Senin, 30 Maret 2026

Human Interest Story

Sosok Rusni Yunus Bilaleya, Ibu Penjual Kopi Gorontalo Sekolahkan Anak hingga Jadi TNI

Di tengah sepinya Pasar Dungingi, Kota Gorontalo, masih ada secercah kehidupan yang bertahan di antara lapak-lapak kosong.

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Sosok Rusni Yunus Bilaleya, Ibu Penjual Kopi Gorontalo Sekolahkan Anak hingga Jadi TNI
TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu
KISAH INSPIRATIF -- Rusni Yunus Bilaleya, penjual kopi asal Desa Lamahu, Bone Bolango, tetap setia berjualan di Pasar Dungingi, Kota Gorontalo, Jumat (31/10/2025). Dari usaha kopi yang digelutinya sejak 2017, ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga menjadi prajurit TNI 
Ringkasan Berita:
  • Rusni Yunus Bilaleya, penjual kopi asal Desa Lamahu
  • Rusni menghasilkan pendapatan kotor hingga Rp1 juta per hari
  • Rusni berhasil menyekolahkan anaknya hingga lulus pendidikan Tamtama TNI

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Di tengah sepinya Pasar Dungingi, Kota Gorontalo, masih ada secercah kehidupan yang bertahan di antara lapak-lapak kosong.

Setiap Jumat, aroma kopi hitam hangat tercium samar dari sudut pasar. 

Sumbernya adalah lapak sederhana milik Rusni Yunus Bilaleya, perempuan tangguh asal Desa Lamahu, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango.

Dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya, Rusni sabar menanti pembeli. Di atas rak kayu miliknya, terjejer tiga pilihan kopi hitam dalam kantong besar, lengkap dengan ukuran liter sebagai penanda harga.

Dari sinilah perjuangan seorang ibu dimulai—perjuangan yang membuahkan kebanggaan terbesar dalam hidupnya.

“Sudah sekitar sembilan tahun saya jualan, mulai tahun 2017,” ujar Rusni membuka cerita.

Usaha kopi ini bukan sekadar pekerjaan baginya, melainkan warisan kehidupan. Setiap hari, Rusni berpindah dari satu pasar ke pasar lain, mengikuti jadwal keramaian pasar rakyat di Gorontalo dan Bone Bolango.

Di beberapa pasar besar, ia selalu membawa mesin penggiling kopi.

“Kalau di pasar Tapa atau Andalas yang memang ramai, saya pasti bawa mesinnya,” bebernya.

Namun di Pasar Dungingi, yang kini ‘mati suri’, Rusni hanya menjual kopi siap saji untuk pelanggan tetap.

“Saya pernah bawa mesinnya, tapi di sini sedikit yang beli, jadi saya bawa yang sudah jadi saja,” tuturnya.

Kopi yang dijual Rusni pun beragam, hasil racikan khas yang ia dapatkan dari Palu, Sulawesi Tengah.

“Macam-macam, Pak. Ada yang rasa jagung, jahe, kayu manis, ada juga yang murni,” imbuhnya.

Perjuangan Rusni tidak ia jalani sendirian. Sang suami selalu setia membantu, terutama dalam proses penggilingan kopi, dan kerap mengantar atau menjemputnya.

“Suami juga yang giling kopi kalau di rumah,” katanya.

Meski lapak dan perlengkapannya sederhana, hasil dari jualan kopi Rusni mampu mengubah hidup keluarganya.

Di beberapa pasar besar, pendapatan kotor yang ia peroleh bisa mencapai angka yang membuat banyak orang tercengang.

“Hasil penjualan kopi bisa sampai Rp800 ribu hingga Rp1 juta per hari di pasar-pasar yang ramai,” ungkapnya.

Meski itu angka kotor, keuntungan bersihnya pun cukup menjanjikan. Namun, kebanggaan terbesar bagi Rusni bukanlah soal uang, melainkan buah dari ketekunan dan doa yang akhirnya terjawab.

Baca juga: Cerita Alya Marwa Kobandaha, Mahasiswi Gorontalo Juara Lomba Cerpen Nasional Berawal dari Iseng

Dari hasil jualan kopi inilah, ia berhasil menyekolahkan anaknya hingga lolos pendidikan Tamtama TNI.

“Berkat kopi, anak saya jadi tentara,” ucapnya penuh haru.

Anak keduanya kini bertugas di Papua, sementara anak pertamanya bekerja di kantor desa di Bulango Selatan.

Meski berjauhan, Rusni tetap menjaga komunikasi dengan anak-anaknya, sembari terus menggiling kopi dan menjaga warisan racikannya.

 

(TribunGorontalo.com/ Herjianto Tangahu)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved