Minggu, 22 Maret 2026

Lipsus Penyakit Ditanggung BPJS

Kasus Hipertensi di Gorontalo Tinggi! Ternyata Ini Kebiasaan Sehari-hari Warga yang Jadi Pemicu

Warga menilai, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dan gaya hidup tidak teratur menjadi penyebab utama meningkatnya tekanan darah tinggi

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Prailla Libriana Karauwan
zoom-inlihat foto Kasus Hipertensi di Gorontalo Tinggi! Ternyata Ini Kebiasaan Sehari-hari Warga yang Jadi Pemicu
TribunGorontalo.com
TANGGAPAN WARGA -- Tanggapan sejumlah warga Gorontalo soal Hipertensi, Rabu (15/102/2025). Mereka menilai, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dan gaya hidup tidak teratur menjadi penyebab utama meningkatnya tekanan darah tinggi di daerah itu. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Ungkapan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Gorontalo soal tingginya kasus hipertensi mendapat tanggapan serius dari warga di sejumlah wilayah di Kota Gorontalo.

Hipertensi adalah sebuah keadaan di mana tekanan darah manusia melewati angka normalnya yakni 120/80 mmHg.

Mereka menilai, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dan gaya hidup tidak teratur menjadi penyebab utama meningkatnya tekanan darah tinggi di daerah itu.

Pantauan Tribun Gorontalo, Rabu (15/10/2025), banyak warga mengaku jarang memperhatikan pola makan karena kesibukan masing-masing.

Rahmat (32), salah satupekerja yang kesehariannya di jalan mengaku sering makan di warung cepat saji karena terbatas waktu.

"Paling gampang beli makanan cepat saji. Cepat, murah, tinggal makan,” ujarnya.

Rahmat merupakan seorang ojek online yang kesehariannya melayani penumpang untuk antar maupun jemput.

Sehingga, untuk makan saja ia harus menyempatkan diri di sela-sela kesibukannya.

“Kadang pagi cuma kopi dan roti, siang makan mie goreng atau ayam tepung. Kalau malam baru makan nasi, itu pun di luar rumah,” kata warga Kelurahan Limba B, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo.

Hal ini sudah berlangsung lama dan akhirnya saat ini dia kadang merasakan pusing.

Baca juga: Naik Drastis Harga Emas Hari Ini Kamis 16 Oktober 2025: Antam, UBS hingga Galeri24 Meroket

Kata Rahmat, tak hanya dirinya sendiri yang merasakan hal itu, banyak teman sesama ojol yang merasakan.

“Teman-teman juga begitu, kerja kejar order. Jarang ada waktu masak sendiri. Tapi kalau begini terus, kita bisa sakit,” ucapnya.

Idrus Mokoagow (45) yang juga warga Kota Gorontalo menilai adanya perubahan pola makan masyarakat yang turut memengaruhi timbulnya penyakit hipertensi.

Kata sopir becak motor (Bentor) ini makanan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat kini sudah beralih.

“Sekarang orang lebih suka makanan instan. Dulu kita biasa makan ikan bakar, sayur, sama rica-rica dari dapur sendiri,” ujarnya.

Akibatnya, warga asal Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo ini sering mengalami keluhan tekanan darah tinggi.

Tak hanya Idris, namun temannya juga yang lain merasakan hal yang sama.

Lebih mirisnya kata Idris, bahkan teman-temannya yang masih remaja sering mengeluh pusing.

“Banyak teman-teman sudah sering pusing, kalau diperiksa katanya darah tinggi. Padahal umur belum tua-tua amat,” katanya.

Sebagai seorang pekerja lapangan yang kesehariannya di luar rumah ini, Idris hanya bisa berharap adanya pemeriksaan kesehatan keliling untuk mereka.

Agar mereka pun bisa memantau kesehatan tanpa harus ke fasilitas kesehatan.

Baca juga: Benarkah November 2025 Ada Rapel Gaji Pensiunan PNS? Ini Klarifikasi Resmi dari Taspen

"Saya dan teman-teman jarang memeriksa kesehatan karena bekerja setiap hari, pergi pagi pulang malam, jadi tidak ada waktu, kalau Dinkes mau bantu, Alhamduliiah,” tambahnya.

Tak hanya pekerja, mahasiswa juga mulai banyak penderita hipertensi meskipun tidak sebanyak dengan pekerja.

Pola makan mahasiswa pun hampir sama dengan pekerja yang lebih memilih makanan cepat saji.

Hal itu karena mudah cara pemesanannya hingga banyaknya promo-promo yang diberikan jika dipesan melalui online.

“Mahasiswa banyak makan junk food karena gampang. Ada promo di aplikasi, tinggal pesan, datang sendiri,” ujar Nabila Yusuf (21), mahasiswa asal Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo.

Nabila mengaku hal itu sudah menjadi kebiasaan di kalangan anak muda terutama mahasiswa.

“Banyak teman suka minum kopi manis dan cemilan asin tiap malam. Kalau stres belajar, malah makin sering jajan,” katanya.

Nabila berharap kampus dan pemerintah ikut aktif memberikan edukasi soal bahaya hipertensi.

“Kalau bisa ada sosialisasi di kampus. Supaya anak muda sadar kalau hipertensi bukan cuma penyakit orang tua,” ujarnya.

Baca juga: Setelah MBG, Kini Kementerian Ini Jadi Target Pemotongan Anggaran Selanjutnya, Ini Alasannya

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo mencatat hasil screening hipertensi mencapai 82,22 persen berdasarkan data aplikasi ASIK per 28 Agustus 2025.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Provinsi Gorontalo, dr. Jeane Dalie, menyebut tingginya angka hipertensi tak hanya disebabkan metode pemeriksaan, tapi juga gaya hidup masyarakat yang tinggi garam dan lemak.

Dinkes kini terus menggencarkan program pengendalian hipertensi, termasuk memperluas cakupan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan fungsi ginjal di seluruh puskesmas se-Gorontalo.

“Kami harap masyarakat bisa sadar untuk periksa rutin dan mengurangi makanan cepat saji,” ujar Jeane. (*)

 

 

(TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved