleh basic coffee dengan rentang harga Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per gelas. Bagi pelanggan yang tidak mengonsumsi kafein, menu cokelat dan varian lainnya tetap tersedia.
“Menu best seller kami itu butterscotch, tapi minuman cokelat juga banyak peminatnya,” tambahnya.
Ardiansah tak menampik bahwa persaingan bisnis kopi saat ini semakin ketat. Jika pada awal pembukaan omzetnya bisa mencapai 70 persen, kini stabil di kisaran 40 persen.
“Rata-rata sehari terjual 15 sampai 20 cup. Pernah juga hanya laku dua cup,” ungkapnya jujur.
Berjualan di area kampus juga memiliki tantangan musiman. Saat libur semester, pendapatan otomatis terhenti. Selain itu, ia juga tetap harus memenuhi kewajiban biaya sewa lahan kepada badan usaha UNG.
“Ada biaya sewa lahan untuk penempatan meja dan kursi, sekitar Rp300 ribu per hari,” jelasnya.
Baca juga: Hidup Sebatang Kara, Dona Karim Warga Moodu Gorontalo Kehilangan Rumah Akibat Kebakaran
Makna di Balik Nama 'Piece.id'
Nama Piece.id memiliki filosofi personal bagi Ardiansah. Kata tersebut terinspirasi dari anime favoritnya, One Piece, sekaligus homofon dari kata "peace" yang bermakna ketenangan.
“Saya ambil dari One Piece, tapi kata 'One'-nya saya hilangkan agar lebih ringkas,” katanya.
Meski diadang berbagai tantangan, Ardiansah berharap Piece.id tetap eksis dan menjadi saksi perjuangannya meraih gelar magister.
“Harapannya sederhana, usaha tetap jalan dan kuliah bisa selesai tepat waktu,” harapnya.
Ambar, salah seorang mahasiswi UNG, mengaku sering menghabiskan waktu di Piece.id selepas kuliah. “Sering nongkrong di sini bareng teman sekelas setelah matkul selesai,” katanya.
Menurut Ambar, lokasi yang teduh di bawah pepohonan di belakang GB FIS membuat suasana sangat nyaman untuk berdiskusi atau mengerjakan tugas.
“Kopinya enak dan cocok di lidah. Tempatnya juga sejuk, jadi betah lama-lama di sini,” tutupnya.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.