Lipsus Damkar
Cerita Petugas Damkar Kota Gorontalo: Pengabdian Tanpa Batas meski Nyawa Jadi Taruhan
Agung Tess (35) dan Lukman Sako (24), dua petugas pemadam api yang sama-sama mendedikasikan diri di bawah tekanan waktu dan bahaya.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Agung-Tess-dan-Lukman-Sako.jpg)
Meski baru, Lukman sudah menunjukkan ketangguhan di lapangan. Ia memahami betul bahwa tugas pemadam bukan hanya soal memadamkan api, tetapi juga menolong dan menenangkan warga yang panik.
“Kadang di lokasi, kita bukan cuma lawan api, tapi juga bantu warga yang ketakutan,” katanya.
Lukman yang kini sudah berkeluarga mengaku istrinya memahami risiko pekerjaannya.
“Dia tahu ini pekerjaan berisiko, tapi selalu mendukung,” ujarnya.
Baik Agung maupun Lukman sama-sama menegaskan bahwa tugas di pemadam kebakaran bukan hanya soal keberanian, tetapi juga soal hati.
Mereka siap siaga setiap saat, bahkan di tengah malam sekalipun, tanpa tahu kapan bisa beristirahat.
“Setiap panggilan adalah tanggung jawab. Kalau warga butuh bantuan, kami tidak bisa menunda,” kata keduanya hampir serentak.
Keduanya menjadi contoh nyata bagaimana pengabdian tidak mengenal usia.
Agung dengan pengalaman panjangnya, dan Lukman dengan semangat mudanya, sama-sama mewakili wajah para petugas damkar Gorontalo.
Mereka berpenampilan sederhana, disiplin, dan siap mempertaruhkan nyawa demi keselamatan orang lain.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)